Category: Food for thought


Jumat, 3 Juni 2011

Hari ini masih hari libur, pemerintah menetapkan hari ini sebagai cuti bersama. Sepulangku dari les siang tadi, aku membantu mamak memasak di dapur. Dulu pada awalnya, aku hanya diizinkan membantu sedikit. Alasannya tidak usahlah, nanti merepotkanlah, bu guru tidak biasalah, dan lain-lain. Tapi aku sekarang sudah lumayan kok bisa membantu mamak memasak. Aku bisa memotong dan mengiris dengan cukup baik. Aku bisa menggoreng dengan lumayan, yaah minimal bakwan bisalah. Aku bisa makellu anjoro atau memarut kelapa dengan alat khusus tradisional Mandar. Setelah itu aku bisa membuat santannya. Aku bisa mencuci piring dengan peralatan yang seadanya di sini. Satu hal yang aku sangat penasaran untuk bisa adalah menumbuk padi.

Menumbuk padi ini ternyata tidak semudah kelihatannya. Tongkat penumbuk yang lumayan besar dan berat itu, harus tepat mengenai lubang di dalam lisung padinya. Kalau tidak, padi di dalam akan berhamburan keluar. Aku sudah beberapa kali mencoba, tapi masih belum bisa juga. Dengan sekuat tenaga kuayunkan penumbuk padi ke tengah lisung. Tapi meleset. Pyaaar, padi-padi berhamburan ke tanah jadi makanan ayam. Heuh..

Sebenarnya aku tidak berputus asa, asal aku diberikan kesempatan untuk belajar. Dan orang-orang membiarkanku belajar. Masalahnya, memang keberadaanku sendiri saja sudah cukup aneh dan menarik perhatian di sini, apalagi kalau aku mencoba hal-hal baru. Misal, waktu aku ikut main voli dengan ramaja setempat saja, wuih ramainyaaa yang nonton. Ada yang memberi semangat, lebih banyak lagi yang tertawa. Well, beside volley is just not my thing. Begitu juga dengan menumbuk padi.

Karena  tahu aku memang tidak bisa menumpuk padi, aku mencoba membantu di tempat lain. Matapi pari. Atau memisahkan padi dari gabah menggunakan tempayan. Itu loh, gabah disimpan di atas tempayan lalu dilempar-lempar untuk memisahkan padi dari kulitnya. Pada awalnya orang-orang menertawaiku. Tapi ternyata matapi tidak terlalu susah. Aku bisa membersihkan padi sendiri.

Di sebelah sana, adik-adikku sedang menumbuk padi. Hmm, mumpung di jalan tidak terlalu ramai, aku ingin mencoba lagi. Siapa tahu sekarang ada peningkatan. Tapi ternyata tidak juga, padinya masih berhamburan keluar lisung. Ah, aku sebenarnya masa bodoh, namanya belajar kan pasti ada proses, pikirku. Tapiiiiii, kenapa tekanan lingkungan ini sangat membuat mental jadi ciut ya. Mamak, adik-adik dan tetangga bukannya membiarkan aku belajar malahan bilang,”Tidak usah lah bu guru, nanti tangannya jadi kasar”, “Tidak usah lah bu guru, pelajari yang ringan-ringan saja”, dan sebagainya.

Aku jadi malas rasanya untuk terus ada di sana dan belajar.

Mungkin hal ini bisa dianalogikan dengan cara belajar siswa ya? Seriiiing sekali ada murid yang ndableg, susah sekali pelajaran masuk ke otaknya. Tapi hati-hati, sekalinya kita bilang, “Bodoh kamu”, atau “Kamu tidak akan bisa”, maka itulah yang akan masuk ke dalam pikiran mereka.

Advertisements

Senin, 30 May 2011

Hari ini adalah H-7 ulangan umum kenaikan kelas. Minggu ini aku berencana mengulang lagi pelajaran dari awal semester sampai pada akhir semester 2. Satu hari satu pelajaran. Dan hari ini kami belajar PKn.

