Jumat, 4 Februari 2011

Siang ini sepulang sekolah aku mengobrol dengan dua guru sekolahku. Keduanya sudah cukup lama mengajar di SD 39 Manyamba. Kami membicarakan tentang kelakuan-kelakuan murid yang seringkali membuat para guru mengelus dada. Kami sepakat bahwa biangnya ada di kelas 5, kelas yang kupegang. Mereka berpendapat bahwa kelakuan anak-anak kelas 5 itu berawal dari kelakuan anak-anak dari kelas 2 atau kelas 3 yang tidak terkontrol. Sehingga kelakuan nakalnya terbawa hingga mereka di kelas besar.

“Saya harap dengan kedatangan Ibu di kelas 5, mereka sudah bisa berubah nanti di kelas 6 nya”. Tak lupa Pak Hamid berpesan  seperti itu padaku. -___-

Pembicaraan kami teralih ketika kami sama-sama melihat buku latihan soal UASBN yang dibeli kepala sekolah. Pak Hamid berkata, “Ini buku UASBN tidak ada kunci jawabannya ini. Bagaimana kita bisa tau yang benar?”. “Wah masa? Yang tahun lalu ada itu kunci jawabannya”, sahut Pak Usman. Dan pembicaraan kami setelah itu pun adalah sekitar UASBN. Dari sana, obrolan berlanjut ke cerita tentang lulusan-lulusan SD kami. “Sering itu, anak yang tidak menonjol di sini, menjadi juara kelas di SMP-SMP”, kata Pak Usman. “Iya, ada itu di SMPnya selalu ranking 1, padahal di sini biasa-biasa saja”. Wah, berarti sebenarnya anak-anak ini semuanya berpotensi ya?

Entah kenapa kedua obrolan tersebut cukup membekas di otakku. Dan entah kenapa keduanya tampak saling terhubung. Sering sekali aku mengeluhkan kelakuan murid-muridku di kelas. Betapa mereka malas, ribut, tidak mau mendengarkan, tidak mau menulis, tidak mau mengerjakan tugas, berkelahi terus,menangis terus, dan lain-lain. Memang sih SD adalah pendidikan dasar. Sering aku berpikir, mau jadi apa anak ini nanti, kalau sekarang saja sudah bandel seperti ini. Tapi, hidup seseorang kan tidak berhenti ketika lulus SD. Kita tidak selalu bisa menetapkan masa depan seseorang dari masa SDnya. Sangat mungkin muridku yang paling malas ketika besarnya nanti menjadi bupati. Sangat mungkin muridku yang paling pendiam ternyata menjadi guru. Bahkan sangat mungkin, muridku yang paling menguras kesabaranku, menjadi seseorang yang sukses dan menyusulku untuk kuliah di Bandung. Semuanya adalah mungkin.

Aku  hari ini belajar, atau lebih tepatnya kembali disadarkan, bahwa semua hal sebaiknya dilihat dari helicopter view. Lihatlah gambaran besarnya. Karena coretan-coretan kecil yang dianggap mengganggu, bisa jadi adalah potongan-potongan puzzle dari suatu imaji yang indah.

Advertisements