Archive for June, 2011


Kemah yuuuuk!!!

Barang-barang persiapan di kemah

Dear friends,

Beberapa waktu yang lalu kecamatan ku , Kecamatan Tammerodo Sendana mengadakan perkemahan. Ini adalah acara penamatan kelas 6 se-Kecamatan. I really wanna share my experiences with all of you, but let these photos tell their stories themselves ya. hehehe… Enjoy…

Mobil pick up penuh angkut setengah kelas

Main di pantai

kemahnya pakai seragam pramuka

beautiful sunset.. u have to see it yourself!!

Pelangi muncul bersamaan dgn matahari terbenam 🙂

Another cool pic

Acara khataman Alquran

Tamatan anak TK wearing cute costumes

Becaknya bahkan dihias kapal.. lucu banget yaaa???

Juara 1-4 diberi penghargaan naik kuda Patudu (dancing horse). Nama acaranya Mesawe.

Dengan dandanan super heboh murid-murid perempuan juga ada yg naik kuda. Naik kuda itu sangat amat prestisius kalau di Mandar. Mereka berlomba jadi juara demi naik kuda.

Penghargaan oleh Diknas kepada 10 nilai tertinggi UN sekecamatan. Muridku ranking 3 dan 4 😉

Yaah kira-kira itulah gambaran besar acara penamatan yang kami lalui. Semoga tahun depan, anak-anakku yang sekarang naik kelas 6 yang ada di foto-foto di atas. Semoga sukses untuk para alumni yaaa. I’m proud of u!

Advertisements

Tanggal 14 Juni yang lalu, Alhamdulillah aku berkesempatan diikunjungi oleh seorang superstar yang jauh-jauh datang dari Bandung. Yup, my mom is coming to town. Ceritanya ibuku sedang mendapat proyek di Maluku Utara, di perjalanan pulangnya ke Bandung, beliau menyempatkan untuk singgah di Sulawesi Barat.

Tanggal 14 sore, aku menjemput mama di Kota Majene. Mama tiba sudah menjelang Magrib. Setelah itu kami bersama menuju desa ku, Galuh Sangala. Sesampainya di rumah, wah, rumahku sudah ramaiiiii sekali. Mengingatkanku akan hari pertama kedatanganku ke desa. Malahan kata ibu, tadi siang jauh lebih ramai. Mereka penasaran dengan mamaknya bu guru. Hihi.. Ada-ada saja.

Kedatangan mama seperti Sinterklas. Dia membawa sekantung besar makanan yang dibagi-bagikan pada anak-anak. Berbagai macam biscuit dan wafer langsung habis malam itu. Yang seru adalah keesokan harinya. Mama datang ke sekolah. Dia bilang dia ingin masuk kelas dan berkenalan dengan murid-muridku.

My mom is a superstar, no doubt about that. Di kelas, berkumpul semua anak-anak dari kelas 1-6, dengan bersemangat mendengarkan dan mengikuti permainan yang mama berikan. Banyak sekali nasihat-nasihat yang beliau berikan untuk anak-anak. Di antaranya adalah jangan pernah takut untuk menulis. Karena dengan tulisan, dapat membawa kita ke mana saja. Mama memberikan contoh Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi, yang berasal dari pedalaman tetapi menjadi orang yang berhasil karena tulisannya. Mama juga berpesan pada anak-anak untuk berani menjadi pemimpin. Karena ketika mereka sudah besar, mereka diharapkan dapat memimpin bangsa.

Greeting my students

Delvi dan Ina, membaca puisi untuk ibuku

Kaya gula dirubung semut

Kelasku penuuuuh sekaliiiii...

Setelah berbagai macam kuis, permainan, acara bagi-bagi kue, sampai akhirnya anak-anak makin menggila dan mama kewalahan, kami pun kembali ke kantor. Di sana mama berbincang dengan guru-guru dan kepala sekolah. Kehadirannya hari itu benar-benar memberi warna di sekolah. Siang itu mama kembali ke Majene untuk menginap lagi satu malam. Di perjalanan, tak ketinggalan kami singgah di warung ikan terbang Somba dan kelapa muda Apoang. Di sana datang juga Pengajar Muda Majene yang lain, Fauzan dan Adeline , untuk bersilaturahmi dengan mama. Setelah kenyang makan ikan dan kelapa, kami melanjutkan perjalanan ke Majene. Mama menginap satu malam sebelum keesokan paginya menuju Makassar lagi untuk terbang pulang ke Bandung. It was a nice time that you were here, Mom. Thanks a lot ya..

