Archive for July, 2011


Kamis, 28 July 2011

Sudah sekitar tiga minggu aku memulai semester baru ini. Namun baru kali ini aku akhirnya menuliskan bagaimana rasanya memulai kembali pengalaman mengajarku.

Pengalamanku bersama murid kelas 5 yang lalu, bisa dibilang, sangat menantang. Setiap harinya selalu saja ada masalah yang mereka buat di kelas. Berkelahi, membuat teman menangis, tidak menghargai guru, dan semua kekesalan lain yang begitu kreatifnya mereka buat sebagai hadiah untukku. Makanya aku menyebut mereka, my little monsters.

Di semester baru ini, aku tetap menjadi wali kelas di kelas 5. Berarti, murid-muridnya adalah murid kelas 4 tahun lalu. Dan bisa dibilang, anak-anakku yang sekarang berkebalikan 1800 dari murid-muridku yang dulu. 22 anak kelas yang sekarang adalah kumpulan anak manis yang berkelakuan sangat baik. Mata anak yang berbinar pada saat menerima pelajaran benar-benar terlihat saat aku mengajar mereka. Hampir semua aktivitas belajar mereka jalani dengan penuh semangat. Setiap ada permainan di kelas, mereka menampakkan wajah-wajah tulus yang bahagia. Dan Subhanallah mereka adalah kumpulan anak-anak cerdas. Aku sangat bangga dan bahagia, ketika mereka dengan semangat mempraktekkan bahasa Inggris yang aku ajarkan di kelas. “Hello teacher” sapa mereka.

Kami juga punya beberapa peraturan di kelas, yang ajaibnya mereka patuhi dengan baik sampai membuatku terkagum-kagum sendiri. Contohnya, aku ingin jika ada yang izin keluar kelas, satu orang saja setiap kali izin, agar kelas tidak kosong dan mereka bisa belajar dengan tenang. Jadi jika ada yang ingin keluar tapi masih ada temannya di luar kelas, mereka akan mengingatkan temannya sendiri, “Jangan dulu, masih ada yang di luar”. Aku sampai menahan senyum.

Anak yang menjabat sebagai penjaga kelas juga tampak sangat menghayati perannya tersebut. Dia sangat berjasa membantuku menertibkan teman-temannya kalau mereka mulai ribut. Yah, namanya juga anak-anak, mereka masih suka berjalan-jalan di kelas dan kadang tampak malas menulis. Tapi itu jarang terjadi.

Satu lagi yang menurutku mengagumkan. Aku masih menjalankan program menabung di kelas. Dan seperti sering kita baca di buku Pkn, mereka adalah anak yang rajin menabung. Rajin sekali, sampai total tabung mereka sudah lebih Rp 100.000,00 dalam waktu yang singkat.

Karena karakter mereka yang begitu baik, aku tidak segan memberi dan mempercayakan buku-buku perpustakaan di kelas. Kami membuat perpustakaan kelas bersama. Setelah buku-buku itu dibungkus plastik, mereka menyimpannya dengan rapi di belakang kelas. Dan dengan tekun membacanya ketika waktu istirahat.

Oleh karena itu, aku menyebut mereka my little angles.

Haha, terdengar tidak adil ya, bagaimana aku mendikotomikan murid-muridku seperti itu. Tapi, aku sangat berterima kasih pada mereka. Bayangkan, jika aku hanya mendapat anak-anak dengan karakter bak malaikat seperti ini sepanjang program. Aku tentu tak akan tahu bagaimana rasanya mengajar di kelas yang penuh tantangan setiap hari. Kedua tipe muridku ini benar-benar menjadi guru yang sangat berharga bagiku. Masa awalku mengajar ditemani dengan penuh peluh dan kesabaran menghadapi the little monsters dan akhir perjalananku ditutup dengan manis oleh my little angels. One thing for sure, both of my little monsters and angels, I love u all very much

 

Advertisements

Kamis, 28 July 2011

It has been a while since I wrote my last journal. So, here it is..

Beberapa hari yang lalu, aku bersih-bersih kamar. Everybody here knows that I HATE cockroach. Penampakan kecoak dari kardus-kardus yang menumpuk beberapa hari yang lalu membuatku histeris dan langsung mengobrak-abrik kamarku yang seperti kapal pecah itu. Kardus-kardus yang menumpuk di bawah meja aku keluarkan semua. Tugas-tugas anak-anak yang berserakan di bawah tempat tidur juga aku sisihkan.

