Category: Catatan Harian Pengajar Muda


Istirahatlah Dengan Tenang, Pahlawan Jambuku…

Dia bernama lengkap Muhammad Yusuf. Namun, teman-temannya memanggilnya dengan nama Ucok. Seiring berjalannya waktu aku pun ikut memanggilnya Ucok. Umurnya sekitar 11 tahun ketika aku pertama mengenalnya. Dia duduk di kelas 5 SDN 39 Manyamba dengan 24 anak lainnya, di mana aku menjadi wali kelas mereka. Tulisan ini aku dedikasikan untuk muridku Ucok.

Pertama kali mengenalnya, Ucok bukan anak yang terlalu spesial. Dia bukan anak yang paling pintar, bukan juga yang paling nakal. Tapi semakin kami dekat, makin lama makin aku sayang padanya.

Ucok itu anak yang pintar, dia paling suka IPA dan IPS. Dia selalu aktif dalam percobaan-percobaan IPA yang kubuat di kelas. Dan setiap ada pertanyaan IPS, “Kenapa para pemuda membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok sebelum hari kemerdekaan?”. Ucok pasti akan menjawab,”Untuk memperjauhkan Soekarno-Hatta dari pengaruh Jepang”. Dia selalu konsisten menggunakan kata memperjauhkan. Hehe, walaupun itu bukan kosakata yang baik dan benar, dia selalu percaya diri dengan jawaban itu.

Hal lain yang paling kusuka dari Ucok adalah, dia tidak pernah berpikir panjang untuk membantu orang lain, termasuk membantuku. Pernah suatu hari di kelas 2, ada bangkai anak kucing yang sudah mulai membusuk di kelas. Anak-anak ribut mendatangiku, “Bu, posa mate ilalang di kelas 2!”. Artinya ada kucing mati di dalam kelas 2. Ergh, sebenarnya aku enggan melihatnya, pasti menyeramkan. Tapi karena gengsi, aku masuk ke kelas 2. Anak-anak memintaku untuk membuang bangkai kucing yang berdarah-darah itu. Sementara aku kalang kabut mencari kain bekas yang cukup tebal untuk membungkus bangkai kucing itu, hanya dengan selembar kertas, Ucok berlari keluar kelas dengan bangkai kucing di tangannya menuju tempat pembuangan sampah. Cerita lain, ketika aku dan kelas 5 pergi naik gunung ke Ratetaring, Ucok dengan setia berjalan menemaniku sementara teman-teman laki-lakinya berjalan jauh di depan.

Ucok selalu bercerita dengan ceria padaku. Dia selalu meminta persetujuanku di akhir ceritanya, “Bagus sekali bu guru, di? di? di?”. “Di” adalah partikel dalam Bahasa Mandar yang artinya kan. Jadi kurang lebih dia berkata “Bagus sekali bu guru, ya kan? ya kan? ya kan?”. Tidak akan berhenti sampai aku menyahut.
Suatu kali aku kunjungan ke rumahnya, aku disambut oleh ibu dan kakak laki-lakinya. Aku senang sekali datang ke rumah Ucok. Selain karena disuguhi durian, atmosfer keluarganya sangat menyenangkan. Orang tuanya sangat peduli akan pendidikan anak-anaknya, terlihat dari kakaknya yang paling tua yang saat ini sedang berkuliah di Majene. Mereka selalu berusaha membantu Ucok dalam pelajarannya di sekolah. Ucok adalah salah satu anak yang aku lega meninggalkannya, karena dia berada di keluarga yang tepat.

Pernah juga suatu waktu, Ucok dan beberapa orang temannya, pergi ke kebun dan kembali dengan sekantung joleng. Joleng adalah jambu berwarna putih sebesar alpukat. Aku senang sekali mendapat pemberian joleng itu. Sebagai ucapan terima kasih, aku membuatkan masing-masing dari mereka sebuat pembatas buku dengan tulisan “Untuk Para Pahlawan Jambu”. Kuminta mereka menyimpan pembatas buku itu sebagai kenang-kenangan.

