Jumat, 25 February

Hello Friday! Hari ini mari semangat masuk sekolah. Karena hari ini pelajaran IPA. Dan aku suka sekali IPA. Karena kami akan melakukan percobaan cahaya. Aku sangat suka bab cahaya, karena semua materinya dapat dipelajari dengan percobaan walaupun dengan alat dan bahan yang minim. Anyway, percobaan berlangsung cukup lancar. Memang ada yang keluar masuk, ngobrol, walk out (tapi tidak sampai 2 menit langsung masuk lagi), tapi over all semua berjalan memuaskan. Memang sekarang aku tidak terlalu ambil pusing kalau berurusan dengan mereka. Sungguh ini adalah resep agar tidak stress. Waktu kita anak-anak dulu juga pasti tidak mau terlalu dikekang bukan?

Hari ini ada dua kejadian menarik.

Pertama, Rahmat, muridku yang mualas dan sudah 3 kali tinggal kelas baru datang ke sekolah pada saat jam istirahat pertama. Katanya dia kesiangan bangun. Teman-teman yang lain sedang keluar main. Hanya ada aku dan Rahmat di kelas. Aku dekati dia.

“Rahmat kalau Ibu boleh tahu, kamu sudah tinggal berapa kali?”, tanyaku. “Tiga Bu, kelas 1, kelas 2 dan kelas 5”. Hmm, dia tidak boleh tinggal kelas lagi pikirku. Tapi kelakuannya memang benar-benar membuatku tergoda untuk tidak menaikkannya ke kelas 6. Belum lagi kemampuan kognitifnya yang sangat kurang. Aku kuatir nanti dia akan stress kalau dipaksa mengikuti pelajaran di kelas 6. “Rahmat hobinya apa sih? Main bola? Membaca? Dengar musik?”, tanyaku lagi. “Main bola, Bu”. “Begini Rahmat, Ibu sangat ingin menaikkan kamu ke kelas 6. Tapi kalau perilaku kamu masih terus seperti yang sekarang, Ibu berat Nak. Ibu takut  kamu stress nanti di kelas 6. Bagaimana kalau kita buat kesepakatan? Pada saat jam pelajaran, kamu ikuti dengan baik. Tidak main di luar. Kalau ada tugas tidak mencontek pekerjaan teman. Kalau Ibu menerangkan kamu mendengarkan dan mencatat. Nanti setiap pergantian pelajaran, walaupun bukan keluar main, kamu boleh keluar kelas. Kamu boleh lari-lari, main sepeda, pokoknya terserah kamu. Ibu beri waktu 5 menit, lalu kamu masuk kelas lagi untuk belajar lagi dengan baik. Kamu sering bosan di kelas, benar Rahmat?”. Dia mengangguk mengiyakan. Setelah itu kami berjabat tangan tanda sepakat. Mari kita lihat apakah hal ini bisa berhasil membuatnya mau belajar. Rahmat, si anak cerdas kinestetis.

Kedua, pagi ini saat keluar main, aku main kejar-kejaran dengan murid kelas 5. Kalau di Bandung kita bilang kup, kalau dia Jawa kita bilang Nas, di Mandar kami bilang Pis. Awalnya hanya sedikit anak yang ikut. Tapi makin lama satu kelas ikut main kejar-kejaran dalam kelas. Bahkan kelas lain pun datang untuk menonton. Seru sekali. Dan entah hanya perasaan atau tidak, tapi aku merasa satu langkah lebih dekat dengan mereka.

Advertisements