Archive for February 10, 2011


Minggu, 6 Februari 2011

Acara hari ini? Nikahan guru SD Ratetaring. Mempelai wanitanya adalah petugas Puskesmas Tammerodo. Kami berkenalan di ptpt (angkutan umum disini) beberapa hari yang lalu ketika di perjalanan menuju Pamboang. Aku belum sempat menulis tentang perjalanan itu ya? It was such an exciting journey. I met a lot of interesting people.

Pertama, aku duduk bersebelahan dengan seorang bayi laki-laki. 6 bulan. Lucu sekali. Dan tebak namanya! Fauzan. Ya,seperti nama pengajar muda Majene.

Selain itu, ada seorang yang sangat tajir dan loyal pada semua penumpang. Dia minta berhenti di warung untuk membelikan para penumpang minuman dingin dan berhenti di Somba untuk mentraktir ikan terbang.

Ada juga seorang bapak dengan putrinya, yang memberi kami pisang. Katanya baru dapat banyak dari saudaranya di desa.

Aku juga berkenalan dengan seorang guru honorer Ratetaring. Ternyata dia sekarang adalah mahasiswa Unsulbar jurusan MIPA. Dan untuk mengisi waktu luangnya, dia menjadi tenaga sukarela di SD Ratetaring, SD paling terpencil yang terletak jauh di dalam Manyamba. Mulia sekali ya. Dan betapa kecil Majene, dia adalah teman dari mempelai pria yang pernikahannya diselenggarakan hari ini.

Terakhir, aku duduk bersebelahan dengan seorang wanita cantik berjilbab. Dia adalah petugas Puskesmas Tammerodo. Yang tak lain tak bukan adalah mempelai wanita hari ini.

Aku banyak mendapat teman baru dari perjalanan itu. Semuanya ramah. Semuanya menyenangkan.

Advertisements

Jumat, 4 Februari 2011

Siang ini sepulang sekolah aku mengobrol dengan dua guru sekolahku. Keduanya sudah cukup lama mengajar di SD 39 Manyamba. Kami membicarakan tentang kelakuan-kelakuan murid yang seringkali membuat para guru mengelus dada. Kami sepakat bahwa biangnya ada di kelas 5, kelas yang kupegang. Mereka berpendapat bahwa kelakuan anak-anak kelas 5 itu berawal dari kelakuan anak-anak dari kelas 2 atau kelas 3 yang tidak terkontrol. Sehingga kelakuan nakalnya terbawa hingga mereka di kelas besar.

“Saya harap dengan kedatangan Ibu di kelas 5, mereka sudah bisa berubah nanti di kelas 6 nya”. Tak lupa Pak Hamid berpesan  seperti itu padaku. -___-

Pembicaraan kami teralih ketika kami sama-sama melihat buku latihan soal UASBN yang dibeli kepala sekolah. Pak Hamid berkata, “Ini buku UASBN tidak ada kunci jawabannya ini. Bagaimana kita bisa tau yang benar?”. “Wah masa? Yang tahun lalu ada itu kunci jawabannya”, sahut Pak Usman. Dan pembicaraan kami setelah itu pun adalah sekitar UASBN. Dari sana, obrolan berlanjut ke cerita tentang lulusan-lulusan SD kami. “Sering itu, anak yang tidak menonjol di sini, menjadi juara kelas di SMP-SMP”, kata Pak Usman. “Iya, ada itu di SMPnya selalu ranking 1, padahal di sini biasa-biasa saja”. Wah, berarti sebenarnya anak-anak ini semuanya berpotensi ya?

Entah kenapa kedua obrolan tersebut cukup membekas di otakku. Dan entah kenapa keduanya tampak saling terhubung. Sering sekali aku mengeluhkan kelakuan murid-muridku di kelas. Betapa mereka malas, ribut, tidak mau mendengarkan, tidak mau menulis, tidak mau mengerjakan tugas, berkelahi terus,menangis terus, dan lain-lain. Memang sih SD adalah pendidikan dasar. Sering aku berpikir, mau jadi apa anak ini nanti, kalau sekarang saja sudah bandel seperti ini. Tapi, hidup seseorang kan tidak berhenti ketika lulus SD. Kita tidak selalu bisa menetapkan masa depan seseorang dari masa SDnya. Sangat mungkin muridku yang paling malas ketika besarnya nanti menjadi bupati. Sangat mungkin muridku yang paling pendiam ternyata menjadi guru. Bahkan sangat mungkin, muridku yang paling menguras kesabaranku, menjadi seseorang yang sukses dan menyusulku untuk kuliah di Bandung. Semuanya adalah mungkin.

