Archive for February, 2011


Jumat, 25 February

Hello Friday! Hari ini mari semangat masuk sekolah. Karena hari ini pelajaran IPA. Dan aku suka sekali IPA. Karena kami akan melakukan percobaan cahaya. Aku sangat suka bab cahaya, karena semua materinya dapat dipelajari dengan percobaan walaupun dengan alat dan bahan yang minim. Anyway, percobaan berlangsung cukup lancar. Memang ada yang keluar masuk, ngobrol, walk out (tapi tidak sampai 2 menit langsung masuk lagi), tapi over all semua berjalan memuaskan. Memang sekarang aku tidak terlalu ambil pusing kalau berurusan dengan mereka. Sungguh ini adalah resep agar tidak stress. Waktu kita anak-anak dulu juga pasti tidak mau terlalu dikekang bukan?

Hari ini ada dua kejadian menarik.

Pertama, Rahmat, muridku yang mualas dan sudah 3 kali tinggal kelas baru datang ke sekolah pada saat jam istirahat pertama. Katanya dia kesiangan bangun. Teman-teman yang lain sedang keluar main. Hanya ada aku dan Rahmat di kelas. Aku dekati dia.

“Rahmat kalau Ibu boleh tahu, kamu sudah tinggal berapa kali?”, tanyaku. “Tiga Bu, kelas 1, kelas 2 dan kelas 5”. Hmm, dia tidak boleh tinggal kelas lagi pikirku. Tapi kelakuannya memang benar-benar membuatku tergoda untuk tidak menaikkannya ke kelas 6. Belum lagi kemampuan kognitifnya yang sangat kurang. Aku kuatir nanti dia akan stress kalau dipaksa mengikuti pelajaran di kelas 6. “Rahmat hobinya apa sih? Main bola? Membaca? Dengar musik?”, tanyaku lagi. “Main bola, Bu”. “Begini Rahmat, Ibu sangat ingin menaikkan kamu ke kelas 6. Tapi kalau perilaku kamu masih terus seperti yang sekarang, Ibu berat Nak. Ibu takut  kamu stress nanti di kelas 6. Bagaimana kalau kita buat kesepakatan? Pada saat jam pelajaran, kamu ikuti dengan baik. Tidak main di luar. Kalau ada tugas tidak mencontek pekerjaan teman. Kalau Ibu menerangkan kamu mendengarkan dan mencatat. Nanti setiap pergantian pelajaran, walaupun bukan keluar main, kamu boleh keluar kelas. Kamu boleh lari-lari, main sepeda, pokoknya terserah kamu. Ibu beri waktu 5 menit, lalu kamu masuk kelas lagi untuk belajar lagi dengan baik. Kamu sering bosan di kelas, benar Rahmat?”. Dia mengangguk mengiyakan. Setelah itu kami berjabat tangan tanda sepakat. Mari kita lihat apakah hal ini bisa berhasil membuatnya mau belajar. Rahmat, si anak cerdas kinestetis.

Kedua, pagi ini saat keluar main, aku main kejar-kejaran dengan murid kelas 5. Kalau di Bandung kita bilang kup, kalau dia Jawa kita bilang Nas, di Mandar kami bilang Pis. Awalnya hanya sedikit anak yang ikut. Tapi makin lama satu kelas ikut main kejar-kejaran dalam kelas. Bahkan kelas lain pun datang untuk menonton. Seru sekali. Dan entah hanya perasaan atau tidak, tapi aku merasa satu langkah lebih dekat dengan mereka.

Advertisements

Hari itu hari Sabtu, satu-satunya hari dimana ada pelajaran PKn. Materi yang akan kubahas adalah organisasi, kali ini yang akan diperkenalkan adalah organisasi sekolah. Dalam struktur organisasi sekolah, terdapat Kepala Sekolah, Komite Sekolah, guru-guru kelas, guru mata pelajaran, guru honorer sampai penjaga sekolah. Untuk lebih memperdalam pemahaman materi, sekaligus melatih kemampuan berbicara murid-muridku, aku memberikan tugas wawancara pada mereka. Mereka harus mewawancarai orang-orang yang masuk ke dalam struktur tersebut, mengenai definisi organisasi sekolah dan mengenai tugas mereka masing-masing.