Sebelum mulai belajar, aku teringat tentang konferensi rembuk pendidikan yang baru saja kuhadiri akhir pekan lalu. Dari berbagai macam permasalahan di bidang pendidikan, setelah diteliti, ternyata akar permasalahan adalah ketidakmampuan guru untuk memahami dan menyampaikan esensi dari pendidikan itu sendiri. Pratik yang sering terjadi hanyalah upaya untuk menggugurkan kewajiban dari seorang guru pada murid, dengan cara memindahkan pengetahuan dari buku mentah-mentah ke dalam benak murid. Tanpa murid tersebut mengerti, untuk apa saya belajar? Untuk apa saya sekolah? Kemarin sempat terlontar juga, yang menjadi suatu perdebatan di Komisi 2, apa sih pentingnya anak melanjutkan sekolah dari SD ke SMP? Waduh, kenapa ya..

Jadi, pagi ini sebelum aku memulai pelajaran, aku tergelitik untuk melemparkan pertanyaan ini pada murid-muridku. “Kenapa kalian harus sekolah?”. Jawaban-jawaban awal yang kudengar masih klise. Untuk menuntut ilmu, Bu”, kata mereka. “Supaya baik!”. Tiba-tiba terdengar suara keras Harjo di sebelah kiri. Ini dia jawaban yang aku harapkan. Mendengar jawaban itu terlontar dari Harjo, anak paling nakal di kelas, rasanya lucu juga. But anyway, ternyata mereka sudah tahu kalau sekolah itu bukan hanya ajang untuk mencerdaskan diri secara kognitif. Di balik semua itu, sekolah adalah tempat pembentukan karakter untuk menjadi manusia dengan budi pekerti yang baik. Aku senang sekali ada dari mereka yang menjawab seperti itu.

“Selain itu ada yang punya jawaban yang lain?”. Kemudian mereka kembali lagi ribut meneriakkan jawabannya masing-masing. “Supaya pintar, Bu!”. “Kenapa memangnya kalian harus pintar?”, tanyaku lagi. “Supaya bisa mencapai cita-cita Bu!”. “Bukannya kalian punya kebun? Tanpa sekolahpun bisa kan dapat uang dari sana?”. Ternyata, cita-cita mereka bukan hanya sekedar menjadi penjaga kebun. Cita-cita mereka bermacam-macam. Dan mereka berpikir untuk mencapainya mereka harus sekolah.

Cita-cita itu menurutku adalah bentuk dari pilihan. Menurutku, mereka harus sekolah untuk membuka pilihan dan kesempatan untuk masa depan mereka. Jika memang mereka berkeinginan menikah lalu jadi petani kebun tak masalah, asal itu adalah pilihan mereka. Bukannya terpaksa harus seperti itu.

Aku bangga dengan murid-muridku pagi ini. Mereka sudah bisa membedakan nilai manusia yang tedidik dan yang tidak. Dan menentukan mereka ingin menjadi yang mana. Pagi ini aku melihat semangat mereka untuk terus mengenyam pendidikan.

Jika boleh, aku minta tolong pada siapapun yang membaca tulisan ini, bantu aku mendoakan mereka agar generasi penerus bangsa ini dapat terus bersekolah, menjadi orang yang terdidik, dan dapat menjadi tiang bangsa yang kokoh. Amin Yarabbal ‘alamin..

Pada tanggal 27 -29 Mei 2011 yang lalu, tim Indonesia Mengajar Majene mendapat kehormatan untuk mengikuti acara Rembuk Pendidikan Sulawesi Barat. Output dari pertemuan ini luar biasa, yaitu membuat sinkronisasi dan grand design pendidikan dalam rangka MDG (Millenium Develompent Goals) pada tahun 2015.

Kami mendapat undangan dari Ketua Dinas Pendidikan Provinsi Sulbar. Dalam undangannya, beliau sangat berharap Indonesia Mengajar dapat memberikan kontribusi berupa sumbang saran dan pemikiran dalam setiap sidang yang diadakan. Jadi, berbekal harapan beliau kami mengikut kegiatan ini.