Ketika saatnya menyortir mana yang mau aku simpan dan yang kubuang, aku melihat lagi karya-karya anak kelas 5 yang lalu. Ada origrami, surat-surat pribadi mereka untukku, dan tugas-tugas kerajinan lainnya. Sejujurnya benda-benda itu bukan benda yang bisa dibilang tidak ada nilai gunanya lagi. Malahan, benda-benda itu menjadi sampah yang menumpuk di kamarku yang mungil.

Aku memisahkan benda-benda yang masih mungkin digunakan seperti hiasan-hiasan dan origami di satu kardus, dan kertas-kertas yang tidak akan terpakai lagi di kardus yang lain. Surat-surat dan pohon mimpi yang dibuat oleh anak-anak masih kusimpan di kardus yang masih akan kusimpan.

Baru saja sore ini, adikku yang paling kecil menangis dan mengadu. Katanya semua kertas lipat yang pernah kuberi, mainan bongkar pasang, dan semua kardus berisi surat dan karya murid-muridku sudah dibuang semua. Dia menangis menggerung-gerung. Well, aku sebenarnya tidak yakin bagaimana perasaanku saat ini. Ada sedih sih, karena itu semua kan kenangan riil bahwa aku pernah ada di sini ya. Benda-benda itu adalah bukti bahwa aku pernah menjadi bagian dari semua ini. Bahwa benar ada anak-anak yang pernah memanggilku “bu guru” dan mengerjakan tugas-tugas yang aku minta. Dan pada saat semua itu hilang, yang ada tinggal kenangan saja, tersimpan di dalam kepalaku entah sampai kapan.

Well, jika saja benda-benda tersebut masih lengkap tersimpan sampai nanti saatnya program ini selesai, apakah aku akan membawa semuanya kembali ke Bandung? Mungkin tidak sih. Jadi, mungkin memang benar, yang sama-sama kami miliki, aku dan muridku, adalah kenangan saja. Kenangan di kepala, yang akan tersimpan entah sampai kapan.

Selasa, 12 Juli 2011

Kehebohan hari ini!!! Tiba-tiba ada kakak dari seorang muridku datang ke sekolah dan meminta tolong aku untuk mendonorkan darah untuk adiknya yang sakit di rumah sakit. Astagaaaaaa, seumur hidup aku belum pernah donor darah. Disuntik saja takutnya setengah mati. Tapi masa ya menolak diminta bantuan hidup mati seperti itu? Akupun mengiyakan.

Paman si sakit kemudian memboncengku dengan motor menuju RSUD di Majene. Sepanjang perjalanan pikiran lebayku ini sudah memikirkan berbagai kemungkinan terburuk. Pingsan lah, kurang darahlah, dan lain-lain (Haha such a drama queen…). Harusnya ini tidak semenyeramkan yang dibayangkan ya. Aku sering kok diambil darah. Well, rasanya tidak menyenangkan sih, but I’m still alive. Selama ini aku sering mencoba untuk ikut donor darah, tetapi selalu ditolak dengan alasan berat badanku kurang. Tapi kupikir tak ada salahnya mencoba ya, mungkin untuk kasus darurat seperti ini ada pengecualian.

Sesampainya di Rumah Sakit, keluarga si sakit langsung menyambutku dengan hangat dan dengan wajah penuh terima kasih. Aku pun berkenalan dengan si sakit yang ternyata namanya Sabri. Sabri ini memang penyakitan sekali. Adiknya adalah muridku di kelas lima yang lalu. Muridku ini sering bercerita kalau kakaknya sakit. Berulang-ulang keluar masuk rumah sakit. Dia bilang kakaknya menderita anemia parah. Kalau versi warga kampung sih, sakitnya karena kesurupan (yea right…)

Hal lucu terjadi, ketika mengobrol dengan keluarganya, ada beberapa anggota keluarga yang lain berbisik-bisik di belakangku. (bla bla bla kecu sanna..). Kecu sanna adalah Bahasa Mandar yang berarti kecil sekali. Ternyata, ada saudara Sabri yang juga berniat untuk menyumbangkan darah tapi ditolak oleh pihak rumah sakit karena beratnya kurang dari 60kg. Hahaha, ya otomatis aku juga tidak bisa mendonor darah. Beratku kan cuma 30kg-an. XD

Alhasil, aku dan keluarga Sabri sama-sama tidak enak. Kami saling cengengesan karena merasa tidak enak satu sama lain. Mereka tidak enak karena telah menculikku dari sekolah tapi ternyata tidak jadi diambil darah. Dan aku juga tidak enak karena kurang gemuk sehingga tidak bisa ikut membantu. Maka pulanglah aku dengan perasaan menyesal, sekaligus lega. Huff kali ini kubantu doa dulu saja ya….