Aku  hari ini belajar, atau lebih tepatnya kembali disadarkan, bahwa semua hal sebaiknya dilihat dari helicopter view. Lihatlah gambaran besarnya. Karena coretan-coretan kecil yang dianggap mengganggu, bisa jadi adalah potongan-potongan puzzle dari suatu imaji yang indah.

Selasa, 1 Februari 2011

Jantungku berdegup kencang saat aku akan memasuki ruang kelas 5 SDN 39 Manyamba hari ini. Ini adalah kali pertama aku merasa takut masuk kelas. Laporan yang kudengar dari anak-anak tentang hari kemarin cukup menakutkan. Ya, aku memang salah meninggalkan mereka. Kemarin aku pergi ke Majene untuk bertemu dengan Bupati untuk keperluan Olimpiade. Dan naïf sekali aku mempercayakan kelas pada anak-anak tanpa meminta tolong pengawasan guru lain atau kepala sekolah.

Sebagian dari hiasan gantung yang kami buat bersama hilang. Anak-anak merusaknya. Aku melihat satu orang murid perempuan mencoba membenarkan hiasan miliknya dengan muka sedih. Aku hanya dapat berkata padanya,”Kita sama-sama sabar ya”. Dari laporan salah seorang murid perempuan, dia mendengar temannya yang merusak hiasan berkata,”Biar saja kita rusakkan, kan bu guru tak ada di sini. Lagian bukan uang saya yang hilang, tapi uang bu guru”. Betapa sakit aku mendengarnya.

Kemarin, seorang anak muridku ditampar oleh kepala sekolah. Pagi ini, dia duduk di bangkunya dengan diam. Dia duduk membungkuk dengan tangan menutupi mukanya. Dia tidak menyahut saat kusapa. Dia langsung pergi menjauh saat aku membawanya ke kantor untuk kuajak mengobrol tentang kejadian kemarin. Bahkan tak melihat wajahku sekalipun.

Aku telah banyak mengalami kejadian murid yang tidak disiplin, murid yang nakal. Dan jujur sampai sekarang aku tidak tahu apa jalan terbaik untuk mengubahnya. Pernah ada murid yang berkata, kalau muridku lebih galak dibanding aku. Pernah ada murid yang berkata, seandainya yang datang ke sini laki-laki, pasti kelas tidak akan ribut. Jujur aku terpukul mendengarnya.

Pagi ini sebelum aku mulai pelajaran, aku berbicara di depan kelas pada murid-muridku. Walaupun tidak ada guru di kelas, tapi di kelas ada dua malaikat yang senantiasa mengawasi tindakan mereka dan akan melaporkan semua tindakan baik buruknya mereka pada Tuhan. Aku juga menyampaikan bahwa aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak marah dan tidak memukul mereka.

Kenapa begitu? Bukan karena ibu baik, nak. Tapi karena Ibu tidak mau mengajarkan kalian untuk marah-marah atau menyakiti orang. Ibu tidak pernah mencontohkan marah dan memukul, sehingga kalian juga jangan marah atau memukul teman.

Aku meminta mereka untuk mulai belajar bertanggung jawab. Berkali-kali aku bilang bahwa aku tidak butuh anak pintar, tapi anak yang baik. Sekali lagi aku ingatkan pada mereka bahwa kami bersama harus membuktikan pada semua guru dan teman-teman kalau kelas 5 dapat berubah. Aku meminta mereka bicara jika ada masalah.

Hari ini kelas berlangsung dengan cukup tertib. Aku benar-benar berdoa perlahan-lahan terdapat perbaikan dalam tingkah laku mereka.