Category: Melankolia


Senin, 2 Mei 2011

Kutulis jurnal ini pada petang di hari Senin. Dalam keadaan sakit. Dalam guyuran hujan besar di luar. Dalam ketiadaan lampu dan jaringan. Jangan salah sangka dulu, di desa ku sudah masuk PLN dan jaringan Telkomsel ada di tempat-tempat tertentu. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini listrik sering sekali padam. Kalau kata ibuku, byar-pet. Nyala tapi tak lama kemudian mati lagi. Seperti itu untuk beberapa saat, sampai sekarang mati dan belum menyala lagi. Mungkin ketiadaan listrik dapat aku tolerir. Tapi ketiadaan jaringan bisa membuatku gila. Walaupun di sini banyak orang, aku tidak bisa tidak berhubungan dengan orang-orang dunia luar selain di sini. Terkungkung dari informasi entah apa yang terjadi pada keluarga dan teman-temanku di luar sana. Keluargaku sedang pergi semua ke kebun dari kemarin. Mereka bermalam karena banyak padi yang harus dipanen. Jadilah aku sendirian di rumah. Benar-benar saat ini aku tak ingin ada di sini.

Terdengar sangat manja ya? Aku tahu. Tak bisa kupungkiri aku memang sangat amat manja. Anak kota yang biasa hidup enak, gampang mengeluh mendapati keadaan yang tak ideal. Aku sadar, ini adalah titik jenuh dari kurva perjalananku di sini.

Aku memasuki bulan keenam di daerah perantauanku ini. Dulu, saat bulan-bulan awal, semua terasa begitu menantang dan menarik untuk diceritakan. Setiap hari aku tak pernah absen menulis jurnal dan selalu menantikan akhir minggu untuk post blog di internet. Sekarang, semua telah menjadi rutinitas. Aku tak lagi merasakan gairah berpetualang itu. Dan aku dapat melihatnya juga pada diri teman-temanku di sini.

Aku kira aku tak akan pernah merasa bosan dengan pekerjaanku di sini. Semuanya begitu dinamis dan tidak monoton. Tapi pada akhirnya, aku hanya manusia biasa. Semoga saja ini hanya sementara. Semoga secepatnya, aku kembali bersemangat menjalani sisa enam bulanku di sini.

Itu mamak dan bapak pulang. Hujan-hujan begini, aku akan bantu mamak menggoreng pisang. Semoga hangatnya pisang goreng dan teh manis panas dapat sedikit menghangatkanku yang sedang galau ini.

Advertisements

Hari ini, ketika sinyal GPRS dengan baik hatinya mampir ke handphone-ku, aku membuka timeline di Twitter. Ternyata hari ini ada suatu kehebohan, Indonesia Mengajar masuk Kompas. Bahkan menjadi headline!! Wow.. Bukan sekali ini saja Gerakan Indonesia Mengajar masuk media. Sungguh aku tidak pernah bermimpi dapat masuk koran. Karena orang-orang yang masuk koran kan adalah orang hebat, kan?

Setelah akhirnya membaca Kompas online, aku pun terkesima dengan kisah-kisah teman-temanku di sini. Jujur, walaupun sudah sering ngobrol, bercanda, bertingkah gila-gilaan, tapi aku masih saja terharu kalau mendengar cerita-cerita mereka di sini, atau tentang alasan-alasan mereka ikut program ini..

Tapi, harus diakui, tulisan-tulisan di media itu sungguh melebih-lebihkan diri kami. Apalagi aku ya. Mungkin teman-temanku memang sebegitu hebatnya. Tapi kami tidak ingin diekspos seperti itu. Terlalu silau. Kami manusia biasa, sungguh. Aku malu sendiri bacanya. Karena yang sebenarnya tidak seperti itu.

Kami hanya sekelompok anak muda yang sedang bertualang. Dan kebetulan kami bertugas untuk mengajar di daerah-daerah yang bukan kota. hehe..