Aku bertanya pada mereka, “Kenapa kalian harus bisa mewawancai orang, anak-anak?”. Seperti biasa, semua mengacung dan menjawab sesuka hatinya. “Kalian harus berani mewawancarai orang, karena jika kalian sudah besar, dan kalian bertemu dengan bupati, gubernur, wakil presiden atau presiden sekalipun, kalian bisa”. Begitu terangku. Dan secara tak terduga, muridku Irfan mengangkat tangannya dan menyeletuk, “Ah, tidak  bisa Bu. Kamu mungkin ketemu mereka, kami tidak. Kamu dekat, kami jauh”. Deg. Aku benar-benar terkesiap. Memoriku sontak membawaku ke beberapa bulan lalu, pada masa pelatihan Indonesia Mengajar di Ciawi, Bogor. Di sana, sering sekali Pak Anies berbicara tentang jarak itu. Masyarakat yang dekat dengan pusat kemajuan, katakanlah masyarakat Pulau Jawa, memandang Sulawesi Barat hanya sejauh 2 jam perjalanan dengan pesawat. Tapi Pulau Jawa di mata masyarakat Sulawesi Barat, adalah suatu tempat di antah berantah. Sungguh jauh. Apalagi bertemu dengan Wakil Presiden, membayangkan saja tidak.

Angin segar itu berhembus ketika aku sedang rapat dengan Bupati Majene, Kalma Katta. Beliau berkata kalau Wapres akan hadir di Majene untuk peresmian salah satu universitas di Majene. Beliau mengundang Pengajar Muda untuk menghadiri pertemuan itu. Tanpa pikir panjang aku meminta ijin beliau untuk membawa muridku turut serta. Karena ini adalah pertemuan dengan wapres, maka aku hanya diijinkan untuk membawa satu orang muridku. Satu orang dari sekian banyak anak SD yang ada di Majene. Satu-satunya anak SD di Sulawesi Barat yang akan hadir di pertemuan nanti.

Sesungguhnya aku ingin membawa semua muridku untuk betemu Boediono, wakil presiden Republik Indonesia. Tapi aku hanya boleh membawa satu orang saja. Akhirnya aku memutuskan untuk membuat suatu kontes membuat surat yang ditujukan untuk pemimpin negeri ini. Murid-muridku sangat antusiasi ketika aku menanyakan siapa dari mereka yang ingin kuajak bertemu dengan wapres. Sehingga mereka juga sangat antusias menulis surat untuk wapres.

Surat-surat dari mereka lucu-lucu. Semuanya menampilkan keluguan anak-anak SD. Ada surat yang isinya berterima kasih karena dapat bertemu dengan wapres. Ada surat yang meminta wapres untuk mendirikan perpustakaan desa dan koperasi sekolah, karena pada jam pelajaran banyak anak yang menangis karena pulpennya direbut oleh murid laki-laki. Ada surat yang memintaku untuk ditempatkan di SD 39 Manyamba selama dua tahun. Bahkan ada yang meminta pada Boediono untuk selalu memperjuangkan pendidikan.

Tapi ada satu surat yang berisi, kurang lebih seperti ini :

Assalamualaikum Wr. Wb

Apa kabar Pak? Saya harap bapak baik-baik saja. Terima kasih ya Pak sudah mau datang ke Majene.

Pak, saya ucapkan selamat pada Bapak karena Bapak telah berhasil menjadi wakil presiden. Waktu kecil Bapak pasti bercita-cita menjadi wakil presiden, dan sekarang sudah terwujud. Saya juga bercita-cita jadi dokter Pak. Doakan agar saya bisa jadi dokter ya Pak.

Pak, saat ini kejahatan sedang merajalela. Saya harap Bapak berhati-hati.

Sekian surat dari saya, saya ucapkan Wassalamualaikum Wr. Wb

Dari Satriana, kelas 5 SDN 39 Manyamba

Satriana yang di tengah

Berkat surat itu, Satriana kupilih untuk bertemu dengan Wapres pada tanggal 19 Februari 2011.

Kami berangkat sore hari pada hari Jumat tanggal 18 Februari 2011 untuk bermalam di Majene, karena acara temu wapres berlangsung pada pagi hari sehingga sulit bagi kami untuk turun gunung dan datang tepat waktu pada acara tersebut jika tidak bermalam di Majene. Satriana tampak cukup senang di perjalanan. Dia sangat excited. Pagi harinya dia bangun dan mandi paling pagi.