Kegiatan rembuk pendidikan ini baru pertama kali diadakan di Sulbar. Sebagai provinsi termuda di Indonesia, tentu Sulbar tidak ingin terus tertinggal dari saudara-saudara provinsi yang lain untuk berkembang, terutama di bidang pendidikannya. Menurutku, kegiatan ini memiliki niat dan tujuan yang sangat baik.

Jumat malam, acara resmi dibuka. Di sana, dipaparkan tujuan dan harapan-harapan yang ingin diwujudkan dalam kegiatan ini. Semua peserta tampak antusias. Awal yang bagus, pikirku.

Kegiatan pertama di Sabtu pagi adalah seminar, yang terdiri dari tiga topik dengan tiga narasumber. Di antaranya adalah, Manajemen Pendidikan oleh rektor Universitas Negeri Makassar, Studi Anak di Luar Sekolah oleh UNICEF dan sekilas tentang keuangan oleh BPK. Well, sesi pertama ini cukup bagus untuk memperkaya wawasan kami dalam bidang pendidikan. Diharapkan juga, sesi pertama ini dapat menjadi masukan bagi kami untuk mengikuti sidang komisi.

Setelah sesi pertama ini, tim kami dibagi ke dalam empat sidang komisi. Komisi 1 bertugas mengurusi PAUDNI (Pendidikan Anak Usia Dini dan Non Informal), Komisi 2 untuk Dikdas (Pendidikan Dasar), Komisi 3 untuk Dikmen (Pendidikan Menengah), dan Komisi 4 bertugas membahas Data dan Kebijakan Pendidikan. Aku berada di Komisi 4 bersama kedua Pengajar Muda lainnya.

Dalam sidang ini, dibahas beberapa arahan yang merupakan isu sentral pendidikan dalam kaitannya dengan data dan kebijakan. Di antaranya adalah :

  1. IPM (Indeks Pembangunan Masyarakat)
  2. Madrasah
  3. Akurasi dan updating data
  4. Sertifikasi pendidik
  5. Pemerataan guru
  6. Sekolah terpencil dan kebijakan SATAP (Satu Atap)
  7. Koordinasi Kabupaten dan Provinsi

Pada sidang pertama, setiap perwakilan dari 5 kabupaten memaparkan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, permasalahan, serta good practice-nya. Di sini tampak setiap kabupaten memiliki concern-nya masing-masing, sampai pada akhir sesi, belum juga dirumuskan apa permasalahan-permasalahan dasar yang menjadi isu bersama satu provinsi.

Di sesi kedua, agendanya adalah identifikasi solusi dan keberlanjutan good practice. Namun sayangnya, sekali lagi tiap stakeholder merasa permasalahan yang dihadapi berbeda-beda, dengan ide solusi yang berbeda pula. Jalan sidang mulai tidak fokus, karena setiap kepala punya suaranya sendiri.

Di sesi ketiga, agendanya adalah review rencana kerja 2012. Well, sesuai dugaan, dengan input yang tidak terstruktur dari sesi sebelumnya, aku sudah bisa membayangkan sesi ketiga ini akan seperti apa jadinya. Seringkali perdebatan yang terjadi adalah debat kusir. Kasihan sekali moderator. Di sesi ini, tim Indonesia Mengajar mencoba merumuskan akar permasalahan berdasarkan input yang telah kami dengarkan dari sesi pertama. Tidak hanya itu, Fauzan juga mencoba membuat perumusan secara scientific dengan menggunakan metode-metode seperti 5 Why, Balance Score Card dan Strategic Map. Namun sayang sekali, mungkin karena perdebatan seru berlangsung, atau mungkin karena kami hanya segelintir anak ingusan yang dianggap tidak mengerti, kami tidak diberi hak bicara.

