Archive for December, 2010


Miss Tease

16 Desember 2010

Kemarin sepulang les, aku dan murid-murid kelas 5 pergi menengok salah satu anak yang sedang sakit cacar. Rumahnya cukup jauh di atas gunung. Jalanannya mendaki dan curam. Kemiringannya bisa sampai 600.

Sesuai adat orang Mandar, tamu yang datang harus disuguhi. Dan tamu yang disuguhi, harus memakan atau meminum suguhan yang diberikan, walaupun hanya sedikit. Jika tidak akan dianggap tidak menghormati sang tuan rumah. Begitu juga kemarin, aku dan anak-anak disuguhi teh dan kue-kue. Tanpa curiga apapun kami menyantap hidangan tersebut.

Sesampainya aku di rumah, ibu bertanya, “Tadi ke Manyamba tengah? Disuguhi minum?”. Aku pun mengiyakan. Dia berkata lagi, “Kalau di sini, jangan sembarangan meminum minuman dari orang. Kalau sedang bertamu juga. Apalagi di daerah Manyamba tengah sana. Yaah, memang sih kita tidak tahu siapa, tapi kan kita harus berjaga-jaga”. Okay, that’s creepy.

Sebelum berangkat ke sini, aku sudah pernah mendengar desas-desus yang mengatakan bahwa mistis di sini memang masih kuat. Contohnya, jangan minum sembarangan. Dan ku pikir, daerah ku sudah cukup modern. Dalam artian tidak ada lagi hal-hal berbau mistis yang seperti itu.

Tapi tampaknya aku baru tahu sangat sedikit mengenai daerah ini. Orang sakit saja masih sering dibawa ke dukun untuk didoakan, bukannya ke dokter untuk diobati.

Berikut hal-hal mistis yang menurut orang tua angkat ku pernah terjadi :

  • Orang yang diracun pernah ada yang muntah darah
  • Gelas atau piring yang diracun dapat langsung pecah jika korban adalah orang pintar yang mengetahui doa penangkalnya
  • Sering terjadi kesurupan, katanya karena sakit

Pada malam harinya, ibu membawakanku segelas air. Dia berpesan untuk meminum air itu sampai habis. Aku baru tahu bahwa itu adalah air yang sudah dijampi-jampi oleh dukun kampung, untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi padaku. Okay, way too creepy..

Sebenarnya aku tidak percaya hal-hal seperti itu. Aku percaya ada Zat Yang Maha Kuasa yang akan melindungi. Jangan lupa baca Bismillah ketika memulai setiap kegiatan.

Advertisements

The Training – Day 0

(Tulisan di malam pertama sebagai Pengajar Muda yg baru sempet di post.. haha good old times.. )

The Training

Day 0

September 19th 2010

The day has finally come, my departure to a whole new journey, Indonesia Mengjajar. Perasaanku bisa dibilang cukup datar. Mungkin excitement yang besar itu diredam oleh sedikit perasaan was-was. Ditambah dengan kakak ke-2 ku yang tiba-tiba mellow sejak tadi malam. Hehe, don’t be sis! I’ll be just fine.. Cuma mama yang mengantar ke Jakarta. But it’s more than enough.

Setibanya di kantor Indonesia Mengajar di Jalan Galuh 2 Jakarta, mendadak aku merasakan panick attack. This is REAL!! Oh how spoiled I am!! Tapi ini  bagian yang harus aku jalani, if I want to be tougher than before, then this is the test I have to pass.

Setelah pengisian formulir yang banyak itu selesai, kami berangkat ke Modern Training Centre, Ciawi, Bogor. Akhirnya aku bisa melihat sosok 51 Pengajar Muda lainnya. Betapa aku merasa kecil. You’ll always find bigger fish in the bigger pond. How lucky I am to be a part of something brilliant like this, to be among brilliant youngsters all over Indonesia.

Acara pertama hari ini adalah pembukaan yang isinya adalah pengenalan program IM. First speech dibawakan oleh Pak Hikmat Hardono selaku direktur program. I like the way he talks. Aku rasa dia dulu juga adalah aktivis kampus. He is so inspiring and can burn my spirit.