Banyak kenangan yang kuingat tentang diri Ucok, apalagi selama aku menjadi wali kelasnya. Sekarang Ucok sudah duduk di kelas 6, tahun depan dia SMP. Namun, 2 hari yang lalu aku mendapat kabar dari teman guruku, bahwa Ucok sudah lebih dulu meninggalkan kita semua. Bagai tersengat listrik, hatiku mencelos bukan kepalang. Kenapa? tanyaku. Sakit tipes, katanya. Sudah 10 hari di Rumah Sakit Majene. Semua keluh kesah dan sumpah serapah tak akan berguna. Sakit tipes, for godsake!!

Selamat istirahat Ucok. Semoga kisahmu ini bisa menjadi contoh bagi lingkungan sekitarmu untuk lebih peduli pada kebersihan dan kesehatan. Semoga kisahmu ini bisa menjadi pemicu bagi pemerintah dan dinas kesehatan agar lebih peduli dalam meningkatkan mutunya.

Selamat istirahat pahalawan jambuku…

Advertisements

Hari ini adalah hari terakhir aku mengajar di kelas. Seharusnya hari ini aku sudah digantikan oleh PM penggantiku untuk aktif di sekolah. tapi karena sesuatu hal, dia tidak bisa masuk sekolah hari ini. Jadi, karena mood mengajarnya sudah hilang, aku sengaja main-main saja dengan anak-anak hari ini. Hehe..

Sebelum masuk kelas, kebiasaanku hari Senin adalah memeriksa kuku anak-anak dan tes perkalian. Tak terkecuali hari ini, aku juga dengan setia melaksanakan kebiasaanku itu dengan anak-anak. Pagi ini kuku setiap anak bersih dan pendek. Dan hampir 100% mereka bisa menjawab pertanyaanku tentang perkalian dengan sekali jawab.

Perasaanku agak sentimentil ketika ketua kelas menyiapkan teman-temannya pagi ini. Berdiri siap grak! Ucapkan salam pada bu guru kita. Besok, bukan lagi bu guru, pak guru. Karena bu guru tidak akan mengajar lagi di kelas itu. Bu guru besok sore harus pergi meninggalkan Majene, menuju Makassar. Dari sana bu guru akan terbang naik pesawat ke Pulau Jawa, tempat bu guru berasal. Apalagi, setelah berdoa, anak-anak maju ke depan untuk memberikan hadiah perpisahan untukku. Di salah satu kado, tertulis

Tulisan Aswan

Huff, sudahlah..

Pelajaran pertama adalah Matematika. Alih-alih melanjutkan pelajaran tentang tangga ukur, aku meminta mereka menghitung jumlah uang tabungan mereka masing-masing. Setelah itu aku membagikan uang tabungan yang telah mereka kumpulkan selam hampir satu semester ini. Anak-anakku sekarang adalah anak-anak yang sangat rajin menabung. Bahkan ada anak yang tabungannya sampai Rp 150.000,00. Aku sangat kagum dengan ketekunannya.

Pelajaran berikutnya adalah Bahasa Indonesia. Pada hari sebelumnya aku sudah menyiapkan hadiah untuk setiap muridku. Yaaah, sebutlah hadiah perpisahan. Setiap anak mendapatkan paket hadiah yang terdiri dari buku tulis, pensil, pulpen, penghapus, tip-x, penggaris dan serutan, disertai dengan surat pribadiku untuk masing-masing dari mereka. Selain itu, beberapa anak yang pernah mendapatkan nilai ulangan 10, juga mendapat hadiah tambahan. Rasanya senang juga melihat wajah-wajah mereka yang sedikit sumringah ketika menerima hadiah. Setelah itu, kami duduk melingkar, dan aku meminta mereka menuliskan kesan dan pesan di kertas selembar yang kemudian aku baca secara random. Ini adalah beberapa contoh suratnya.