Pukul 9 pagi kami pergi ke SMA 2 Majene, tempat diselenggarakannya acara dialog umum dengan wapres. Pengamanannya cukup ketat. Di sepanjang jalan banyak polisi dan Satpol PP. Di dalam SMA 2, banyak Paspampres dengan seragam hitam mereka. Bahkan kami harus melewati pintu deteksi logam seperti di bandara dan melewati pemeriksaan. Yang datang tanpa undangan, jangan harap bisa masuk.

Banyak acara sambutan. Dari gubernur, dari bupati, dari professor yang universitasnya akan diresmikan, sampai dari wapres sendiri. Setelah acara sambutan tersebut, tiba sesi tanya jawab. Semua pemangku kepentingan pendidikan diijinkan untuk bertanya, berhubung di sana hadir pula Menteri Pendidikan, M. Nuh, maka semua keluh kesah tentang pendidikan dapat langsung didengar olehnya. Perwakilan SMA, SMK dan Aaliyah. Perwakilan Mahasiswa. Sampai perwakilan guru diberi kesempatan untuk bertanya. Di akhir sesi, kesempatan diberikan kepada Indonesia Mengajar. Aku pun maju untuk memberikan pertanyaan.

“Pertanyaan yang akan saya ajukan, diawali dari sebuah cerita singkat Pak”. Kemudian aku pun bercerita tentang tugas wawancara sampai pada terpilihnya salah seorang muridku untuk ku bawa ke acara tersebut. “Alhamdulillah, saya berhasil membawa murid saya hari ini Pak. Satriana, tolong berdiri sayang”. Dengan malu-malu, Satriana berdiri di kursinya di belakang sana. “Satriana juga membawa kenang-kenangan berisi suratnya dan surat teman-temannya Pak. Yang sangat ingin dia berikan untuk bapak”. Tanpa direncanakan, wapres dan audience meminta Satriana untuk maju ke depan bersamaku. Wajahnya pucat. Dia gugup dan malu berada di khalayak ramai, apalagi ada seorang wapres di antaranya. “Jarak yang asalnya dianggap begitu nyata, ternyata sekarang jarak itu tidak begitu jauh lagi setelah Satriana dapat hadir di sini bertemu dengan Bapak. Pertanyaan saya adalah, apa langkah pemerintah untuk mendekatkan pusat kemajuan terutama di bidang pendidikan dengan anak-anak di daerah terpencil, seperti Satriana dan teman-temannya?”. Usai memberikan pertanyaan tersebut. Aku bersiap kembali ke tempat duduk. Namun tanpa disangka-sangka, wapres sendiri yang meminta kami untuk maju. Dia ingin bertemu langsung dengan muridku dan menerima kenang-kenangan yang dia bawa. Sungguh aku sangat terharu. Bersama-sama kami melangkah ke podium. Di sana, di hadapan wapres, Satriana memberikan suratnya dan bersalaman dengan wapres. Wapres memberikan nasihat pada Satriana untuk terus giat belajar dan jangan putus sekolah, agar cita-citanya menjadi dokter tercapai. Wapres juga berkata, “Kamu akan menjadi orang besar, Nak”.  Kemudian dia mencium kening Satriana. Decak kagum dan jepretan kamera terdengar di mana-mana.

Setelah bersalaman dengan wapres, kami pun kembali ke tempat duduk kami. Banyak pertanyaan dari wartawan, ucapan selamat dan ajakan foto di kanan kiri kami. Tapi semua itu tak terdengar oleh Satriana. Aku yakin, yang ada dalam hatinya adalah rasa bangga dan syukur. Bahwa dirinya, seorang anak SD dari pelosok tanah air, satu-satunya di Sulawesi Barat, yang sampai saat ini dapat bertatap muka langsung dengan wakil presiden Indonesia.

(Terima kasih Pak Bupati telah mengundang dan mengijinkan kami bertemu dengan wapres, terima kasih muridku Irfan H., karena telah melontarkan pernyataan yang menyentil sehingga aku membuat kontes menulis surat, terima kasih Fauzan atas ide pertanyaan yang begitu cemerlang. Dan terima kasih paling tinggi, pada Allah SWT, yang melancarkan semuanya.)

My Lovely Yusril

Dia bernama Yusril. Dia adalah murid laki-lakiku di kelas 5. Dia lucu sekali, masih sangat polos khas anak-anak. Dia sering jail pada teman-temannya. Dia jarang mau menulis. Dia tidak suka angka, apalagi matematika.