Tempat yang akan kalian datangi itu gelap, tapi kalian akan datang membawa lilin

Selanjutnya, Pak Anies took the stage. Beliau kembali menjabarkan tentang seluk beluk IM. IM mirip dengan program PTM (Pengerahan Tenaga Mahasiswa, CMIIW) pada tahun 50an. Pendirinya adalah Kusnadi Hardjasumantri, dimana Emil Salim dan sejumlah nama besar lainnya terlibat. PTM memberangkatkan delapan mahasiswa untuk mengajar SMA di pedalaman. Efeknya ? tiga orang yang dibawa oleh Bapak Kusnadi untuk kuliah di UGM. 1 orang menjadi rektor universitas Satya Wacana (again, CMIIW) dan 1 orang menjadi Gubernur Bank Indonesia.

Efek jangka panjangnya adalah, pada tahun 60an, the son and daughter of nobody dapat menikmati jenjang pendidikan universitas. Tahun 70an, mahasiswa-mahasiswa tersebut masuk dunia kerja. Dan pada tahun 80an, Indonesia mengalami masa pergerakan sosio ekonomi, dimana middle class terbentuk. Dimana masyarakat Indonesia sebagain besar sudah mandiri. Semua itu berkat usaha perbaikan mutu pendidikan yang dibawa oleh program PTM.

Kami disini ingin membuat sejarah baru. Rakyat Indonesia berkembang. Yang belum merasakan terpenuhinya janji kemerdekaan pun semakin banyak. Maka inilah kami, ke-52 Pengajar Muda, berusaha merealisasikan janji itu, lewat dunia pendidikan.

 

Cheers,

PS : I’m writing in darkness. They turn the lights off at 10PM.

PSS : I’m writing using your pen Gung and I’m writing on your journal book San! Thank you! The book smells so nice!!

Selasa, 7 Desember 2010

Tahun baru Islam. Selamat Tahun Baru semua. Selamat liburan juga..

Liburan berarti istirahat. Istirahat jadi guilty pleasure sekarang. Hehe..

Hari ini hari Selasa, berarti ini adalah hari pasar. Pada hari pasar, hampir semua penduduk turun gunung untuk membeli keperluan mereka selama seminggu ke depan. Akhirnya aku bisa ikut turun ke pasar karena hari ini sekolah libur.

Hampir semua barang ada di pasar. Ikan, sayur, beras, bumbu-bumbu dapur, keperluan sekolah, sepatu, jilbab, baju, peralatan dapur, perlengkapan mandi dan lain-lain. Tapi sepertinya aku tidak lihat daging ayam atau sapi dijual tadi.

Banyak daerah yang mengandalkan hari pasar. Di Manyamba, masih untung sesekali ada pedagang ikan yang lewat sehingga kami tidak harus membeli ikan untuk kebutuhan satu minggu. Di sini juga ada warung, sehingga kebutuhan sehari-hari kami bisa dibeli di warung. Namun ada juga daerah teman-temanku yang begitu jauh masuk ke dalam, sehingga tidak ada pedagang yang lewat, juga tidak ada warung. Contohnya daerah Agung di Tatibajo. Hari pasarnya adalah hari Sabtu. Hari Sabtu dan Minggu, boleh dia makan enak. Namun hari Jumat, makan mungkin hanya  dua kali, lauk hanya telur. Yah seperti itulah..

Pasar juga merupakan ajang bertemu dengan masyarakat sekitar. Aku saja yang orang baru di sini, banyak menemui orang-orang yang dikenal. Keadaannya tadi cukup ramai. Namun pasar akan mencapai puncak ramainya ketika menjelang hari raya. Jalanan macet. Pasar padat. Tapi pasti seru..

 

Wow.. the package has finally arrived here today. It took more than 1 week since my mom sent it from Bandung. Di dalamnya ada buku-buku komik Donal Bebek. Ensiklopedia anak, kamus Inggris, Jarimatika alat tulis dan yang paling laris, kertas lipat. Semoga ini bisa meningkatkan minat baca anak ya.. I could open a small library in my house then.