Pada sesi terakhir, agendanya adalah penyusunan visi Sulbar 2025. Penyusunan visi ini menurutku adalah pekerjaan yang tidak mudah. Yang tidak mungkin selesai hanya dalam waktu 1,5 jam. Tapi ajaib, para peserta bisa tuh, membuat visi Sulbar 2025 dalam waktu 1,5 jam tersebut. Rahasianya? Sebut saja angka berapa yang kalian suka. Contohnya, pada tahun 2025, angka UN harus 7,5. (Haha, tahun lalu saja masih di tahap 2,5). Atau, peringkat IPM Sulbar pada tahun 2025 mencapai peringkat ke-15. Atau, presentase kelulusan harus 99,9%. Tidak ada data pendukung sebagai input pengambilan keputusan.

Acara seperti ini memang baru pertama kali dilaksanakan di Sulbar. Aku tahu aku tidak pintar, aku tidak lebih tahu dari para pemangku kepentingan di provinsi ini. Tapi aku sadar kita semua masih harus sama-sama belajar.

Kegiatan ini dilaksanakan di sebuah hotel terbagus di Mamuju, ibu kota Sulawesi Barat. Fasilitasnya lengkap. Dengan ballroom super mewah, dan aula-aula yang dipakai untuk keempat sidang komisi, kamar-kamar mewah dengan pemandangan ke Laut Sulawesi, tak lupa makanan-makanan super enak yang kami nikmati lima kali sehari. Dengan jumlah peserta sekitar 150 undangan, bisa bayangkan berapa biaya yang dikeluarkan?

Senin, 2 Mei 2011

Kutulis jurnal ini pada petang di hari Senin. Dalam keadaan sakit. Dalam guyuran hujan besar di luar. Dalam ketiadaan lampu dan jaringan. Jangan salah sangka dulu, di desa ku sudah masuk PLN dan jaringan Telkomsel ada di tempat-tempat tertentu. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini listrik sering sekali padam. Kalau kata ibuku, byar-pet. Nyala tapi tak lama kemudian mati lagi. Seperti itu untuk beberapa saat, sampai sekarang mati dan belum menyala lagi. Mungkin ketiadaan listrik dapat aku tolerir. Tapi ketiadaan jaringan bisa membuatku gila. Walaupun di sini banyak orang, aku tidak bisa tidak berhubungan dengan orang-orang dunia luar selain di sini. Terkungkung dari informasi entah apa yang terjadi pada keluarga dan teman-temanku di luar sana. Keluargaku sedang pergi semua ke kebun dari kemarin. Mereka bermalam karena banyak padi yang harus dipanen. Jadilah aku sendirian di rumah. Benar-benar saat ini aku tak ingin ada di sini.

Terdengar sangat manja ya? Aku tahu. Tak bisa kupungkiri aku memang sangat amat manja. Anak kota yang biasa hidup enak, gampang mengeluh mendapati keadaan yang tak ideal. Aku sadar, ini adalah titik jenuh dari kurva perjalananku di sini.

Aku memasuki bulan keenam di daerah perantauanku ini. Dulu, saat bulan-bulan awal, semua terasa begitu menantang dan menarik untuk diceritakan. Setiap hari aku tak pernah absen menulis jurnal dan selalu menantikan akhir minggu untuk post blog di internet. Sekarang, semua telah menjadi rutinitas. Aku tak lagi merasakan gairah berpetualang itu. Dan aku dapat melihatnya juga pada diri teman-temanku di sini.

Aku kira aku tak akan pernah merasa bosan dengan pekerjaanku di sini. Semuanya begitu dinamis dan tidak monoton. Tapi pada akhirnya, aku hanya manusia biasa. Semoga saja ini hanya sementara. Semoga secepatnya, aku kembali bersemangat menjalani sisa enam bulanku di sini.

Itu mamak dan bapak pulang. Hujan-hujan begini, aku akan bantu mamak menggoreng pisang. Semoga hangatnya pisang goreng dan teh manis panas dapat sedikit menghangatkanku yang sedang galau ini.

