31 Maret 2011

Aku terinspirasi dari sesama rekan pengajar muda, Wiwin, yang sekarang juga bertugas di Majene. Dia membuat sebuah buku rahasia antara dia dan muridnya. Menurutku itu adalah ide yang sangat bagus, yang terbukti berguna mendekatkan guru dan murid secara emosional. Murid juga jadi lebih terbuka dan berani mengutarakan pikirannya padaku.

Sekitar dua minggu berjalan, hasilnya cukup baik. Anak-anak banyak yang bercerita padaku, tentang apapun. Ada yang cuma memberikan puisi dan gambar. Ada juga yang bercerita tentang permasalahan- permasalahan yang dihadapi. Namun, buku ini bagai pedang bermata dua. Di satu sisi, kita jadi dapat lebih mengerti dan dekat dengan murid. Tapi di sisi lain, mereka akan menjadi seperti keran bocor yang mengeluarkan semua cerita-cerita sedih yang sedang mereka hadapi. Jujur pertama kali membaca cerita dari salah seorang muridku, aku terkejut. Karena aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Tulisan ini adalah tentang anak tersebut. Sebut saja namanya Yuri.

Pertama kali Yuri menulis di buku rahasia, dia bercerita bahwa dia merasa dia tidak diperhatikan oleh orang tuanya. Semua saudaranya selalu dibelikan barang-barang yang bagus, sementara dia tidak pernah. Dia membeli barang-barang kebutuhannya seperti seragam sekolah dengan menggunakan uang hasil kerja kerasnya sendiri memecah batu. Kemudian di surat berikutnya, dia berkata bahwa dia ingin meneruskan sekolah setelah SD di Bandung bersamaku. Dia berkata bahwa dia ingin membuktikan pada kedua orang tuanya bahwa dia bisa membanggakan mereka berdua. Dia memohon padaku agar membawanya sepulang ku bertugas di Majene.

Biasanya Yuri adalah anak yang sangat baik. Dia selalu memperhatikan dan mengerjakan tugas yang kuminta. Memang dia termasuk anak yang cepat menangkap pelajaran. Dulu sebelum aku datang, dia terkenal sebagai anak yang sangat nakal, sampai dia tidak naik kelas karena kelakuannya itu. Tapi sekarang dia sudah berubah. Namun hari ini, dia berulah lagi. Dia membuat tiga murid perempuan menangis. Dia meninju murid-murid perempuan. Dia tidak mempedulikan aku yang memintanya untuk berhenti. Sampai aku terpaksa menghentikan pelajaran sebelum waktunya dan membawa anak-anak perempuan ke luar.

Hal itu berlangsung sampai saat pulang sekolah. Aku mencoba mendekatinya perlahan untuk menanyakan ada apa dengannya hari ini. Tapi berdasarkan pengalaman, anak yang sedang emosi tidak bisa didekati. Saat pulang sekolah, dia memberiku sebuah pesawat dari kertas yang dia titip pada temannya.  Ternyata isinya adalah surat.

Aku adalah anak yang tidak baik.

Aku tidak diberi kasih sayang oleh orang tuaku.

Maafkan aku Ibu Arrum.

Dari Yuri

Aku tidak bisa berkata-kata.

Seperti kata Ibu Wei, seorang guru tidak sebaiknya mengambil alih peran orang tua. Terlebih lagi, masukan yang aku dapat hanya dari sudut pandang murid, sehingga aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah. Apa yang sebaiknya kulakukan ya?

So readers, I really need your opinion on this..

Advertisements