 

In the afternoon, I gave English course to the kids. The attendance was about 30 kids. Not bad. Got to be healthy tomorrow. Don’t want to get cough badly like today. Such a sick old lady!!

Pak Hamid

 

Bapak Abdul Hamid S. Pd. SD. Pria sederhana. Bertempat tinggal di Manyamba, tak begitu jauh dari sekolah. Beliau lahir 44 tahun yang lalu di daerah bernama Kaloli. Ayah dari empat anak ini sangat istimewa. Terutama bagi murid-muridnya di SDN 39 Manyamba. Karena beliau adalah sosok guru teladan yang sangat disegani di sekolah ini.

Saat ini beliau memegang tanggung jawab untuk menjadi wali kelas 6. Otomatis Pak Hamid menjadi ujung tombak kelulusan murid-murid SDN 39 Manyamba di UASBN nanti. Namun begitu, tanggung jawab yang berat itu beliau emban dengan ikhlas.

Spesialisasinya adalah pelajaran Matematika. Banyak murid dan orang tua murid berkata bahwa pakar Matematika di sekolah ini adalah beliau. Bahkan, SDN 39 Manyamba pernah mengirimkan wakilnya untuk olimpiade Matematika sampai tingkat provinsi. Namun sayang, tidak dapat tembus karena kendala Bahasa Inggris.

Masa baktinya sebagai guru sudah dimulai sejak tahun 1988. Sedangkan beliau menjadi guru di SDN 39 Manyamba sejak tahun 1992.

Tidak hanya mengbadi pada pendidikan ketika jam pelajaran berlangsung, tapi beliau juga senantiasa memberika les pada murid-muridnya yang membutuhkan saat menjelang ujian. Ketika ditanya, bagaimana bisa mendidik murid-murid yang begitu aktif dan terkadang bandel. Beliau menjawab, hukuman tetap harus diberlakukan. Hal tersebut tentunya ditujukan agar murid-murid menyadari konsekuensi atas perbuatannya. Hukuman yang sering beliau berlakukan adalah lari keliling lapangan. Hebatnya, murid-muridnya mau menuruti Pak Hamid ketika diminta lari keliling lapangan. Dan setelahnya murid-murid jadi kembali menurut.

Menjadi satu-satunya guru PNS yang memegang kelas diakuinya sebagai pekerjaan yang cukup berat. Beliau mengaku sedih, bahkan sempat menangis, mengingat murid-muridnya yang banyak tertinggal dengan sekolah lain. Walaupun begitu, tingkat kelulusan di SDN 39 Manyamba selalu 100%. Ketika ditanya rahasianya, dengan polos beliau menjawab tidak tahu. “Jawaban diperiksa di tingkat provinsi”, tuturnya. Beliau mengaku bingung karena murid sebenarnya banyak yang belum memenuhi ekspektasinya. Dari hasil obrolan dengan Kepala Sekolah, mungkin hal itu karena standar kelulusan yang ditetapkan tergolong cukup rendah, yaitu 2,5.

Pak Hamid adalah contoh nyata dari pahlawan sesungguhnya. Tak ada tanda penghargaan. Tak ada apresiasi. Namun wajah pendidikan Indonesia akan selalu tersenyum dengan adanya orang-orang seperti Pak Hamid di negeri ini. Ketika ditanya alasannya menjadi guru, dengan rendah hati beliau menjawab, “Untuk anak-anak. Pengabdian agar tujuan pendidikan tercapai”.

Doa dan perjuangan kami Insyaallah selalu menyertaimu, Pak Hamid. Dan juga Pak Hamid-Pak Hamid lainnya di luar sana.

 

Sabtu, 4 Desember 2010, sepulang sekolah

Hari ini hujan turun dari pagi. Seperti dugaan, aku adalah guru pertama yang datang di sekolah. Disusul Pak Hamid, guru kelas 6, yang datang tak lama kemudian. Karena kami  cuma berdua, seperti biasa aku masuk kelas 5.