Hari ini adalah H-7 UASBN SD. Sore ini aku baru saja pulang dari memberi les Bahasa Indonesia untuk anak-anak kelas 6. Aku berencana seminggu penuh ke depan, siang dan malam akan “memaksa” mereka untuk les pelajaran UASBN. Matematika, IPA dan Bahasa Indonesia.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa sebenarnya banyak sekolah yang mendongkrak nilai murid-muridnya agar lulus ujian. Semua nilai didongkrak. Mulai dari nilai Ujian Sekolah dan nilai Ujian Nasional. Ada sekolah yang mengganti jawaban murid-murid setelah dikumpulkan sebelum datangnya pengawas yang membawa berkas jawaban untuk diperiksa di pusat. Tapi ada juga yang terang-terangan memberi jawaban di kelas pada anak-anak. Bayangkan bagaimana perasaan anak-anak, mengetahui mereka lulus bukan dengan usaha mereka sendiri. Mereka akan selamanya merasa kalau mereka tidak mampu melewati jenjang SD jika tidak dibantu oleh guru-guru.

Hal ini bukan tidak menjadi dilema di sekolah-sekolah. termasuk di antaranya di sekolahku. Sempat terjadi perdebatan apakah anak-anak kelas 6 akan dibantu atau tidak. Sempat aku diminta untuk ikut serta mengawas dan membuat kunci jawaban. Deg-degan sekali rasanya. Aku berkata pada stakeholder sekolah, kalaupun sampai terpaksa nilai harus didongkrak, jangan sampai anak-anak terlibat berbuat curang. Dan entah bagaimana prosesnya, sekolahku memutuskan untuk jujur dalam UASBN tahun ini. Kata guru kelas 6, “Biar mi ada yang tinggal”. “Yang penting sekolah kita jujur di mata publik”, kata Kepala Sekolah. Terdengar heroik ya? Tapi entah bagaimana nanti implementasi di lapangan. Keputusan ini tidak bisa lepas dari andil guru kelas 6, karena mau tidak mau guru kelas 6 lah yang akan menanggung beban mengajar murid-murid yang tidak lulus. Hal ini juga yang menjadi pikiran dari teman-temanku Pengajar Muda yang lain, terutama guru kelas 6. Hati nurani pasti ingin jujur, tapi ada beban moral ke masyarakat, terutama orang tua murid. Banyak dari orang tua murid yang tidak segan-segan mendatangi guru anaknya dengan membawa parang jika anaknya sampai tidak lulus. Terlebih lagi, kami di sini hanya 1 tahun. Ibaratnya memberikan PR untuk guru lain yang seharusnya menjadi tugas kami.

Mungkin mudah bagi kita mengatakan seharusnya sekolah jujur dalam menyelenggarakan ujian. Mudah bagi kita mengatakan seharusnya tidak sulit bagi anak-anak itu memenuhi standar nasional sebesar 5,5. Tapi percayalah, jika kalian ada di sini, sulit sekali mengatakan hal seperti itu. Teman-teman, ini adalah wajah nyata dunia pendidikan Indonesia. Pemerintah sudah menetapkan standar yang harus dicapai. Aku percaya maksudnya pasti bagus, agar seluruh anak Indonesia memiliki kemampuan akademis yang sama. Tapi pada implementasi, standar nasional masih menjadi sesuatu yang utopis.

Yah, jadi di sinilah aku sore ini. Menunggu datangnya malam hari, waktunya anak-anak kelas 6 datang ke rumah untuk belajar bersama. Sedikit usaha yang dapat mereka lakukan menjelang UASBN, agar mereka dapat lulus dengan jerih payah mereka sendiri, dan memenuhi standar nasional.

Jakarta, 15 September 2010

Dear Readers,

Have  you ever heard about bungee jumping moment? I bet you haven’t. Because it’s a phrase that I created. 😀

Kalau olahraga bungee jumping? Tentu sudah pernah dengar ya?

To remind you, bungee jumping is an activity that involves jumping from a tall structure while connected to a large elastic cord (Wikipedia). Intinya adalah melompat dari ketinggian tertentu dengan bergantung pada tali pengikat yang diikatkan pada kaki kita. Hal yang pasti, bungee jumping adalah  olahraga ekstrim yang dijamin akan memacu adrenalin siapapun yang melakukannya.