Pelajaran terakhir adalah SBK. Seminggu yang lalu, aku telah memberikan mereka tugas untuk membuat kalung dari sedotan yang dibakar. Hari ini mereka mengumpulkan tugas tersebut, plus mereka harus bergaya seperti model mengenakan kalung yang mereka buat. Ada yang malu-malu, tapi ada juga yang malah tidak cukup difoto satu kali.

Muridku Dewa

Muridku Hasra

Kami cukup bersenang-senang hari ini. Yaah, walaupun tadi pagi, aku adalah guru yang pertama datang. Walaupun hari ini hanya ada 3 guru di sekolah tanpa kepala sekolah. walaupun tidak ada acara khusus untuk melepasku seperti teman-teman PM yang lain. Tapi tak apa, hari ini, aku merasa cukup.

Harjo is back!!!

10 September 2011

Good news! Harjo is back!! Huahahahahahaha….

Ini isi jurnal akan sangat pendek tapi membahagiakan sekali deeeeh…

Hari pertama aku kembali ke sekolah, anak-anak kelas 6 ribut berteriak-teriak “Bu, Harjo sekolah bu, Harjo sekolah!!”. Wah ketika aku menoleh memang benar dia kembali ke sekolah. dengan cengiran khas dan baju SD kekecilannya dia menghampiriku. “Kembali ka Bu” (Saya kembali Bu), katanya. Dia menyalami tanganku. Aduh aku senaaaang sekali. Ditambah, kata teman-temannya Harjo sekarang serius mau belajar, ada juga yang bilang dia mau datang ke rumahku setiap malam untuk belajar. Haha, let’s see about that. Kembalinya dia ke sekolah saja sudah cukup bagiku untuk sekarang.

PS : Maaf ya Reader’s Digest, kalau mau bikin edisi revisi kembalinya Harjo ke sekolah boleh loh.. hehehe

Sabtu, 10 September 2011

Malam pertama aku kembali lagi ke desa Manyamba di pedalaman Majene. Malam pertama setelah sekian lama aku merasakan nyamannya hidup di perkotaan. Dengan segala kemudahan dan kehedonismeannya. Malam ini juga aku mengeluh, aku merenung, dan aku akan menuliskan semuanya.

Sungguh kehidupan yang sangat berbeda, pikirku. Antara kehidupan yang dulu kujalani di Bandung dan Jakarta dengan kehidupan yang kujalani satu tahun di sini. Bagaimana tidak berbeda? Di Bandung, mau kemana-kemana gampang, sarana transportasi melimpah ruah bahkan sampai larut malam. Kalau lapar tinggal ambil di lemari, bahkan jika harus memasak pun, tinggal sekali klik kompor menyala dan goreng nugget yang sudah tersedia di lemari es. Mau SMS atau telepon tinggal pencet, tidak usah cari jaringan di atas kursi dan berharap jaringan cukup kuat untuk dapat tembus telepon. Kalau bosan, banyak sekali alternatif hiburan yang dapat dipilih, mulai dari nonton TV kabel, internetan di rumah, main ke mall, bioskop, nongkrong di café, you name it. Sementara di sini, vice versa.

Pernah terbersit perasaan malas yang amat sangat untuk kembali lagi ke daerah penempatan. Kembali lagi ke keterbatasan hampir di semua hal dan meninggalkan segala kenyamanan.

