Archive for January, 2011


Hari ini, ketika sinyal GPRS dengan baik hatinya mampir ke handphone-ku, aku membuka timeline di Twitter. Ternyata hari ini ada suatu kehebohan, Indonesia Mengajar masuk Kompas. Bahkan menjadi headline!! Wow.. Bukan sekali ini saja Gerakan Indonesia Mengajar masuk media. Sungguh aku tidak pernah bermimpi dapat masuk koran. Karena orang-orang yang masuk koran kan adalah orang hebat, kan?

Setelah akhirnya membaca Kompas online, aku pun terkesima dengan kisah-kisah teman-temanku di sini. Jujur, walaupun sudah sering ngobrol, bercanda, bertingkah gila-gilaan, tapi aku masih saja terharu kalau mendengar cerita-cerita mereka di sini, atau tentang alasan-alasan mereka ikut program ini..

Tapi, harus diakui, tulisan-tulisan di media itu sungguh melebih-lebihkan diri kami. Apalagi aku ya. Mungkin teman-temanku memang sebegitu hebatnya. Tapi kami tidak ingin diekspos seperti itu. Terlalu silau. Kami manusia biasa, sungguh. Aku malu sendiri bacanya. Karena yang sebenarnya tidak seperti itu.

Kami hanya sekelompok anak muda yang sedang bertualang. Dan kebetulan kami bertugas untuk mengajar di daerah-daerah yang bukan kota. hehe..

Inti dari tulisan ini adalah, hanya sedikit curahan hati. Kami, aku, bukan manusia super. Manusia super bisa segalanya. Sedang kami hanya bisa memberikan sedikit dari apa yang kami punya.

Advertisements

Sabtu, 29 Januari 2011

Hari ini aku dan teman-teman Pengajar Muda Kecamatan Tammerodo diundang untuk hadir di rapat KKG Gugus I. Ini adalah kali keduanya kami diundang untuk hadir di rapat KKG ini. Walaupun sekolah-sekolah kami tidak termasuk ke dalam Gugus I, tapi SD di Gugus ini rajin sekali mengundang kami hadir untuk berbagi pengalaman dalam dunia kepengajaran.

Insiatif mereka sungguh patut diacungi jempol. Pada saat rapat pertama, pembahasannya adalah mengenai pembelajaran tematik. Sehingga peserta pertemuan adalah guru-guru kelas 1,2 dan 3. Guru-guru tersebut diberi pelatihan singkat mengenai membuat RPP tematik dan bagaimana mengimplementasikannya. Implementasinya pun akan dipantau dan dievaluasi pada tanggal yang telah ditentukan. Di sana kami berbagi sedikit pengetahuan yang kami dapat dari pelatihan Indonesia Mengajar tentang Multiple Intelligence, kurikulum KTSP dan pembuatan RPP.

Pada rapat kedua ini, pesertanya adalah guru-guru kelas  4,5 dan 6. Inti pertemuan ini adalah membahas permasalahan yang dihadapi oleh guru-guru kelas besar tersebut. Dari pertemuan tersebut, terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi, di antaranya adalah :

1.       Metode pembelajaran konstruk dengan konvensional

2.       Keterbatasan alat peraga

3.       Persiapan sebelum masuk kelas

4.       Bagaimana bersikap pada murid

Mendengar pemaparan-pemaparan yang mereka utarakan, ternyata tidak jauh berbeda dari apa yang kami dapat saat pelatihan Indonesia Mengajar. Ternyata guru-guru yang katanya dari “pelosok” pun mengerti tentang metode pembelajaran konstruk yang sebaiknya diterapkan. Mereka tahu bahwa guru harus kreatif dalam memanfaatkan segala macam bahan yang tersedia untuk menjadi alat peraga. Mereka juga sangat paham bahwa sebelum mengajar, seorang guru harus melakukan persiapan minimal malam sebelumnya. Bahkan tentang bagaimana seorang guru bersikap pada murid, ada guru yang melontarkan bahwa, bukan jamannya lagi guru itu gila hormat. Antara guru dan murid harus saling menghargai.

Aku cukup senang berada di rapat itu. Karena ternyata, masih terdapat guru-guru yang sadar akan tugasnya, yang bukan hanya sebagai pengajar, tapi juga pendidik anak bangsa.

Jumat, 28 Januari 2011

Pagi ini diawali dengan baik. Tidur cukup. Bangun pagi. Semangat ke sekolah.

