Category: Family


Tanggal 14 Juni yang lalu, Alhamdulillah aku berkesempatan diikunjungi oleh seorang superstar yang jauh-jauh datang dari Bandung. Yup, my mom is coming to town. Ceritanya ibuku sedang mendapat proyek di Maluku Utara, di perjalanan pulangnya ke Bandung, beliau menyempatkan untuk singgah di Sulawesi Barat.

Tanggal 14 sore, aku menjemput mama di Kota Majene. Mama tiba sudah menjelang Magrib. Setelah itu kami bersama menuju desa ku, Galuh Sangala. Sesampainya di rumah, wah, rumahku sudah ramaiiiii sekali. Mengingatkanku akan hari pertama kedatanganku ke desa. Malahan kata ibu, tadi siang jauh lebih ramai. Mereka penasaran dengan mamaknya bu guru. Hihi.. Ada-ada saja.

Kedatangan mama seperti Sinterklas. Dia membawa sekantung besar makanan yang dibagi-bagikan pada anak-anak. Berbagai macam biscuit dan wafer langsung habis malam itu. Yang seru adalah keesokan harinya. Mama datang ke sekolah. Dia bilang dia ingin masuk kelas dan berkenalan dengan murid-muridku.

My mom is a superstar, no doubt about that. Di kelas, berkumpul semua anak-anak dari kelas 1-6, dengan bersemangat mendengarkan dan mengikuti permainan yang mama berikan. Banyak sekali nasihat-nasihat yang beliau berikan untuk anak-anak. Di antaranya adalah jangan pernah takut untuk menulis. Karena dengan tulisan, dapat membawa kita ke mana saja. Mama memberikan contoh Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi, yang berasal dari pedalaman tetapi menjadi orang yang berhasil karena tulisannya. Mama juga berpesan pada anak-anak untuk berani menjadi pemimpin. Karena ketika mereka sudah besar, mereka diharapkan dapat memimpin bangsa.

Greeting my students

Delvi dan Ina, membaca puisi untuk ibuku

Kaya gula dirubung semut

Kelasku penuuuuh sekaliiiii...

Setelah berbagai macam kuis, permainan, acara bagi-bagi kue, sampai akhirnya anak-anak makin menggila dan mama kewalahan, kami pun kembali ke kantor. Di sana mama berbincang dengan guru-guru dan kepala sekolah. Kehadirannya hari itu benar-benar memberi warna di sekolah. Siang itu mama kembali ke Majene untuk menginap lagi satu malam. Di perjalanan, tak ketinggalan kami singgah di warung ikan terbang Somba dan kelapa muda Apoang. Di sana datang juga Pengajar Muda Majene yang lain, Fauzan dan Adeline , untuk bersilaturahmi dengan mama. Setelah kenyang makan ikan dan kelapa, kami melanjutkan perjalanan ke Majene. Mama menginap satu malam sebelum keesokan paginya menuju Makassar lagi untuk terbang pulang ke Bandung. It was a nice time that you were here, Mom. Thanks a lot ya..

Advertisements

Senin, 2 Mei 2011

Kutulis jurnal ini pada petang di hari Senin. Dalam keadaan sakit. Dalam guyuran hujan besar di luar. Dalam ketiadaan lampu dan jaringan. Jangan salah sangka dulu, di desa ku sudah masuk PLN dan jaringan Telkomsel ada di tempat-tempat tertentu. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini listrik sering sekali padam. Kalau kata ibuku, byar-pet. Nyala tapi tak lama kemudian mati lagi. Seperti itu untuk beberapa saat, sampai sekarang mati dan belum menyala lagi. Mungkin ketiadaan listrik dapat aku tolerir. Tapi ketiadaan jaringan bisa membuatku gila. Walaupun di sini banyak orang, aku tidak bisa tidak berhubungan dengan orang-orang dunia luar selain di sini. Terkungkung dari informasi entah apa yang terjadi pada keluarga dan teman-temanku di luar sana. Keluargaku sedang pergi semua ke kebun dari kemarin. Mereka bermalam karena banyak padi yang harus dipanen. Jadilah aku sendirian di rumah. Benar-benar saat ini aku tak ingin ada di sini.

Terdengar sangat manja ya? Aku tahu. Tak bisa kupungkiri aku memang sangat amat manja. Anak kota yang biasa hidup enak, gampang mengeluh mendapati keadaan yang tak ideal. Aku sadar, ini adalah titik jenuh dari kurva perjalananku di sini.

Aku memasuki bulan keenam di daerah perantauanku ini. Dulu, saat bulan-bulan awal, semua terasa begitu menantang dan menarik untuk diceritakan. Setiap hari aku tak pernah absen menulis jurnal dan selalu menantikan akhir minggu untuk post blog di internet. Sekarang, semua telah menjadi rutinitas. Aku tak lagi merasakan gairah berpetualang itu. Dan aku dapat melihatnya juga pada diri teman-temanku di sini.

Aku kira aku tak akan pernah merasa bosan dengan pekerjaanku di sini. Semuanya begitu dinamis dan tidak monoton. Tapi pada akhirnya, aku hanya manusia biasa. Semoga saja ini hanya sementara. Semoga secepatnya, aku kembali bersemangat menjalani sisa enam bulanku di sini.