Sebenarnya aku ingin pura-pura buta saja, mengacuhkan sisi lain dari Indonesia yang baru kulihat sekarang. Aku ingin hidupku dan keluargaku layak, hidup enak di kota, dan tidak memikirkan apa yang saudara sebangsaku rasakan di pedalaman. Perlu digarisbawahi, ini bukan edisi “Termehek-Mehek” atau “Jika Aku Menjadi” seperti yang tayang di TV ya. Masyarakat di sini tidak sedih akan segala keterbatasannya, sehingga mereka tidak perlu kita, “masyarakat kota”, untuk mengasihani mereka akan hidup dimana mereka sebenarnya bahagia di dalamnya. Benar mereka bahagia, aku pernah menjadi bagian di dalamnya. Tapi benar juga kalau mereka masih hidup dalam keterbatasan. Listrik, akses, dan banyak hal lain yang kita anggap remeh tapi masih menjadi barang mewah bagi masyarakat di sini.  Mereka tidak sadar apa saja kesempatan yang seharusnya dapat menjadi milik mereka jika saja mereka punya apa yang kita punya.

Bagi kalian yang belum pernah berada di posisiku sekarang, perbedaan yang kita punya adalah, aku MEMAKSA diri dan sekarang sudah TERLANJUR menyaksikan kesenjangan itu itu kawan. Semua keterbatasan itu dipaparkan dengan gamblang di depan mataku. Masih bisa pura-pura buta?

Jujur aku juga ingin menjadi bagian dari orang-orang hebat yang nantinya akan mengubah nasib bangsa kita. Tapi aku belum berani berkomitmen. Aku belum berani bercita-cita. Yang bisa kulakukan sekarang adalah bersyukur, dan menjalani sisa dua bulanku di sini dengan sebaik-baiknya.

Kamis, 28 July 2011

Sudah sekitar tiga minggu aku memulai semester baru ini. Namun baru kali ini aku akhirnya menuliskan bagaimana rasanya memulai kembali pengalaman mengajarku.

Pengalamanku bersama murid kelas 5 yang lalu, bisa dibilang, sangat menantang. Setiap harinya selalu saja ada masalah yang mereka buat di kelas. Berkelahi, membuat teman menangis, tidak menghargai guru, dan semua kekesalan lain yang begitu kreatifnya mereka buat sebagai hadiah untukku. Makanya aku menyebut mereka, my little monsters.

Di semester baru ini, aku tetap menjadi wali kelas di kelas 5. Berarti, murid-muridnya adalah murid kelas 4 tahun lalu. Dan bisa dibilang, anak-anakku yang sekarang berkebalikan 1800 dari murid-muridku yang dulu. 22 anak kelas yang sekarang adalah kumpulan anak manis yang berkelakuan sangat baik. Mata anak yang berbinar pada saat menerima pelajaran benar-benar terlihat saat aku mengajar mereka. Hampir semua aktivitas belajar mereka jalani dengan penuh semangat. Setiap ada permainan di kelas, mereka menampakkan wajah-wajah tulus yang bahagia. Dan Subhanallah mereka adalah kumpulan anak-anak cerdas. Aku sangat bangga dan bahagia, ketika mereka dengan semangat mempraktekkan bahasa Inggris yang aku ajarkan di kelas. “Hello teacher” sapa mereka.

Kami juga punya beberapa peraturan di kelas, yang ajaibnya mereka patuhi dengan baik sampai membuatku terkagum-kagum sendiri. Contohnya, aku ingin jika ada yang izin keluar kelas, satu orang saja setiap kali izin, agar kelas tidak kosong dan mereka bisa belajar dengan tenang. Jadi jika ada yang ingin keluar tapi masih ada temannya di luar kelas, mereka akan mengingatkan temannya sendiri, “Jangan dulu, masih ada yang di luar”. Aku sampai menahan senyum.

Anak yang menjabat sebagai penjaga kelas juga tampak sangat menghayati perannya tersebut. Dia sangat berjasa membantuku menertibkan teman-temannya kalau mereka mulai ribut. Yah, namanya juga anak-anak, mereka masih suka berjalan-jalan di kelas dan kadang tampak malas menulis. Tapi itu jarang terjadi.

Satu lagi yang menurutku mengagumkan. Aku masih menjalankan program menabung di kelas. Dan seperti sering kita baca di buku Pkn, mereka adalah anak yang rajin menabung. Rajin sekali, sampai total tabung mereka sudah lebih Rp 100.000,00 dalam waktu yang singkat.