Jumat, 3 Juni 2011

Hari ini masih hari libur, pemerintah menetapkan hari ini sebagai cuti bersama. Sepulangku dari les siang tadi, aku membantu mamak memasak di dapur. Dulu pada awalnya, aku hanya diizinkan membantu sedikit. Alasannya tidak usahlah, nanti merepotkanlah, bu guru tidak biasalah, dan lain-lain. Tapi aku sekarang sudah lumayan kok bisa membantu mamak memasak. Aku bisa memotong dan mengiris dengan cukup baik. Aku bisa menggoreng dengan lumayan, yaah minimal bakwan bisalah. Aku bisa makellu anjoro atau memarut kelapa dengan alat khusus tradisional Mandar. Setelah itu aku bisa membuat santannya. Aku bisa mencuci piring dengan peralatan yang seadanya di sini. Satu hal yang aku sangat penasaran untuk bisa adalah menumbuk padi.

Menumbuk padi ini ternyata tidak semudah kelihatannya. Tongkat penumbuk yang lumayan besar dan berat itu, harus tepat mengenai lubang di dalam lisung padinya. Kalau tidak, padi di dalam akan berhamburan keluar. Aku sudah beberapa kali mencoba, tapi masih belum bisa juga. Dengan sekuat tenaga kuayunkan penumbuk padi ke tengah lisung. Tapi meleset. Pyaaar, padi-padi berhamburan ke tanah jadi makanan ayam. Heuh..

Sebenarnya aku tidak berputus asa, asal aku diberikan kesempatan untuk belajar. Dan orang-orang membiarkanku belajar. Masalahnya, memang keberadaanku sendiri saja sudah cukup aneh dan menarik perhatian di sini, apalagi kalau aku mencoba hal-hal baru. Misal, waktu aku ikut main voli dengan ramaja setempat saja, wuih ramainyaaa yang nonton. Ada yang memberi semangat, lebih banyak lagi yang tertawa. Well, beside volley is just not my thing. Begitu juga dengan menumbuk padi.

Karena  tahu aku memang tidak bisa menumpuk padi, aku mencoba membantu di tempat lain. Matapi pari. Atau memisahkan padi dari gabah menggunakan tempayan. Itu loh, gabah disimpan di atas tempayan lalu dilempar-lempar untuk memisahkan padi dari kulitnya. Pada awalnya orang-orang menertawaiku. Tapi ternyata matapi tidak terlalu susah. Aku bisa membersihkan padi sendiri.

Di sebelah sana, adik-adikku sedang menumbuk padi. Hmm, mumpung di jalan tidak terlalu ramai, aku ingin mencoba lagi. Siapa tahu sekarang ada peningkatan. Tapi ternyata tidak juga, padinya masih berhamburan keluar lisung. Ah, aku sebenarnya masa bodoh, namanya belajar kan pasti ada proses, pikirku. Tapiiiiii, kenapa tekanan lingkungan ini sangat membuat mental jadi ciut ya. Mamak, adik-adik dan tetangga bukannya membiarkan aku belajar malahan bilang,”Tidak usah lah bu guru, nanti tangannya jadi kasar”, “Tidak usah lah bu guru, pelajari yang ringan-ringan saja”, dan sebagainya.

Aku jadi malas rasanya untuk terus ada di sana dan belajar.

Mungkin hal ini bisa dianalogikan dengan cara belajar siswa ya? Seriiiing sekali ada murid yang ndableg, susah sekali pelajaran masuk ke otaknya. Tapi hati-hati, sekalinya kita bilang, “Bodoh kamu”, atau “Kamu tidak akan bisa”, maka itulah yang akan masuk ke dalam pikiran mereka.

Kamis, 2 Juni 2011

Hari ini hari libur. Horeeee… Besok juga libur, cuti bersama. Tapi aku tetap akan memberikan les untuk kelas 5. Belajar IPS. Bukannya aku rajin ya, tapi kalau tidak les nanti mereka tidak belajar lagi. Kepsek sudah mewanti-wanti untuk memberikan nilai dengan jujur, jangan ada yang didongkrak. Haha..