 

Minggu, 10 Juli 2011

Ini adalah malam terakhir liburan. Libur 2 minggu berlalu begitu cepatnya. Memang kalau namanya liburan tidak akan pernah cukup ya. Sekarang aku harus menghadapi besok, hari pertama di semester baru. Bagaimana ya rasanya. Hmm, aku akan tetap memegang kelas 5. Tapi dengan suasana yang berbeda tentunya. Aku akan berhadapan dengan murid-murid baru.

Aku cukup excited untuk mengajar mereka semester ini. Pengalamanku mengajar mereka di kelas 4 yang lalu sebagian besar adalah pengalaman yang menarik. Kelas 4 ini penuh dengan anak-anak cerdas yang penuh semangat.yang paling aku suka adalah sikapnya yang baik. Mereka menghormati guru. Mereka juga menunjukkan antusiasme yang nyata ketika aku mengajar.

Aku sangat ingin kelas ini menjadi kelas yang akan selalu mereka ingat. Aku ingin diingat sebagai guru yang menyenangkan. Guru yang tidak cepat marah seperti kemarin di kelas 5 (I was, Sorry…). Aku ingin hubungan yang terbina antara kami terjalin dengan tidak kaku tapi tetap saling menghargai.

Besok adalah hari pertama. Yuk anak-anak, kembali semangat lagi di sekolah bersama-sama ya. Dengan Ibu Arrum, mari bermain dan belajar di sisa waktu Ibu di sini..

 

Minggu, 10 Juli 2011

Besok adalah hari pertama semester baru tahun ajaran 2011/2012. Semester lalu kututup dengan cukup baik bersama dengan anak-anak kelas 5. Mulai esok, mereka resmi akan menjadi siswa kelas 6. Sungguh bangga aku mendengarnya. Tapi dari kabar yang kudengar, tidak semua anak akan menikmati pendidikan di kelas 6.

Kabarnya, Harjo tidak akan lanjut sekolah lagi, dia akan ikut pamannya bekerja di Pasangkayu, Kabupaten Mamuju Utara. Kalian ingat Harjo? Sering sekali aku menyebutkan namanya dalam jurnal-jurnalku. Harjo, musuh bebuyutanku, murid yang paling menguji kesabaranku secara konsisten setiap hari, sekaligus murid yang kusayang.

Dulu dia sering mengancam kalau dia akan putus sekolah, ikut kerja dengan pamannya di Pasangkayu. Selalu aku berkata untuk menunda rencana itu minimal sampai dia lulus SD. Lebih baik kalau dia kerja pada saat liburan saja. Tapi siapalah aku? Orang tuanya saja tidak melarangnya. Sangat disayangkan dia putus sekolah, Harjo sebenarnya adalah anak yang cerdas. Sayang sekali orang tuanya tidak melihat hal itu. Di keluarganya, semua kakaknya tidak ada yang lulus SD. Semua putus sekolah, lalu menikah di usia muda. Harjo adalah anak laki-laki pertama di keluarganya. Aku menaruh harapan yang cukup besar padanya, untuk dapat memperbaiki status sosialnya dan keluarganya. Tapi harapan itu kandas sudah. Memang bukan berarti dengan tidak sekolah, masa depannya akan turut hancur. Tapi aku percaya dengan sekolah, kesempatan akan masa depan yang lebih baik itu akan terbuka lebih lebar.

Jujur aku merasa sedih. Semua usaha dan nasehat yang kuberikan tidak ada pengaruhnya untuknya. Well, semoga ini memang jalan yang terbaik baginya dan keluarganya. Semoga Harjo dapat menggapai impiannya dengan jalan yang dipilihnya ini. Selamat jalan Harjo. Sampai bertemu lagi.