Aku suka pelajaran hari ini. IPA. Aku merencanakan sebisa mungkin setiap materi IPA dilaksanakan dengan percobaan. Hari ini materinya adalah bagaimana caranya memperkecil dan memperbesar gaya gesek. Sejak awal, kami selalu melakukan percobaan, walaupun dengan bahan-bahan yang minim.  Pengertian gaya, gaya gravitasi, sampai akhirnya sekarang gaya gesek. Beberapa hari yang lalu, kami melakukan percobaan tentang apa saja yang memengaruhi besarnya gaya gesek. Dilakukan dengan cara meluncurkan uang logam di atas berbagai macam permukaan. Hari ini percobaan gaya gesek dilanjutkan.

Untuk percobaan memperkecil gaya gesek, anak-anak membandingkan kecepatan luncur uang logam di atas kertas foto sebelum dan sesudah ditaburi bedak. Sedangkan untuk percobaan memperbesar gaya gesek, anak-anak membandingkan kecepatan luncur uang logam di atas kertas plano sebelum dan sesudah dilubang-lubangi dengan pensil. Sebelum menuliskan hasil percobaan, aku meminta mereka menuliskan hipotesis akan hasil percobaan. Dan sebagian besar percobaan mereka dapat membuat hipotesis yang sesuai dengan hasil percobaan.

Percobaan berlangsung cukup lancar dan menyenangkan. Walaupun sesuai perkiraan, di akhir pelajaran terjadi perang mencoreng muka teman dengan bedak. Haha, tapi tidak apa-apa. Mood-ku bagus karena percobaan berlangsung dengan baik.

To My Dearest Mom

Kamis, 20 Januari 2011

Untuk mama,

Ma, ucapan rasa banggamu padaku adalah sebuah hadiah paling indah yang dapat aku peroleh. Aku Insyaallah tak pernah pamrih dalam mengerjakan apapun. Termasuk sekarang aku pergi ke daerah orang untuk mengajar di SD. Sungguh ini pekerjaan yang tak seberapa. Tak dapat dibandingkan dengan teman-temanku yang bekerja di perusahaan minyak, di bank, atau di tempat mama bekerja dulu.

Tapi mama tidak pernah membuatku rendah diri. Mama selalu memberikan dukungan penuh atas apa saja yang aku lakukan. Sungguh aku sangat berterima kasih atas kepercayaanmu. Maka ijinkan aku untuk mencurahkan rasa bahagia dan syukurku memilikimu dalam tulisan pendek ini.

My dearest Mom,

Terima kasih karena telah menjadi sosok wanita yang kuat, yang telah mengajari aku untuk menjalani hidup dengan tegar.

Terima kasih telah mengajarkanku untuk mandiri, walaupun aku akan selalu menjadi anak manja di mata mama.

Terima kasih telah bekerja dengan begitu kerasnya menghidupi aku, anak bungsu yang masih harus menjadi tanggunganmu.

Terima kasih karena tidak pernah mengeluh padahal aku sering mengecewakanmu.

Terima kasih Tuhan, karena telah memberikan ibu seperti engkau dalam hidupku.

Terima kasih.

Dan semoga aku dapat terus menjadi anak yang dapat kau banggakan.

PS : Miss you too :’)

Di sekolahku, ada suatu mata pelajaran namanya Pengembangan Diri. Ketika pertama kali tiba di sekolah ini, aku bertanya pada guru lain, “Pengembangan diri itu belajar apa ya, Bu? Pak?”. “Yah yang murid suka saja apa, Bu. Bisa menggambar.” Tetapi ternyata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan (SBK) dan Muatan Lokal juga pada prakteknya diisi dengan menggambar. Loh kok menggambar semua ya?

Saat aku mendapat tanggung jawab memegang kelas 5, aku mendapat kesempatan untuk memperjelas mata pelajaran yang murid-muridku akan pelajari. Untuk SBK sudah jelas, aku akan mengisinya dengan berbagai kegiatan kesenian. Sedangkan Muatan Lokal, karena aku tidak bisa Bahasa Mandar, maka aku menggantinya dengan Bahasa Inggris. Sekarang tinggal Pengembangan Diri. Harus kuapakan mata pelajaran yang menghabiskan 2 jam pelajaran dalam seminggu ini.