Minggu depan ulangan umum dimulai. Sepertinya serentak di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, maklum saja kalau di milis pengajar muda sedang ramai membicarakan tentang ujian. Lebih tepatnya, assessment atau penilaian.

Pada dasarnya, bentuk penilaian yang baik adalah yang menguji pemahaman siswa akan aplikasi dari ilmu yang mereka pelajari. Bukan bentuk tes yang menguji hapalan seperti yang biasa aku, kamu dan kalian semua pernah kerjakan waktu SD dulu. (Atau mungkin sampai sekolah-sekolah lanjutannya?). Sehingga sebaiknya bentuk soalnya pun adalah open book. Coba diingat lagi, dulu waktu SD siapa yang pernah diberi ulangan tapi boleh buka buku?? Bentuk penilaian yang kerap diberikan oleh guru-guru kita adalah tes yang hanya menguji pengetahuan siswa saja. Hanya sebatas hapalan. Bukan implementasi, apalagi evaluasi.

Well, ternyata bentuk tes seperti itu menghambat potensi siswa untuk berkembang. Tapi setahu saya, pengetahuan atau mengingat, ada di tingkat terbawah dari level pemahaman seseorang. Level ini namanya Taksonomi Bloom.

Taksonomi ini terdiri dari enam tingkatan, berikut adalah tabelnya:

Taksonomi Bloom Definisi Contoh Pertanyaan
Pengetahuan / mengingat Ingatan atas materi yang diajarkan Kapan terjadinya … ?Ada berapa … ?
Pengertian / arti Kemampuan menangkap informasi Apa yang dimaksud … ?Apa perbedaan … ?
Aplikasi / menerapkan Kemampuan menerapkan materi Jelaskan langkah-langkah … ?Sebutkan contoh lain dari … ?
Analisis / menerapkan Kemampuan mengurai materi sehingga lebih mudah dipahami Apa hubungan antara … ?Apa komponen dari?
Sintesis / menyatukan Kemampuan menyatukan komponen Rancanglah sebuah … 
Evaluasi / menilai ulang Kemampuan menilai suatu materi Bagaimana menurutmu jika… ? 

Setelah aku melihat bentuk soal ulangan umum semester ini, ternyata persis seperti yang diduga sebelumnya. Hampir semua isinya adalah hapalan semata. Beruntunglah anak-anak yang mempunyai daya ingat yang luar biasa. Dan akan sangat malang bagi mereka yang memang tidak pernah membuka bukunya.

Dulu, pernah aku mencoba bentuk ulangan open book dengan tipe pertanyaan aplikasi dan evaluasi. Tapi ternyata hasilnya tidak terlalu sesuai dengan keinginan. Menurutku karena dari kelas 1, mereka sudah terbiasa terpaku pada apa yang ada di buku saja. Semua jawaban pasti ada di buku. Jadi begitu diberikan soal yang merupakan pengembangan materi, sepertinya mereka bingung.

Ternyata penilaian yang baik harus didukung mulai dari proses pemahaman pada awalnya. Tidak terlepas juga proses pembiasaan pola pikir anak. Menurutku ada baiknya jika di kesehariannya, anak dirangsang untuk berpikir kritis dengan membiasakan mereka dengan pertanyaan-pertanyaan kenapa dan bagaimana.

Senin, 30 May 2011

Hari ini adalah H-7 ulangan umum kenaikan kelas. Minggu ini aku berencana mengulang lagi pelajaran dari awal semester sampai pada akhir semester 2. Satu hari satu pelajaran. Dan hari ini kami belajar PKn.

Sebelum mulai belajar, aku teringat tentang konferensi rembuk pendidikan yang baru saja kuhadiri akhir pekan lalu. Dari berbagai macam permasalahan di bidang pendidikan, setelah diteliti, ternyata akar permasalahan adalah ketidakmampuan guru untuk memahami dan menyampaikan esensi dari pendidikan itu sendiri. Pratik yang sering terjadi hanyalah upaya untuk menggugurkan kewajiban dari seorang guru pada murid, dengan cara memindahkan pengetahuan dari buku mentah-mentah ke dalam benak murid. Tanpa murid tersebut mengerti, untuk apa saya belajar? Untuk apa saya sekolah? Kemarin sempat terlontar juga, yang menjadi suatu perdebatan di Komisi 2, apa sih pentingnya anak melanjutkan sekolah dari SD ke SMP? Waduh, kenapa ya..