Aku belum pernah mencoba bungee jumping, but I would love to, someday.

Banyak kesempatan sebenarnya, tapi entah kenapa aku selalu hesitate. Ada sensasi ngeri yang amat sangat, hanya dengan membayangkan setiap detil dari olahraga itu. Perasaan berdiri di ujung tiang di ketinggian. Perasaan harus melompat terjun bebas ke bawah, menyerahkan diri pada gravitasi bumi. Perasaan tidak aman karena menggantungkan nyawa kita pada seutas tali.

Kalau dalam konteks hidup kita, pernah tidak melakukan sesuatu, yang rasanya kurang lebih sama dengan perasaan saat melakukan bungee jumping tadi? Perasaan takut untuk melakukan sesuatu, karena kita pikir itu terlalu susah, terlalu rumit, terlalu melelahkan, terlalu besar, terlalu berbeda, terlalu ….. (coba diisi sendiri sesuai dengan yang pernah kalian rasakan).

Padahal sebenarnya, seperti bungee jumping, kejadian setelah kita melompat adalah kesenangan, adrenaline rush, kemampuan untuk menjadi lebih berani, pengalaman baru seumur hidup. Dan mungkin banyak hal lainnya. Coba bayangkan bila kita mundur dari tebing itu, kita urungkan niat kita untuk melompat. Kita tidak akan pernah tau apa rasanya terjun kesana. Kita tidak akan pernah bisa menjadi orang yang dengan bangganya berkata, “Aku telah lompat dari tebing tinggi itu kawan. Aku berani mengalahkan takutku”.

Sudah mendapat gambaran apa itu bungee jumping moment sekarang?

Belum? Hehe.. Baiklah. Aku beri contoh ya..

Dalam hidupku sampai saat ini, aku telah mengalami dua kali bungee jumping moment. Yang pertama adalah waktu semester 2 aku duduk di bangku kuliah. Ya, saat itu aku memutuskan untuk memakai jilbab. Ada yang bilang, menggunakan jilbab itu just the matter of appearance. But I know it’s way beyond that, that is why it was my first bungee jumping moment.

Yang kedua, adalah saat aku memberanikan diri untuk mendaftar Indonesia Mengajar. Well, memang aku belum menjalani ini sepenuhnya. Tapi momen loncat dari tebing nya telah aku lewati.  Sekarang tinggal excitement yang menanti di depan mata untuk dijalani.

Aku berpikir, alangkah sayang nya jika hidup kita yang cuma sekali ini dijalani dengan datar-datar saja. Memang ini adalah pilihan setiap orang untuk menentukan arah hidupnya. Tapi, bukankah sayang ya, jika kita selalu mengikuti rasa enggan itu untuk melakukan sesuatu yang kita mau? Apa rasanya ya, di suatu saat di masa depan, yang dapat kita lakukan adalah hanya berkata, “Jika saja..” ?.

Live our life to to the fullest by creating as many excitements as we could handle in our precious life

Share a Lil Bit of Happiness

Jakarta, 13 September 2010

Dear Readers,

Hari ini aku disadarkan kembali bahwa kebahagiaan itu menular. Tidak hanya sakit, menguap dan tertawa. Tapi sesuatu yang bernama kebahagiaan itu benar-benar menular. Dan indahnya, bisa ditularkan.

Hari ini aku mengalami hari yang cukup menyebalkan. Kembali ke rutinitas kantor sementara seluruh keluarga masih dalam rangkaian tur mudik The Sa’doen family 2010. Aku harus naik kereta dari Madiun sendirian untuk langsung masuk ke kantor esok harinya. Oh, kereta yang aku naiki itu delay sampai lebih dari tiga jam, sehingga otomatis aku telat sampai di kantor.