Akhirnya aku memutuskan, untuk menggunakan jam pelajaran Pengembangan Diri untuk memberikan materi-materi diluar intrakulikuler. Misalnya motivational things dan materi-materi yang mengeksplor diri. Hari pertama Pengembangan Diri aku membuat pohon mimpi bersama anak-anak. Aku menggambar pohon gundul di karton manila, lalu meminta mereka mengisi daunnya dengan cita-cita dan mimpi mereka. Mereka cukup antusias tampaknya. Hasilnya lucu-lucu loh. Ada yang bilang,”Saya mimpi jadi kelinci”, atau , “Saya mimpi pangeran membawaku pergi”. Tapi ada juga yang menulis,”Saya mimpi naik kelas 6, lulus, masuk SMP”, atau, “Saya ingin jadi guru seperti Bu Arrum”, “Saya ingin baik hati seperti Bu Arrum)” ->???, lalu ada, “Saya ingin kuliah di Bandung sama Bu Arrum”. Dan berbagai cita-cita lain seperti dokter dan tentara.

Pohon Mimpi

Tidak terlepas dari esensi pengembangan diri, aku berencana mata pelajaran ini memang dapat mengembangkan diri mereka. Untuk mata pelajaran ini aku meminta mereka untuk membuat suatu hasta karya terbaik mereka yang akan dikumpulkan di akhir semester ini. Bisa berupa lukisan, mainan dari bambu, patung tanah liat, pakaian yang dijahit sendiri, atau apapun juga. Karya-karya mereka akan dipamerkan pada saat kenaikan kelas nanti. Selain prakarya mereka, aku juga ingin memamerkan benda-benda yang mereka buat selama semester 2 ini, misalnya hasil percobaan IPA. Aku berencana mengundang guru-guru dan kepala sekolah, orang tua mereka, dan Pengajar Muda lain jika dimungkinkan. Kupikir hal ini dapat berpengaruh baik pada perkembangan mereka.

What do you readers think?

Rabu, 19 Januari 2011

Hari ini aku ingin membagi keseruan yang terjadi di sekolah. Hari ini ada pelajaran IPS. Wah sungguh aku bingung, bagimana mengajarkan IPS. Karena IPS kan mata pelajaran yang dibaca. Tidak perlu pemahaman rumus dan logika. Jadi, inilah yang aku lakukan dengan murid-muridku di kelas.

Pertama aku meminta mereka membaca beberapa halaman yang akan kami bahas hari itu, yaitu asal mula kedatangan Belanda ke Indonesia. Setelah itu, aku menggambar bagan-bagan yang menceritakan runtuta sejarah yang mereka baca, lalu memaparkan lagi inti-inti penting melalui story telling.

Pada jam pelajaran berikutnya, aku melakukan permainan. Tebak tokoh. Aturannya adalah setiap kelompok harus memilih satu orang untuk didandani sesuai dengan karakter yang aku minta. Tokoh-tokoh nya adalah Jendral-jendral Belanda yang pertama menguasi Indonesia. Itu loh, Daendels, Raffles, Van Den Bosch. Lalu setiap kelompok juga memilih satu orang untuk menjadi narrator yang akan membacakan petunjuk singkat tentang tokoh yang  ditampilkan sehingga teman-teman lain dapat menebaknya.

Begitu permainan dimulai, anak-anak dengan semangat pergi ke kebun belakang sekolah untuk mencari properti kostum. Pelajaran tersampaikan, dan semoga materi hari itu menempel dalam benak mereka.

PS : Terima kasih pada I-Teach yang memberikan inspirasi belajar seperti ini

The Characters

Me and my little monsters

 

Senin, 17 Januari 2011

First day at school!!! Pagi ini jadwalnya memang belum mulai belajar. Hari pertama adalah waktu untuk membersihkan sekolah. Tapi hari ini terlalu sayang dilewatkan begitu saja dengan bersih-bersih tanpa masuk kelas 5 sebagai wali kelas mereka. Jadilah aku masuk kelas setelah jam istirahat.

Ada beberapa agenda yang kami lakukan, yaitu reorganisasi kelas, membuat peraturan kelas dan menginformasikan tentang gambaran besar rencana semester 2.

Proses pemilihan perangkat kelas berjalan cukup lancar. Di SD ku anak-anaknya sebagian besar jauh dari pemalu. Bahkan mereka semua berebut untuk jadi pemimpin di kelasnya. Sebenarnya aku agak kewalahan dalam memilih, tapi untung saja aku menyiapkan banyak jabatan sehingga mereka yang keukeuh dapat terfasilitasi.

 

Ketua kelas dan wali kelas dipilih oleh murid-murid. Harjo, adalah murid yang paling kuat di kelas, dia paling nakal, jadi aku senang dia terpilih jadi ketua kelas (walaupun pada kenyataannya susah sekali mengaturnya). Sedangkan Satriana, adalah murid perempuan yang tampaknya cukup disegani, dia pintar, rajin dan badannya besar. Haha. Cukuplah harusnya kedua anak itu memimpin kelas.