Jadi, pagi ini sebelum aku memulai pelajaran, aku tergelitik untuk melemparkan pertanyaan ini pada murid-muridku. “Kenapa kalian harus sekolah?”. Jawaban-jawaban awal yang kudengar masih klise. Untuk menuntut ilmu, Bu”, kata mereka. “Supaya baik!”. Tiba-tiba terdengar suara keras Harjo di sebelah kiri. Ini dia jawaban yang aku harapkan. Mendengar jawaban itu terlontar dari Harjo, anak paling nakal di kelas, rasanya lucu juga. But anyway, ternyata mereka sudah tahu kalau sekolah itu bukan hanya ajang untuk mencerdaskan diri secara kognitif. Di balik semua itu, sekolah adalah tempat pembentukan karakter untuk menjadi manusia dengan budi pekerti yang baik. Aku senang sekali ada dari mereka yang menjawab seperti itu.

“Selain itu ada yang punya jawaban yang lain?”. Kemudian mereka kembali lagi ribut meneriakkan jawabannya masing-masing. “Supaya pintar, Bu!”. “Kenapa memangnya kalian harus pintar?”, tanyaku lagi. “Supaya bisa mencapai cita-cita Bu!”. “Bukannya kalian punya kebun? Tanpa sekolahpun bisa kan dapat uang dari sana?”. Ternyata, cita-cita mereka bukan hanya sekedar menjadi penjaga kebun. Cita-cita mereka bermacam-macam. Dan mereka berpikir untuk mencapainya mereka harus sekolah.

Cita-cita itu menurutku adalah bentuk dari pilihan. Menurutku, mereka harus sekolah untuk membuka pilihan dan kesempatan untuk masa depan mereka. Jika memang mereka berkeinginan menikah lalu jadi petani kebun tak masalah, asal itu adalah pilihan mereka. Bukannya terpaksa harus seperti itu.

Aku bangga dengan murid-muridku pagi ini. Mereka sudah bisa membedakan nilai manusia yang tedidik dan yang tidak. Dan menentukan mereka ingin menjadi yang mana. Pagi ini aku melihat semangat mereka untuk terus mengenyam pendidikan.

Jika boleh, aku minta tolong pada siapapun yang membaca tulisan ini, bantu aku mendoakan mereka agar generasi penerus bangsa ini dapat terus bersekolah, menjadi orang yang terdidik, dan dapat menjadi tiang bangsa yang kokoh. Amin Yarabbal ‘alamin..

Pada tanggal 27 -29 Mei 2011 yang lalu, tim Indonesia Mengajar Majene mendapat kehormatan untuk mengikuti acara Rembuk Pendidikan Sulawesi Barat. Output dari pertemuan ini luar biasa, yaitu membuat sinkronisasi dan grand design pendidikan dalam rangka MDG (Millenium Develompent Goals) pada tahun 2015.

Kami mendapat undangan dari Ketua Dinas Pendidikan Provinsi Sulbar. Dalam undangannya, beliau sangat berharap Indonesia Mengajar dapat memberikan kontribusi berupa sumbang saran dan pemikiran dalam setiap sidang yang diadakan. Jadi, berbekal harapan beliau kami mengikut kegiatan ini.

Kegiatan rembuk pendidikan ini baru pertama kali diadakan di Sulbar. Sebagai provinsi termuda di Indonesia, tentu Sulbar tidak ingin terus tertinggal dari saudara-saudara provinsi yang lain untuk berkembang, terutama di bidang pendidikannya. Menurutku, kegiatan ini memiliki niat dan tujuan yang sangat baik.

Jumat malam, acara resmi dibuka. Di sana, dipaparkan tujuan dan harapan-harapan yang ingin diwujudkan dalam kegiatan ini. Semua peserta tampak antusias. Awal yang bagus, pikirku.

Kegiatan pertama di Sabtu pagi adalah seminar, yang terdiri dari tiga topik dengan tiga narasumber. Di antaranya adalah, Manajemen Pendidikan oleh rektor Universitas Negeri Makassar, Studi Anak di Luar Sekolah oleh UNICEF dan sekilas tentang keuangan oleh BPK. Well, sesi pertama ini cukup bagus untuk memperkaya wawasan kami dalam bidang pendidikan. Diharapkan juga, sesi pertama ini dapat menjadi masukan bagi kami untuk mengikuti sidang komisi.