Itu mamak dan bapak pulang. Hujan-hujan begini, aku akan bantu mamak menggoreng pisang. Semoga hangatnya pisang goreng dan teh manis panas dapat sedikit menghangatkanku yang sedang galau ini.

31 Maret 2011

Aku terinspirasi dari sesama rekan pengajar muda, Wiwin, yang sekarang juga bertugas di Majene. Dia membuat sebuah buku rahasia antara dia dan muridnya. Menurutku itu adalah ide yang sangat bagus, yang terbukti berguna mendekatkan guru dan murid secara emosional. Murid juga jadi lebih terbuka dan berani mengutarakan pikirannya padaku.

Sekitar dua minggu berjalan, hasilnya cukup baik. Anak-anak banyak yang bercerita padaku, tentang apapun. Ada yang cuma memberikan puisi dan gambar. Ada juga yang bercerita tentang permasalahan- permasalahan yang dihadapi. Namun, buku ini bagai pedang bermata dua. Di satu sisi, kita jadi dapat lebih mengerti dan dekat dengan murid. Tapi di sisi lain, mereka akan menjadi seperti keran bocor yang mengeluarkan semua cerita-cerita sedih yang sedang mereka hadapi. Jujur pertama kali membaca cerita dari salah seorang muridku, aku terkejut. Karena aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Tulisan ini adalah tentang anak tersebut. Sebut saja namanya Yuri.

Pertama kali Yuri menulis di buku rahasia, dia bercerita bahwa dia merasa dia tidak diperhatikan oleh orang tuanya. Semua saudaranya selalu dibelikan barang-barang yang bagus, sementara dia tidak pernah. Dia membeli barang-barang kebutuhannya seperti seragam sekolah dengan menggunakan uang hasil kerja kerasnya sendiri memecah batu. Kemudian di surat berikutnya, dia berkata bahwa dia ingin meneruskan sekolah setelah SD di Bandung bersamaku. Dia berkata bahwa dia ingin membuktikan pada kedua orang tuanya bahwa dia bisa membanggakan mereka berdua. Dia memohon padaku agar membawanya sepulang ku bertugas di Majene.

Biasanya Yuri adalah anak yang sangat baik. Dia selalu memperhatikan dan mengerjakan tugas yang kuminta. Memang dia termasuk anak yang cepat menangkap pelajaran. Dulu sebelum aku datang, dia terkenal sebagai anak yang sangat nakal, sampai dia tidak naik kelas karena kelakuannya itu. Tapi sekarang dia sudah berubah. Namun hari ini, dia berulah lagi. Dia membuat tiga murid perempuan menangis. Dia meninju murid-murid perempuan. Dia tidak mempedulikan aku yang memintanya untuk berhenti. Sampai aku terpaksa menghentikan pelajaran sebelum waktunya dan membawa anak-anak perempuan ke luar.

Hal itu berlangsung sampai saat pulang sekolah. Aku mencoba mendekatinya perlahan untuk menanyakan ada apa dengannya hari ini. Tapi berdasarkan pengalaman, anak yang sedang emosi tidak bisa didekati. Saat pulang sekolah, dia memberiku sebuah pesawat dari kertas yang dia titip pada temannya.  Ternyata isinya adalah surat.

Aku adalah anak yang tidak baik.

Aku tidak diberi kasih sayang oleh orang tuaku.

Maafkan aku Ibu Arrum.

Dari Yuri

Aku tidak bisa berkata-kata.

Seperti kata Ibu Wei, seorang guru tidak sebaiknya mengambil alih peran orang tua. Terlebih lagi, masukan yang aku dapat hanya dari sudut pandang murid, sehingga aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah. Apa yang sebaiknya kulakukan ya?

So readers, I really need your opinion on this..

To My Dearest Mom

Kamis, 20 Januari 2011

Untuk mama,

Ma, ucapan rasa banggamu padaku adalah sebuah hadiah paling indah yang dapat aku peroleh. Aku Insyaallah tak pernah pamrih dalam mengerjakan apapun. Termasuk sekarang aku pergi ke daerah orang untuk mengajar di SD. Sungguh ini pekerjaan yang tak seberapa. Tak dapat dibandingkan dengan teman-temanku yang bekerja di perusahaan minyak, di bank, atau di tempat mama bekerja dulu.

Tapi mama tidak pernah membuatku rendah diri. Mama selalu memberikan dukungan penuh atas apa saja yang aku lakukan. Sungguh aku sangat berterima kasih atas kepercayaanmu. Maka ijinkan aku untuk mencurahkan rasa bahagia dan syukurku memilikimu dalam tulisan pendek ini.

My dearest Mom,

Terima kasih karena telah menjadi sosok wanita yang kuat, yang telah mengajari aku untuk menjalani hidup dengan tegar.

Terima kasih telah mengajarkanku untuk mandiri, walaupun aku akan selalu menjadi anak manja di mata mama.

Terima kasih telah bekerja dengan begitu kerasnya menghidupi aku, anak bungsu yang masih harus menjadi tanggunganmu.

Terima kasih karena tidak pernah mengeluh padahal aku sering mengecewakanmu.

Terima kasih Tuhan, karena telah memberikan ibu seperti engkau dalam hidupku.

Terima kasih.

Dan semoga aku dapat terus menjadi anak yang dapat kau banggakan.

PS : Miss you too :’)