Pasukan penjaga kelas, adalah anak-anak yang sengaja kupilih. Menurutku anak-anak ini adalah anak-anak yang disegani dan didengar oleh teman-temannya. Mereka punya pengaruh. Dan paling penting,mereka juga suka melanggar peraturan. Jadi, secara otomatis pengangkatan mereka jadi penjaga kelas akan mengerem tingkah laku brutal mereka.

Sedangkan ketua piket dan anak buahnya, sebenarnya adalah bentuk fasilitasi dari anak-anak yang ngotot ingin ditunjuk jadi perangkat kelas. Hehe. Maaf ya anak-anak bukan Ibu culas, tapi tidak semua anak bisa jadi ketua kelas dalam waktu bersamaan.

Selanjutnya, kami membuat peraturan kelas bersama. Diharapkan mereka akan mematuhi semua peraturan, berikut dengan hukuman, yang mereka tetapkan sendiri. Berikut adalah daftar sementara dari peraturan yang kami buat bersama.

1.       Menggunakan toilet card jika mau keluar

2.       Ijin ketika tidak masuk, tidak terima alfa

3.       Belajar dengan tenang

4.       Bekerja sendiri saat ulangan

5.       Berlaku baik kepada teman

6.       Selalu menghargai orang lain

7.       Makan dan bermain saat istirahat

8.       Menjaga kebersihan

9.       Menjaga barang milik sendiri dan orang lain

10.   Sebisa memakai seragam sesuai dengan ketentuan yang berlaku

Awalnya, ketika aku minta mereka untuk menentukan hukuman bagi mereka sendiri, jenis hukumannya cukup mengejutkan. Ada yang mengusulkan push up, dijemur, lari keliling lapangan, dll. Aku tidak tahu apakah lebih baik menggunakan tipe hukuman fisik seperti itu, tapi aku pribadi tidak menyukai tipe hukuman fisik. Hukuman yang menjerakan tidak harus fisik kan? Berikut adalah pilihan hukuman bila mereka  melanggar peraturan :

1.       Membersihkan WC (ini yang terberat, trust me, eww)

2.       Membersihkan ruang kelas sepulang sekolah

3.       Berdiri di pojok hukuman

4.       Berdiri di pojok hukuman di kelas lain

Ketika ditanya harapan apa yang mereka punya dalam proses belajar ke depan, mereka meminta aku untuk sedikit lebih keras dan galak pada mereka. Katanya biar mereka takut. Am I to soft? I guess I’ve been too soft on them. Karena memang pada dasarnya aku tidak ingin mereka takut, tapi hormat. Bagaimana ya cara membangunnya?

Di akhir jam pelajaran, aku mengajak mereka untuk berdiri dan berjanji pada diri sendiri. Kelas 5 sering diremehkan. Semua guru sepakat kalau biang nakal di sekolah ada kelas 5. Tapi aku percaya mereka cerdas dan mampu berkarya. Ada tiga janji, yang intinya mereka akan belajar dengan baik, bertingkah laku dengan baik, dan membuktikan kalau mereka BISA! Kami mengakhiri hari itu dengan tos di depan kelas. KELAS 5! BISA!! I didn’t know why I did the that, seru aja tos bareng-bareng, even though it’s a lil bit silly. Haha..

Minggu, 16 Januari 2011

Malam. Jam 10. Di markas besar.

Aku berada di garis depan. Peperangan sudah di depan mata. Lawan-lawan tangguh sudah mempersiapkan diri. Pertarungan yang sesungguhnya akan dimulai.

“Jendral Arrum, bagaimana kondisi persenjataanmu?”.

‘’Tahap perencanaan sudah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Malam ini aku sudah membuat Toilet Card, Komandan! Serangan pertama akan ku mulai dengan reorganisasi  kelas. Lalu untuk menjaga kedisiplinan prajurit, aku akan membuat peraturan kelas dari awal bersama mereka. Aku akan terangkan rencana-rencana pertarungan yang akan kami jalani sampai semester ini berakhir. Juga tidak lupa aku akan tampung semua masukan mereka yang dapat berguna untuk memenangkan perang ini, Komandan. Selesai!”

 

“Bagaiman kondisi mentalmu dan para prajurit?”

“Kondisi prajurit dalam keadaan prima, Komandan. Mereka selalu dalam kondisi prima. Sedangkan aku, aku siap bertempur bersama mereka Komandan. Sampai titik darah penghabisan. Merdeka!!”.