Yusril, sering duduk di belakang kursiku, dan menyenderkan kepala kecilnya di punggungku. Dan berlari sambil tertawa kecil kalau aku menoleh. Yusril, sering ngambek kalau diganggu teman atau keinginannya tidak dipenuhi. Yusril kalau ngambek, akan duduk jongkok di pojok belakang kelas, menungguku menghampirinya dan bercanda dengannya. Baru  aku tahu, ternyata Yusril tidak lagi memiliki ibu.

Aku melihat bakat Yusril, terkuak di balik buku tugas matematikanya. Saat itu materi matematika adalah mengubah pecahan menjadi persen. Oh Yusril, kamu malas sekali tidak mau mengerjakan tugas yang Ibu berikan. Tapi nyatanya kamu membuat sesuatu yang lain ya? Ini adalah hasil tulisan Yusril ketika yang lain mengerjakan tugas matematika.

Yusril, oh Yusril, pintar sekali kamu menulis. Apakah benar itu hasil tulisanmu sendiri? Apakah seorang anak jail kelas 5 dapat membuat sesuatu seperti itu ? Maka untuk membuktikannya, pada pelajaran Bahasa Indonesia Ibu meminta semua anak kelas 5 untuk membuat karya Bahasa Indonesia sesuka kalian. Ada yang membuat cerpen, ada yang membuat puisi. Dan ternyata bakatmu memang nyata Yusril. Ini hasil tulisanmu kan?

Betapa imajinasimu tak ada batasnya. Lihatlah pemilihan katamu yang beragam dan terangkai indah. Memang masih banyak yang harus dipoles, tapi berlian pun harus dipoles dulu agar bisa tampak seindah itu bukan?

Terus menulis ya nak, sungguh Ibu dengan senantiasa menunggu hasil-hasil karyamu selanjutnya.

Tulisan ini Ibu buat untuk Yusril. Ucilku tersayang, Ibu sayaaaaaang  sekali sama Yusril.

Senin, 7 Februari 2011

Pagi ini dimulai dengan buruk. Dingin. Tidak bersemangat. Salah, serorang guru tidak boleh tidak bersemangat berangkat sekolah. karena hasilnya akan mengerikan.

Pelajaran pertama berjalan dengan cukup mulus. Matematika. Mereka tampak bersemangat mengerjakan latihan. Padahal bab ini cukup sulit disbanding bab yang lalu. Tapi mereka tampak antusias. Sampailah pada pelajaran Bahasa Indonesia.  Materi hari ini adalah drama. Kami belajar tentang intonasi, jeda, sampai pada acting dan blocking. Sekitar 20 menit di akhir pelajaran, murid laki-laki mulai keluar masuk. Peraturan yang kami buat bersama hilang entah kemana. Kesabaranku kembali diuji. Ketika semua sudah di dalam kelas, aku kembali bicara serius dengan mereka. Bersama kami mengingat lagi peraturan yang dibuat dan konsekuensi yang harus mereka jalani. Sisa pelajaranpun berjalan dengan lancar.

Sampai akhirnya pada pembagian kelompok untuk tugas drama. Aku membagi kelompok secara sesuai urutan pada daftar absen. Secara tak sengaja, juara kelas terdapat pada satu kelompok. Hal tersebut menimbulkan protes anak-anak lain. Murid laki-laki berteriak-teriak tidak setuju. Ada menghapus namanya dari papan tulis, tidak mau ikut dalam pembagian kelompok. Di sana aku masih sabar, aku minta mereka mengutarakan baik-baik ketidaksetujuannya sehingga bisa aku fasilitasi. Tapi mereka masih saja berteriak-teriak, bahkan Harjo, sang pembuat onar nomor satu, meninju papan tulis saat aku sedang menulis di papan tulis. Okay, he just pushed the button.

Baru satu kali ini, dan kuharap yang terakhir, aku marah besar di kelas. Mereka sudah keterlaluan. Sabarku sudah melewati batasnya. Setelah memarahi mereka, aku pergi meninggalkan kelas. Sialnya jam pelajaran masih tersisa satu lagi. Sehingga aku masih harus memberikan pelajaran.

Aku benar-benar kesal pada mereka. Karena mereka sungguh tidak mau menghargai guru yang ada di depan kelas. Memang sering mereka ribut, memukul meja, menganggu teman, berteriak-teriak di kelas, berkelahi, bermain saat pelajaran, tapi kali ini gunung kesabaranku meletus sudah. Sungguh aku menyesal, tidak seharusnya aku marah.