Selesai mengabsen, aku meminta salah seorang murid untuk mengerjakan PR Matematika di depan kelas. Ketika murid tersebut mengerjakan PR di depan kelas, banyak murid laki-laki yang mengejek. Suasana kelas sangat gaduh. Berkali-kali aku meminta mereka untuk tenang, tidak mempan. Sampai akhirnya Satriana, murid perempuan yang mengerjakan soal, kembali ke tempat duduknya lalu menangis karena sakit  hati diejek.

Bukan pertama kali ada murid menangis di kelas 5, terutama murid perempuan. Jika bukan karena diejek, dipukul, ditendang atau didorong murid laki-laki. Padahal pada hari pertama aku masuk kelas, murid-murid telah membuat janji untuk tidak melakukan itu semua. Namun, memang aku belum membuat kesepakatan mendetail tentang aturan kelas, reward dan punishment. Karena secara teknis aku belum menjadi wali kelas 5, sehingga aku belum memegang otoritas penuh atas kelas tersebut.

Kembali ke cerita di atas. Akhirnya aku berkata pada mereka, sebagai bentuk konsekuensi atas tindakan mereka itu, aku hari ini tidak mau masuk kelas 5 dan mengajar mereka. Karena berkali-kali mereka melakukan kesalahan yang sama.  Aku berkata, aku tidak akan mau masuk kelas 5 jika mereka masih mengulangi kenakalan-kenakalan yang merugikan orang lain seperti itu.

Tak lama setelah aku masuk kelas 4 untuk mengajar, terdapat segerombolan anak kelas 5 di pintu. Dengan malu-malu mereka masuk dan mendekat. Ira, berkata “Bu maafkan..” . Setelah Ira, ternyata murid-murid laki-laki yang tadi berulah juga datang minta maaf. “Bu, saya mengaku salah. Saya minta maaf. Ibu ngajar lagi ya..”, kata Rahmat meminta maaf. Sambil berucap maaf dia menangis. Well, hati guru mana yang tak luluh ya melihat muridnya yang tengil menangis minta maaf?  Setelah semua minta maaf, mereka berjanji untuk tidak membuat temannya menangis di kelas, apapun bentuknya. Jika sampai terulang lagi, maka aku tidak akan mengajar lagi di kelas 5. Konsisten, aku tetap tidak masuk kelas 5 hari itu, dan dengan sangat berat hati memlihat kelas 5 kosong tak ada guru. Tapi tak apalah, agar mereka menyadari adanya konsekuensi atas tiap tindakan yang mereka lakukan.

Pelajaran yang diambil hari ini adalah, ya bentuk hukuman itu perlu. Asalkan bentuk hukuman itu disetujui oleh guru dan murid. Dan sebisa mungkin hukuman yang diberlakukan bukan hukuman fisik. Karena berdasarkan pengalaman dengan mereka, mereka malahan ingin dihukum lari keliling lapangan ketika mereka melakukan kesalahan. Jika begitu, hukuman menjadi kehilangan makna.

Ketika nanti aku menjadi wali kelas 5 yang resmi, bersama dengan murid aku harus membuat set peraturan kelas, beserta reward dan punishment nya.

Galuh Sangala, 10 Desember 2010

 

Aku merasa seperti sedang bermimpi

Bangun setiap pagi dalam kamar ku yang kecil di rumah orang lain

Sarapan pagi dengan keluarga yang bukan keluargaku

Pergi ke sebuah Sekolah Dasar dan mengajar anak-anak yang belum pernah kutemui sebelumnya

Memberikan les pelajaran tambahan di siang hari

Bermain dan belajar dengan anak-anak saat sore sampai malam hari

Mengaji bersama anak-anak setelah Magrib

Mengajar Bahasa Inggris pada anak-anak dan remaja

Menyiapkan apa yang akan aku lakukan esok hari pada malam harinya

Dan akhirnya, kembali menutup mata di atas tempat tidur, dan menunggu mimpi lain datang keesokan harinya

 

Tapi

Aku buka mata

Sekarang ini adalah rumahku

Ini adalah keluargaku juga sekarang

Anak-anak yang belum pernah kutemui ini adalah murid-muridku sekarang

Dan  apa yang kulakukan bersama mereka akan menjadi bagian yang bermakna untuk kami masing-masing