 

“Pertahankan semangatmu Jendral! Bagus. Walaupun kau akan memimpin satu kompi pasukan yang paling sulit di antara semua kompi pasukan di sini. Kompi yang paling sulit diatur. Sampai tidak ada orang lain yang mau memimpin mereka. Apakah kamu yakin bisa mengatur mereka Jendral?”.

“Aku berusaha sekuat tenaga, Komandan”.

 

“Mereka dipandang sebelah mata. Apakah kamu yakin bisa membuktikan bahwa mereka tidak layak dipandang sebelah mata, Jendral?”.

“Siap, komandan. Pasti bisa!”.

 

“Bagus Jendral. Aku tunggu laporanmu. Jangan buat aku kecewa Jendral!! Sekarang istirahatlah. Pertarungan pertamamu akan dimulai besok.”

“Siap, laksanakan!!”.

Kamis, 13 Januari 2011

Percakapan Dengan Bapak Tukang Ojek

Sore hari sekitar pukul 16.00, aku sampai di Kecamatan Tammerodo. Galuh Sangalla terletak 4 km jauhnya. Aku pergi menghampiri tempat ojek biasanya mangkal, berharap di sana masih ada ojek yang dapat mengangkutku ke rumah.

Ah, ternyata masih ada. Alhamdulillah.

“Pak, ojek ke Galuh Sangalla ya?”, ujarku. “Oh, ya silakan”, Bapak tukang ojek itu menyahut.

“Kita (kita = kamu) mengajar di sini sudah pengangkatan?”, tanyanya. “Oh saya bukan PNS, Pak. Saya utusan yayasan”, jawabku. “Ooh, kontrak kita berapa tahun?”. “Satu, Pak”, kembali aku menjawab.

“Oooh.. Bagus sekali itu kita ditempatkan di sana. Yang saya perhatikan, guru di sana itu cuma satu saja yang bagus. Yang lainnya tidak.”

“Sekarang ini jadi guru sering dianggap main-main. Banyak yang hanya lulusan Tsanawiyah saja. Setelah itu mereka akan ambil Paket C agar dapat ijazah setara SMA. Lalu kuliahnya juga asal-asalan. Cuma mau kejar PNS saja. Bagaimana mau mengajar kalau cara dapatnya asal-asalan seperti itu?”

“Oh begitu ya Pak?”, ujarku sambil manggut-manggut di belakang.

“Iya. Sama juga dengan pendidikan TK. Di sini ada TK yang bagus namanya TK Nurul Ilmi. Gurunya memang benar ambil PGTK waktu kuliah.”

“Bapak memerhatikan betul masalah pendidikan di sini ya Pak? Sampai Bapak tahu segitu banyak”, tanyaku kagum.

“Ah, ya tidak lah Bu. Sedikit-sedikit saja. Saya kan orang lama di sini”.

“Bapak punya anak yang bersekolah di SD saya?”.

“Iya ada dua. Satu di kelas 2, satu di kelas 4, Mutmainnah”.

“Ooooo.. Mutma. Saya kenal baik itu Pak. Saya kan sering masuk kelas 4 semester kemarin”.

Tidak heran, tampaknya memang Bapak ini concern tentang masalah pendidikan. Tercermin dari anaknya, yang rajin ke sekolah dan ikut Les Bahasa Inggris. Hanya salah satu dari sedikit sekali anak SD ku yang mengikuti Les Bahasa Inggris.

Tak peduli apapun profesinya, benar kata Pak Anies, mendidik adalah tugas setiap orang terdidik. Saat ini mendidik mulai menjadi tanggung jawab setiap orang.

4 km terlewati sudah.

“Sampai Bu”, katanya di depan rumahku.

“Iya, terima kasih banyak ya Pak. Buat ojek nya sama buat ngobrol-ngobrolnya.”

Rabu, 12 Januari 2011

Hari liburan ketiga. Agenda hari ini adalah pergi ke Polewali menghadiri pernikahan guru agama SDku. Seru juga singgah ke kabupaten lain. Aku berangkat dengan Kepala Sekolah dan teman-teman guru yang lain. Bentuk pernikahannya mirip dengan pernikahan di lingkungan ku. Adat Mandar.

Bu Masliah tampil sangat berbeda. Senang melihat dia memakai soft lense yang kubelikan. Pesannya dulu,”Masa pakai kacamata? Kalau tidak pakai lensa saya tidak jadi menikah”. Hihi.. selamat ya Bu atas pernikahannya. Semoga makin bahagia.

Selamat Berbahagia Bu.....