Semua ini membuatku refleksi diri. Satu, tidak seharusnya aku marah. Dua, jika aku dapat mengemas pelajaran dengan lebih baik dan menyenangkan, seharusnya hal tersebut tidak akan terjadi. Anak-anak tidak akan bosan, dan mungkin mereka akan kooperatif.

Anyway, pelajaran terakhir adalah SBK. Asalnya aku ingin membuat topeng bersama mereka. Tapi karena aku menolak untuk masuk kelas, maka mereka kutugasi menggambar. Dan sungguh ya, tampakanya guru tak bisa marah lama pada muridnya. Ini adalah hasil karya anak-anakku siang ini.

And suddenly they turn into little angels..

Karya Armin, bagus ya dia tidak takut mencampur warna

Harjo, si biang onar, mengumpulkan pertama kali

 

Minggu, 6 Februari 2011

Acara hari ini? Nikahan guru SD Ratetaring. Mempelai wanitanya adalah petugas Puskesmas Tammerodo. Kami berkenalan di ptpt (angkutan umum disini) beberapa hari yang lalu ketika di perjalanan menuju Pamboang. Aku belum sempat menulis tentang perjalanan itu ya? It was such an exciting journey. I met a lot of interesting people.

Pertama, aku duduk bersebelahan dengan seorang bayi laki-laki. 6 bulan. Lucu sekali. Dan tebak namanya! Fauzan. Ya,seperti nama pengajar muda Majene.

Selain itu, ada seorang yang sangat tajir dan loyal pada semua penumpang. Dia minta berhenti di warung untuk membelikan para penumpang minuman dingin dan berhenti di Somba untuk mentraktir ikan terbang.

Ada juga seorang bapak dengan putrinya, yang memberi kami pisang. Katanya baru dapat banyak dari saudaranya di desa.

Aku juga berkenalan dengan seorang guru honorer Ratetaring. Ternyata dia sekarang adalah mahasiswa Unsulbar jurusan MIPA. Dan untuk mengisi waktu luangnya, dia menjadi tenaga sukarela di SD Ratetaring, SD paling terpencil yang terletak jauh di dalam Manyamba. Mulia sekali ya. Dan betapa kecil Majene, dia adalah teman dari mempelai pria yang pernikahannya diselenggarakan hari ini.

Terakhir, aku duduk bersebelahan dengan seorang wanita cantik berjilbab. Dia adalah petugas Puskesmas Tammerodo. Yang tak lain tak bukan adalah mempelai wanita hari ini.

Aku banyak mendapat teman baru dari perjalanan itu. Semuanya ramah. Semuanya menyenangkan.

Jumat, 4 Februari 2011

Siang ini sepulang sekolah aku mengobrol dengan dua guru sekolahku. Keduanya sudah cukup lama mengajar di SD 39 Manyamba. Kami membicarakan tentang kelakuan-kelakuan murid yang seringkali membuat para guru mengelus dada. Kami sepakat bahwa biangnya ada di kelas 5, kelas yang kupegang. Mereka berpendapat bahwa kelakuan anak-anak kelas 5 itu berawal dari kelakuan anak-anak dari kelas 2 atau kelas 3 yang tidak terkontrol. Sehingga kelakuan nakalnya terbawa hingga mereka di kelas besar.

“Saya harap dengan kedatangan Ibu di kelas 5, mereka sudah bisa berubah nanti di kelas 6 nya”. Tak lupa Pak Hamid berpesan  seperti itu padaku. -___-

Pembicaraan kami teralih ketika kami sama-sama melihat buku latihan soal UASBN yang dibeli kepala sekolah. Pak Hamid berkata, “Ini buku UASBN tidak ada kunci jawabannya ini. Bagaimana kita bisa tau yang benar?”. “Wah masa? Yang tahun lalu ada itu kunci jawabannya”, sahut Pak Usman. Dan pembicaraan kami setelah itu pun adalah sekitar UASBN. Dari sana, obrolan berlanjut ke cerita tentang lulusan-lulusan SD kami. “Sering itu, anak yang tidak menonjol di sini, menjadi juara kelas di SMP-SMP”, kata Pak Usman. “Iya, ada itu di SMPnya selalu ranking 1, padahal di sini biasa-biasa saja”. Wah, berarti sebenarnya anak-anak ini semuanya berpotensi ya?