Karena karakter mereka yang begitu baik, aku tidak segan memberi dan mempercayakan buku-buku perpustakaan di kelas. Kami membuat perpustakaan kelas bersama. Setelah buku-buku itu dibungkus plastik, mereka menyimpannya dengan rapi di belakang kelas. Dan dengan tekun membacanya ketika waktu istirahat.

Oleh karena itu, aku menyebut mereka my little angles.

Haha, terdengar tidak adil ya, bagaimana aku mendikotomikan murid-muridku seperti itu. Tapi, aku sangat berterima kasih pada mereka. Bayangkan, jika aku hanya mendapat anak-anak dengan karakter bak malaikat seperti ini sepanjang program. Aku tentu tak akan tahu bagaimana rasanya mengajar di kelas yang penuh tantangan setiap hari. Kedua tipe muridku ini benar-benar menjadi guru yang sangat berharga bagiku. Masa awalku mengajar ditemani dengan penuh peluh dan kesabaran menghadapi the little monsters dan akhir perjalananku ditutup dengan manis oleh my little angels. One thing for sure, both of my little monsters and angels, I love u all very much

 

Kamis, 28 July 2011

It has been a while since I wrote my last journal. So, here it is..

Beberapa hari yang lalu, aku bersih-bersih kamar. Everybody here knows that I HATE cockroach. Penampakan kecoak dari kardus-kardus yang menumpuk beberapa hari yang lalu membuatku histeris dan langsung mengobrak-abrik kamarku yang seperti kapal pecah itu. Kardus-kardus yang menumpuk di bawah meja aku keluarkan semua. Tugas-tugas anak-anak yang berserakan di bawah tempat tidur juga aku sisihkan.

Ketika saatnya menyortir mana yang mau aku simpan dan yang kubuang, aku melihat lagi karya-karya anak kelas 5 yang lalu. Ada origrami, surat-surat pribadi mereka untukku, dan tugas-tugas kerajinan lainnya. Sejujurnya benda-benda itu bukan benda yang bisa dibilang tidak ada nilai gunanya lagi. Malahan, benda-benda itu menjadi sampah yang menumpuk di kamarku yang mungil.

Aku memisahkan benda-benda yang masih mungkin digunakan seperti hiasan-hiasan dan origami di satu kardus, dan kertas-kertas yang tidak akan terpakai lagi di kardus yang lain. Surat-surat dan pohon mimpi yang dibuat oleh anak-anak masih kusimpan di kardus yang masih akan kusimpan.

Baru saja sore ini, adikku yang paling kecil menangis dan mengadu. Katanya semua kertas lipat yang pernah kuberi, mainan bongkar pasang, dan semua kardus berisi surat dan karya murid-muridku sudah dibuang semua. Dia menangis menggerung-gerung. Well, aku sebenarnya tidak yakin bagaimana perasaanku saat ini. Ada sedih sih, karena itu semua kan kenangan riil bahwa aku pernah ada di sini ya. Benda-benda itu adalah bukti bahwa aku pernah menjadi bagian dari semua ini. Bahwa benar ada anak-anak yang pernah memanggilku “bu guru” dan mengerjakan tugas-tugas yang aku minta. Dan pada saat semua itu hilang, yang ada tinggal kenangan saja, tersimpan di dalam kepalaku entah sampai kapan.

Well, jika saja benda-benda tersebut masih lengkap tersimpan sampai nanti saatnya program ini selesai, apakah aku akan membawa semuanya kembali ke Bandung? Mungkin tidak sih. Jadi, mungkin memang benar, yang sama-sama kami miliki, aku dan muridku, adalah kenangan saja. Kenangan di kepala, yang akan tersimpan entah sampai kapan.