Sepulang dari kantor, seperti biasa aku menunggu bus shuttle yang mengarah langsung ke rumahku di daerah Bintaro, Jakarta Selatan.  Aku sudah hapal sekali dengan tabiat shuttle Trans Bintaro kesayangan ini yang datangnya lamaaaa sekali, sementara shuttle-shuttle lain sudah kerap lewat beberapa kali.

Well, aku pun menunggu.

Aku  menunggu.

1 jam kemudian aku masih menunggu.

Hmm, jangan-jangan shuttle nya ambil cuti ya? driver nya masih mudik sehingga tak ada satu pun yang lewat?

Oke, karena nya aku pun menaikkan standar. Naik taksi sajalah kalau begitu. Yang penting cepat sampai rumah.

Aku menunggu.

Lama kemudian aku masih menunggu taksi yang tak kunjung lewat.

Jikapun ada yang lewat, dengan sombongnya mereka tidak mau berhenti. Setelah menyerah menunggu di halte tersebut, aku pun berpindah masuk ke dalam lobi mal Pondok Indah. Ternyata  disana sudah ada antrian taksi yang cukup panjang.

Aku menunggu.

1 jam kemudian aku masih menunggu.

Oh taksi, wahai shuttle bus, kenapa kalian membuatku amat sangat kesal hari ini??

Rasanya lelaaah sekali. Kaki ini rasanya mau copot. Sungguh rasanya ingin marah-marah saja.

Tapi alih-alih marah, aku tarik napas dalam-dalam, lalu aku ajak mengobrol seorang ibu cantik yang sedang menunggu taksi juga di depan ku. Basa-basi sederhana saja. Sampai ketika taksi datang untuk mengambil penumpang, ibu itu dengan baik hati nya menawarkan untuk berbagi taksi. Wah, benar-benar rejeki ya.

Setelah akhirnya berkenalan, ternyata beliau bekerja di perusahaan yang menjadi klien tempat aku bekerja saat ini. Kami pun mengobrol dengan akrab sampai kerumah beliau.

Even the most simple nice things we do, could actually give impact to other people.

Dengan sapaan sederhana, ibu tersebut mengajak aku untuk berbagi taksi, dan karena aku senang, aku pun mengajak ngobrol bapak supir taksi dan memberinya ekstra tip karena telah berlelah-lelah mengantarku pulang. Aku  berharap aku telah menularkan kebahagiaan pada bapak supir taksi itu, lalu beliau akan meneruskannya pada orang lain lagi. Kebahagiaan ini memiliki butterly effect, dimana suatu tindakan kecil dapat menyebabkan terjadinya serentetan hal-hal lain.

Hal seperti ini bukan baru pertama kali aku alami. Dan semuanya berawal dari hal-hal yang sepele. Senyum.

Jadi teman, bagaimana kalau kita ciptakan butterfly effect kebahagiaan ke sekeliling kita, dengan hal yang paling sederhana yang dapat kita beri, yaitu senyum?

Because the most simple nice things we do, could actually give impact to other people

Letter to a friend

Bimillahirrahmanirrahim..

To my Pal,

After we’ve experienced our more-than-4 years journey together, now the time has come for us to continue our life separately.

But I believe it’s not the end.

I believe it’s a beginning of something bigger.

So let’s grow up together.

Let us be the best that we can be.

Let us live our life to the fullest.

Til we meet again pal, soon! Cheers 🙂

Semua orang punya cara sendiri untuk menjadi besar.

Semua orang punya cara sendiri untuk membangun Indonesia.

Aku bawakan Garuda, lambang negara kita,tempat kita mengabdi sesungguhnya.


Arr

Kalung Garuda

To remind him his true identity walaupun lagi singgah di negeri orang..

Yes.. This letter is dedicated to my best pal, Agung Hikmat, yang akan menjalani petualangannya di Malaysia. Saat ini kami akan menempuh perjalanan yang sangat berbeda. Dan mungkin kami tidak akan bertemu untuk beberapa waktu yang lama.

Oh, dia juga berpesan (dan tolong sekalian publish di blog :D) :

“Rum, write your and your nation’s future”. And so I will. All of us will. Insyaallah. Amin.