Entah kenapa kedua obrolan tersebut cukup membekas di otakku. Dan entah kenapa keduanya tampak saling terhubung. Sering sekali aku mengeluhkan kelakuan murid-muridku di kelas. Betapa mereka malas, ribut, tidak mau mendengarkan, tidak mau menulis, tidak mau mengerjakan tugas, berkelahi terus,menangis terus, dan lain-lain. Memang sih SD adalah pendidikan dasar. Sering aku berpikir, mau jadi apa anak ini nanti, kalau sekarang saja sudah bandel seperti ini. Tapi, hidup seseorang kan tidak berhenti ketika lulus SD. Kita tidak selalu bisa menetapkan masa depan seseorang dari masa SDnya. Sangat mungkin muridku yang paling malas ketika besarnya nanti menjadi bupati. Sangat mungkin muridku yang paling pendiam ternyata menjadi guru. Bahkan sangat mungkin, muridku yang paling menguras kesabaranku, menjadi seseorang yang sukses dan menyusulku untuk kuliah di Bandung. Semuanya adalah mungkin.

Aku  hari ini belajar, atau lebih tepatnya kembali disadarkan, bahwa semua hal sebaiknya dilihat dari helicopter view. Lihatlah gambaran besarnya. Karena coretan-coretan kecil yang dianggap mengganggu, bisa jadi adalah potongan-potongan puzzle dari suatu imaji yang indah.

Selasa, 1 Februari 2011

Jantungku berdegup kencang saat aku akan memasuki ruang kelas 5 SDN 39 Manyamba hari ini. Ini adalah kali pertama aku merasa takut masuk kelas. Laporan yang kudengar dari anak-anak tentang hari kemarin cukup menakutkan. Ya, aku memang salah meninggalkan mereka. Kemarin aku pergi ke Majene untuk bertemu dengan Bupati untuk keperluan Olimpiade. Dan naïf sekali aku mempercayakan kelas pada anak-anak tanpa meminta tolong pengawasan guru lain atau kepala sekolah.

Sebagian dari hiasan gantung yang kami buat bersama hilang. Anak-anak merusaknya. Aku melihat satu orang murid perempuan mencoba membenarkan hiasan miliknya dengan muka sedih. Aku hanya dapat berkata padanya,”Kita sama-sama sabar ya”. Dari laporan salah seorang murid perempuan, dia mendengar temannya yang merusak hiasan berkata,”Biar saja kita rusakkan, kan bu guru tak ada di sini. Lagian bukan uang saya yang hilang, tapi uang bu guru”. Betapa sakit aku mendengarnya.

Kemarin, seorang anak muridku ditampar oleh kepala sekolah. Pagi ini, dia duduk di bangkunya dengan diam. Dia duduk membungkuk dengan tangan menutupi mukanya. Dia tidak menyahut saat kusapa. Dia langsung pergi menjauh saat aku membawanya ke kantor untuk kuajak mengobrol tentang kejadian kemarin. Bahkan tak melihat wajahku sekalipun.

Aku telah banyak mengalami kejadian murid yang tidak disiplin, murid yang nakal. Dan jujur sampai sekarang aku tidak tahu apa jalan terbaik untuk mengubahnya. Pernah ada murid yang berkata, kalau muridku lebih galak dibanding aku. Pernah ada murid yang berkata, seandainya yang datang ke sini laki-laki, pasti kelas tidak akan ribut. Jujur aku terpukul mendengarnya.

Pagi ini sebelum aku mulai pelajaran, aku berbicara di depan kelas pada murid-muridku. Walaupun tidak ada guru di kelas, tapi di kelas ada dua malaikat yang senantiasa mengawasi tindakan mereka dan akan melaporkan semua tindakan baik buruknya mereka pada Tuhan. Aku juga menyampaikan bahwa aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak marah dan tidak memukul mereka.

Kenapa begitu? Bukan karena ibu baik, nak. Tapi karena Ibu tidak mau mengajarkan kalian untuk marah-marah atau menyakiti orang. Ibu tidak pernah mencontohkan marah dan memukul, sehingga kalian juga jangan marah atau memukul teman.

Aku meminta mereka untuk mulai belajar bertanggung jawab. Berkali-kali aku bilang bahwa aku tidak butuh anak pintar, tapi anak yang baik. Sekali lagi aku ingatkan pada mereka bahwa kami bersama harus membuktikan pada semua guru dan teman-teman kalau kelas 5 dapat berubah. Aku meminta mereka bicara jika ada masalah.

Hari ini kelas berlangsung dengan cukup tertib. Aku benar-benar berdoa perlahan-lahan terdapat perbaikan dalam tingkah laku mereka.