Selasa, 12 Juli 2011

Kehebohan hari ini!!! Tiba-tiba ada kakak dari seorang muridku datang ke sekolah dan meminta tolong aku untuk mendonorkan darah untuk adiknya yang sakit di rumah sakit. Astagaaaaaa, seumur hidup aku belum pernah donor darah. Disuntik saja takutnya setengah mati. Tapi masa ya menolak diminta bantuan hidup mati seperti itu? Akupun mengiyakan.

Paman si sakit kemudian memboncengku dengan motor menuju RSUD di Majene. Sepanjang perjalanan pikiran lebayku ini sudah memikirkan berbagai kemungkinan terburuk. Pingsan lah, kurang darahlah, dan lain-lain (Haha such a drama queen…). Harusnya ini tidak semenyeramkan yang dibayangkan ya. Aku sering kok diambil darah. Well, rasanya tidak menyenangkan sih, but I’m still alive. Selama ini aku sering mencoba untuk ikut donor darah, tetapi selalu ditolak dengan alasan berat badanku kurang. Tapi kupikir tak ada salahnya mencoba ya, mungkin untuk kasus darurat seperti ini ada pengecualian.

Sesampainya di Rumah Sakit, keluarga si sakit langsung menyambutku dengan hangat dan dengan wajah penuh terima kasih. Aku pun berkenalan dengan si sakit yang ternyata namanya Sabri. Sabri ini memang penyakitan sekali. Adiknya adalah muridku di kelas lima yang lalu. Muridku ini sering bercerita kalau kakaknya sakit. Berulang-ulang keluar masuk rumah sakit. Dia bilang kakaknya menderita anemia parah. Kalau versi warga kampung sih, sakitnya karena kesurupan (yea right…)

Hal lucu terjadi, ketika mengobrol dengan keluarganya, ada beberapa anggota keluarga yang lain berbisik-bisik di belakangku. (bla bla bla kecu sanna..). Kecu sanna adalah Bahasa Mandar yang berarti kecil sekali. Ternyata, ada saudara Sabri yang juga berniat untuk menyumbangkan darah tapi ditolak oleh pihak rumah sakit karena beratnya kurang dari 60kg. Hahaha, ya otomatis aku juga tidak bisa mendonor darah. Beratku kan cuma 30kg-an. XD

Alhasil, aku dan keluarga Sabri sama-sama tidak enak. Kami saling cengengesan karena merasa tidak enak satu sama lain. Mereka tidak enak karena telah menculikku dari sekolah tapi ternyata tidak jadi diambil darah. Dan aku juga tidak enak karena kurang gemuk sehingga tidak bisa ikut membantu. Maka pulanglah aku dengan perasaan menyesal, sekaligus lega. Huff kali ini kubantu doa dulu saja ya….

 

Minggu, 10 Juli 2011

Ini adalah malam terakhir liburan. Libur 2 minggu berlalu begitu cepatnya. Memang kalau namanya liburan tidak akan pernah cukup ya. Sekarang aku harus menghadapi besok, hari pertama di semester baru. Bagaimana ya rasanya. Hmm, aku akan tetap memegang kelas 5. Tapi dengan suasana yang berbeda tentunya. Aku akan berhadapan dengan murid-murid baru.

Aku cukup excited untuk mengajar mereka semester ini. Pengalamanku mengajar mereka di kelas 4 yang lalu sebagian besar adalah pengalaman yang menarik. Kelas 4 ini penuh dengan anak-anak cerdas yang penuh semangat.yang paling aku suka adalah sikapnya yang baik. Mereka menghormati guru. Mereka juga menunjukkan antusiasme yang nyata ketika aku mengajar.

Aku sangat ingin kelas ini menjadi kelas yang akan selalu mereka ingat. Aku ingin diingat sebagai guru yang menyenangkan. Guru yang tidak cepat marah seperti kemarin di kelas 5 (I was, Sorry…). Aku ingin hubungan yang terbina antara kami terjalin dengan tidak kaku tapi tetap saling menghargai.

