My Lovely Yusril

Dia bernama Yusril. Dia adalah murid laki-lakiku di kelas 5. Dia lucu sekali, masih sangat polos khas anak-anak. Dia sering jail pada teman-temannya. Dia jarang mau menulis. Dia tidak suka angka, apalagi matematika.

Yusril, sering duduk di belakang kursiku, dan menyenderkan kepala kecilnya di punggungku. Dan berlari sambil tertawa kecil kalau aku menoleh. Yusril, sering ngambek kalau diganggu teman atau keinginannya tidak dipenuhi. Yusril kalau ngambek, akan duduk jongkok di pojok belakang kelas, menungguku menghampirinya dan bercanda dengannya. Baru  aku tahu, ternyata Yusril tidak lagi memiliki ibu.

Aku melihat bakat Yusril, terkuak di balik buku tugas matematikanya. Saat itu materi matematika adalah mengubah pecahan menjadi persen. Oh Yusril, kamu malas sekali tidak mau mengerjakan tugas yang Ibu berikan. Tapi nyatanya kamu membuat sesuatu yang lain ya? Ini adalah hasil tulisan Yusril ketika yang lain mengerjakan tugas matematika.

Yusril, oh Yusril, pintar sekali kamu menulis. Apakah benar itu hasil tulisanmu sendiri? Apakah seorang anak jail kelas 5 dapat membuat sesuatu seperti itu ? Maka untuk membuktikannya, pada pelajaran Bahasa Indonesia Ibu meminta semua anak kelas 5 untuk membuat karya Bahasa Indonesia sesuka kalian. Ada yang membuat cerpen, ada yang membuat puisi. Dan ternyata bakatmu memang nyata Yusril. Ini hasil tulisanmu kan?

Betapa imajinasimu tak ada batasnya. Lihatlah pemilihan katamu yang beragam dan terangkai indah. Memang masih banyak yang harus dipoles, tapi berlian pun harus dipoles dulu agar bisa tampak seindah itu bukan?

Terus menulis ya nak, sungguh Ibu dengan senantiasa menunggu hasil-hasil karyamu selanjutnya.

Tulisan ini Ibu buat untuk Yusril. Ucilku tersayang, Ibu sayaaaaaang  sekali sama Yusril.

Advertisements