Setelah sesi pertama ini, tim kami dibagi ke dalam empat sidang komisi. Komisi 1 bertugas mengurusi PAUDNI (Pendidikan Anak Usia Dini dan Non Informal), Komisi 2 untuk Dikdas (Pendidikan Dasar), Komisi 3 untuk Dikmen (Pendidikan Menengah), dan Komisi 4 bertugas membahas Data dan Kebijakan Pendidikan. Aku berada di Komisi 4 bersama kedua Pengajar Muda lainnya.

Dalam sidang ini, dibahas beberapa arahan yang merupakan isu sentral pendidikan dalam kaitannya dengan data dan kebijakan. Di antaranya adalah :

  1. IPM (Indeks Pembangunan Masyarakat)
  2. Madrasah
  3. Akurasi dan updating data
  4. Sertifikasi pendidik
  5. Pemerataan guru
  6. Sekolah terpencil dan kebijakan SATAP (Satu Atap)
  7. Koordinasi Kabupaten dan Provinsi

Pada sidang pertama, setiap perwakilan dari 5 kabupaten memaparkan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, permasalahan, serta good practice-nya. Di sini tampak setiap kabupaten memiliki concern-nya masing-masing, sampai pada akhir sesi, belum juga dirumuskan apa permasalahan-permasalahan dasar yang menjadi isu bersama satu provinsi.

Di sesi kedua, agendanya adalah identifikasi solusi dan keberlanjutan good practice. Namun sayangnya, sekali lagi tiap stakeholder merasa permasalahan yang dihadapi berbeda-beda, dengan ide solusi yang berbeda pula. Jalan sidang mulai tidak fokus, karena setiap kepala punya suaranya sendiri.

Di sesi ketiga, agendanya adalah review rencana kerja 2012. Well, sesuai dugaan, dengan input yang tidak terstruktur dari sesi sebelumnya, aku sudah bisa membayangkan sesi ketiga ini akan seperti apa jadinya. Seringkali perdebatan yang terjadi adalah debat kusir. Kasihan sekali moderator. Di sesi ini, tim Indonesia Mengajar mencoba merumuskan akar permasalahan berdasarkan input yang telah kami dengarkan dari sesi pertama. Tidak hanya itu, Fauzan juga mencoba membuat perumusan secara scientific dengan menggunakan metode-metode seperti 5 Why, Balance Score Card dan Strategic Map. Namun sayang sekali, mungkin karena perdebatan seru berlangsung, atau mungkin karena kami hanya segelintir anak ingusan yang dianggap tidak mengerti, kami tidak diberi hak bicara.

Pada sesi terakhir, agendanya adalah penyusunan visi Sulbar 2025. Penyusunan visi ini menurutku adalah pekerjaan yang tidak mudah. Yang tidak mungkin selesai hanya dalam waktu 1,5 jam. Tapi ajaib, para peserta bisa tuh, membuat visi Sulbar 2025 dalam waktu 1,5 jam tersebut. Rahasianya? Sebut saja angka berapa yang kalian suka. Contohnya, pada tahun 2025, angka UN harus 7,5. (Haha, tahun lalu saja masih di tahap 2,5). Atau, peringkat IPM Sulbar pada tahun 2025 mencapai peringkat ke-15. Atau, presentase kelulusan harus 99,9%. Tidak ada data pendukung sebagai input pengambilan keputusan.

Acara seperti ini memang baru pertama kali dilaksanakan di Sulbar. Aku tahu aku tidak pintar, aku tidak lebih tahu dari para pemangku kepentingan di provinsi ini. Tapi aku sadar kita semua masih harus sama-sama belajar.

Kegiatan ini dilaksanakan di sebuah hotel terbagus di Mamuju, ibu kota Sulawesi Barat. Fasilitasnya lengkap. Dengan ballroom super mewah, dan aula-aula yang dipakai untuk keempat sidang komisi, kamar-kamar mewah dengan pemandangan ke Laut Sulawesi, tak lupa makanan-makanan super enak yang kami nikmati lima kali sehari. Dengan jumlah peserta sekitar 150 undangan, bisa bayangkan berapa biaya yang dikeluarkan?