Besok adalah hari pertama. Yuk anak-anak, kembali semangat lagi di sekolah bersama-sama ya. Dengan Ibu Arrum, mari bermain dan belajar di sisa waktu Ibu di sini..

 

Minggu, 10 Juli 2011

Besok adalah hari pertama semester baru tahun ajaran 2011/2012. Semester lalu kututup dengan cukup baik bersama dengan anak-anak kelas 5. Mulai esok, mereka resmi akan menjadi siswa kelas 6. Sungguh bangga aku mendengarnya. Tapi dari kabar yang kudengar, tidak semua anak akan menikmati pendidikan di kelas 6.

Kabarnya, Harjo tidak akan lanjut sekolah lagi, dia akan ikut pamannya bekerja di Pasangkayu, Kabupaten Mamuju Utara. Kalian ingat Harjo? Sering sekali aku menyebutkan namanya dalam jurnal-jurnalku. Harjo, musuh bebuyutanku, murid yang paling menguji kesabaranku secara konsisten setiap hari, sekaligus murid yang kusayang.

Dulu dia sering mengancam kalau dia akan putus sekolah, ikut kerja dengan pamannya di Pasangkayu. Selalu aku berkata untuk menunda rencana itu minimal sampai dia lulus SD. Lebih baik kalau dia kerja pada saat liburan saja. Tapi siapalah aku? Orang tuanya saja tidak melarangnya. Sangat disayangkan dia putus sekolah, Harjo sebenarnya adalah anak yang cerdas. Sayang sekali orang tuanya tidak melihat hal itu. Di keluarganya, semua kakaknya tidak ada yang lulus SD. Semua putus sekolah, lalu menikah di usia muda. Harjo adalah anak laki-laki pertama di keluarganya. Aku menaruh harapan yang cukup besar padanya, untuk dapat memperbaiki status sosialnya dan keluarganya. Tapi harapan itu kandas sudah. Memang bukan berarti dengan tidak sekolah, masa depannya akan turut hancur. Tapi aku percaya dengan sekolah, kesempatan akan masa depan yang lebih baik itu akan terbuka lebih lebar.

Jujur aku merasa sedih. Semua usaha dan nasehat yang kuberikan tidak ada pengaruhnya untuknya. Well, semoga ini memang jalan yang terbaik baginya dan keluarganya. Semoga Harjo dapat menggapai impiannya dengan jalan yang dipilihnya ini. Selamat jalan Harjo. Sampai bertemu lagi.

Kemah yuuuuk!!!

Barang-barang persiapan di kemah

Dear friends,

Beberapa waktu yang lalu kecamatan ku , Kecamatan Tammerodo Sendana mengadakan perkemahan. Ini adalah acara penamatan kelas 6 se-Kecamatan. I really wanna share my experiences with all of you, but let these photos tell their stories themselves ya. hehehe… Enjoy…

Mobil pick up penuh angkut setengah kelas

Main di pantai

kemahnya pakai seragam pramuka

beautiful sunset.. u have to see it yourself!!

Pelangi muncul bersamaan dgn matahari terbenam 🙂

Another cool pic

Acara khataman Alquran

Tamatan anak TK wearing cute costumes

Becaknya bahkan dihias kapal.. lucu banget yaaa???

Juara 1-4 diberi penghargaan naik kuda Patudu (dancing horse). Nama acaranya Mesawe.

Dengan dandanan super heboh murid-murid perempuan juga ada yg naik kuda. Naik kuda itu sangat amat prestisius kalau di Mandar. Mereka berlomba jadi juara demi naik kuda.

Penghargaan oleh Diknas kepada 10 nilai tertinggi UN sekecamatan. Muridku ranking 3 dan 4 😉

Yaah kira-kira itulah gambaran besar acara penamatan yang kami lalui. Semoga tahun depan, anak-anakku yang sekarang naik kelas 6 yang ada di foto-foto di atas. Semoga sukses untuk para alumni yaaa. I’m proud of u!