Archive for September, 2011


Harjo is back!!!

10 September 2011

Good news! Harjo is back!! Huahahahahahaha….

Ini isi jurnal akan sangat pendek tapi membahagiakan sekali deeeeh…

Hari pertama aku kembali ke sekolah, anak-anak kelas 6 ribut berteriak-teriak “Bu, Harjo sekolah bu, Harjo sekolah!!”. Wah ketika aku menoleh memang benar dia kembali ke sekolah. dengan cengiran khas dan baju SD kekecilannya dia menghampiriku. “Kembali ka Bu” (Saya kembali Bu), katanya. Dia menyalami tanganku. Aduh aku senaaaang sekali. Ditambah, kata teman-temannya Harjo sekarang serius mau belajar, ada juga yang bilang dia mau datang ke rumahku setiap malam untuk belajar. Haha, let’s see about that. Kembalinya dia ke sekolah saja sudah cukup bagiku untuk sekarang.

PS : Maaf ya Reader’s Digest, kalau mau bikin edisi revisi kembalinya Harjo ke sekolah boleh loh.. hehehe

Advertisements

Sabtu, 10 September 2011

Malam pertama aku kembali lagi ke desa Manyamba di pedalaman Majene. Malam pertama setelah sekian lama aku merasakan nyamannya hidup di perkotaan. Dengan segala kemudahan dan kehedonismeannya. Malam ini juga aku mengeluh, aku merenung, dan aku akan menuliskan semuanya.

Sungguh kehidupan yang sangat berbeda, pikirku. Antara kehidupan yang dulu kujalani di Bandung dan Jakarta dengan kehidupan yang kujalani satu tahun di sini. Bagaimana tidak berbeda? Di Bandung, mau kemana-kemana gampang, sarana transportasi melimpah ruah bahkan sampai larut malam. Kalau lapar tinggal ambil di lemari, bahkan jika harus memasak pun, tinggal sekali klik kompor menyala dan goreng nugget yang sudah tersedia di lemari es. Mau SMS atau telepon tinggal pencet, tidak usah cari jaringan di atas kursi dan berharap jaringan cukup kuat untuk dapat tembus telepon. Kalau bosan, banyak sekali alternatif hiburan yang dapat dipilih, mulai dari nonton TV kabel, internetan di rumah, main ke mall, bioskop, nongkrong di café, you name it. Sementara di sini, vice versa.

Pernah terbersit perasaan malas yang amat sangat untuk kembali lagi ke daerah penempatan. Kembali lagi ke keterbatasan hampir di semua hal dan meninggalkan segala kenyamanan.

Sebenarnya aku ingin pura-pura buta saja, mengacuhkan sisi lain dari Indonesia yang baru kulihat sekarang. Aku ingin hidupku dan keluargaku layak, hidup enak di kota, dan tidak memikirkan apa yang saudara sebangsaku rasakan di pedalaman. Perlu digarisbawahi, ini bukan edisi “Termehek-Mehek” atau “Jika Aku Menjadi” seperti yang tayang di TV ya. Masyarakat di sini tidak sedih akan segala keterbatasannya, sehingga mereka tidak perlu kita, “masyarakat kota”, untuk mengasihani mereka akan hidup dimana mereka sebenarnya bahagia di dalamnya. Benar mereka bahagia, aku pernah menjadi bagian di dalamnya. Tapi benar juga kalau mereka masih hidup dalam keterbatasan. Listrik, akses, dan banyak hal lain yang kita anggap remeh tapi masih menjadi barang mewah bagi masyarakat di sini.  Mereka tidak sadar apa saja kesempatan yang seharusnya dapat menjadi milik mereka jika saja mereka punya apa yang kita punya.

Bagi kalian yang belum pernah berada di posisiku sekarang, perbedaan yang kita punya adalah, aku MEMAKSA diri dan sekarang sudah TERLANJUR menyaksikan kesenjangan itu itu kawan. Semua keterbatasan itu dipaparkan dengan gamblang di depan mataku. Masih bisa pura-pura buta?

Jujur aku juga ingin menjadi bagian dari orang-orang hebat yang nantinya akan mengubah nasib bangsa kita. Tapi aku belum berani berkomitmen. Aku belum berani bercita-cita. Yang bisa kulakukan sekarang adalah bersyukur, dan menjalani sisa dua bulanku di sini dengan sebaik-baiknya.