Inti dari tulisan ini adalah, hanya sedikit curahan hati. Kami, aku, bukan manusia super. Manusia super bisa segalanya. Sedang kami hanya bisa memberikan sedikit dari apa yang kami punya.

Nov 6th 2010,

2:27 am, Ciawi, dikala mellow

Lagu Padamu Negeri sering sekali aku nyanyikan. Dan sering kali pula aku menyanyikannya hanya sepintas saja. Bahkan mungkin dengan lirik yang tertukar-tukar. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Beberapa hari yang lalu aku dan rekan-rekan Pengajar Muda menjalani pelatihan survival di Gunung Bundar bersama Rindam Jaya. Kami tinggal di tenda. Makan seadanya, bahkan kami makan daun layaknya kambing, tidak ada toilet dan tidur beralaskan jerami berlangit terpal. (cerita lengkap tentang pelatihan survival yang seru ini akan ada di postingan lainnya :p)

Di akhir pelatihan, kami satu persatu mencari jalan keluar dari hutan tempat kami berkemah menuju acara upacara penutupan. Disana, telah menunggu Bapak Anies Baswedan selaku pendiri Yayasan Indonesia Mengajar ini , beserta panitia-panitia Indonesia Mengajar lainnya yang telah menanti kami dengan muka berseri-seri. Mereka memberikan sertifikat tanda bahwa Pengajar Muda telah menyelesaikan masa pelatihannya. Diiringi dengan ucapan selamat karena telah berhasil menjalani pelatihan survival yang dapat dibilang cukup menantang.

Setelah semua Pengajar Muda berkumpul, kami pun melaksanakan upacara penutupan. Di akhir upacara kami bersama-sama menyanyikan lagu Padamu Negeri. Entah kenapa, waktu seakan melambat ketika lagu ini kami nyanyikan..

Padamu Negeri.. Kami berjanji…

Iya.. Bangsa Indonesia memiliki empat janji kemerdekaan yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah Mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan Indonesia Mengajar salah satunya adalah memenuhi janji itu. Bisakah kami? Bisakah aku?

Padamu Negeri kami berbakti..

Baru kali ini lirik-lirik dari tiap barisnya meresapiku. Bakti. Bakti apa ? Mampukah kami memberikan bakti itu? Mampukah aku?

Padamu Negeri kami mengabdi..

Pengabdian.. Terdengar utopis.. Akan berhasilkah kami mewujudkan utopia tersebut? Berhasilkah aku?

Bagimu Negeri jiwa raga kami..

Bagian dari syair lagu yang amat berat implementasinya..

Bisakah aku, seorang Pengajar Muda, seorang Arrum, dengan segala keterbatasan dalam diri dan segala ekspektasi dari luar, mengemban itu semua?

Well, I can..

I have to..

At least.. I have to try..

 

Or if you dont mind.. Would you try it with me?

Letter to a friend

Bimillahirrahmanirrahim..

To my Pal,

After we’ve experienced our more-than-4 years journey together, now the time has come for us to continue our life separately.

But I believe it’s not the end.

I believe it’s a beginning of something bigger.

So let’s grow up together.

Let us be the best that we can be.

Let us live our life to the fullest.

Til we meet again pal, soon! Cheers 🙂

Semua orang punya cara sendiri untuk menjadi besar.

Semua orang punya cara sendiri untuk membangun Indonesia.

Aku bawakan Garuda, lambang negara kita,tempat kita mengabdi sesungguhnya.


Arr

Kalung Garuda

To remind him his true identity walaupun lagi singgah di negeri orang..

Yes.. This letter is dedicated to my best pal, Agung Hikmat, yang akan menjalani petualangannya di Malaysia. Saat ini kami akan menempuh perjalanan yang sangat berbeda. Dan mungkin kami tidak akan bertemu untuk beberapa waktu yang lama.

Oh, dia juga berpesan (dan tolong sekalian publish di blog :D) :

“Rum, write your and your nation’s future”. And so I will. All of us will. Insyaallah. Amin.