Dan setiap malam aku tidur, selalu aku ingatkan pada diriku, kalau ini bukan mimpi

Ini adalah saatnya untuk mewujudkan mimpi itu

 

Tidak ada anak yang bodoh, kalimat itu aku kutip dari buku Sekolahnya Manusia, karangan Munif Chatib. Beliau pernah datang untuk menyampaikan materi di pelatihan IM kemarin. Bapak Munif Chatib adalah seorang CEO, juga konsultan pendidikan, yang dengan berani menerapkan sekolah berbasis multiple intelligence di Indonesia. Konsep multiple intelligence (MI) atau kecerdasan majemuk adalah suatu konsep yang dicetuskan oleh Howard Gardner, yang meredefinisi arti kecerdasan.

Coba, jika pembaca mendengar kata anak cerdas atau pintar, apa yang pertama muncul di pikiran? Anak yang jago Matematika atau anak yang pintar science. Tapi, bagaimana dengan anak yang lemah di aspek logika matematisnya , namun sangat aktif bergerak atau sangat menyenangi musik? Biasanya dengan gamblangnya kita akan menyebut anak-anak itu sebagai anak yang nakal dan bodoh. Kita begitu terbiasa dengan bentuk tipe kecerdasan yang hanya mengutamakan aspek logis, sehingga kita sering mengebiri potensi anak yang sesungguhnya agar mereka sesuai dengan bentukan pendidikan kita yang kolot.

Tingkat kecerdasan kita diberi label angka yang dihasilkan oleh tes IQ, yang dibuat oleh Alferd Binet pada tahun 70an. Hasil dari tes IQ bukannya salah, namun hasilnya kurang dapat menggambarkan kecerdasan seseorang secara holistik. Tes IQ sebenarnya adalah tes yang menghubungkan faktor keturunan dengan kecerdasan seseorang. Selain itu, tes IQ tidak mengukur tingkat kecerdasan yang lain, sebagian besar hanya dalam ranah kognitif saja. Padahal, selain keturunan, faktor lingkungan juga sangat berperan dalam perkembangan kecerdasan seseorang (Dmitriev, Ph. D., Valentine dalam Chatib : Sekolahnya Manusia hal 73).

Menurut MI, ada sembilan tipe kecerdasan hingga saat ini. Dan bahkan mungkin akan berkembang lagi, karena pada dasarnya kecerdasan anak selalu berkembang. Kesembilan tipe kecerdasan itu antara lain spasial, linguistic, logika-matematis, kinestetik, musical, interpersonal, intrapersonal, naturalis dan existensial.

Setiap anak pasti memiliki minimal satu tipe kecerdasan yang menonjol. Konsep yang harus dipahami adalah, asah tipe kecerdasan yang menjadi kekuatan dan kubur tipe kecerdasan yang menjadi kelemahan anak. Sebagai contoh, daripada memaksa seorang anak untuk menjadi fisikawan padahal anak tersebut lemah di bidang tersebut, asah terus bakat linguistiknya agar suatu saat dapat menjadi penulis handal.

Konsep MI yang dapat diaplikasikan dalam dunia pendidikan adalah, bagaimana cara guru dapat memanfaatkan tipe kecerdasan dari masing-masing anak. Tiap anak memiliki tipe kecerdasannya sendiri, sehingga gaya belajarnya pun berbeda-beda. Tiap anak memiliki jalan masuk ilmu nya sendiri. Anak dengan kecenderungan kinestetis, tentu tidak bisa duduk diam dengan manis mendengarkan guru berceramah di depan. Begitu juga sebaliknya.

Gaya belajar siswa sebaiknya perlu diketahui oleh para guru. Agar guru dapat menyesuaikan gaya mengajarnya dengan kecenderungan jalan masuk ilmu murid-muridnya. Hal tersebut akan sangat bermanfaat, karena selain murid akan dapat dengan cepat menyerap materi yang diberikan, proses kegiatan belajar akan terasa sangat menyenangkan bagi murid.

Penerapan konsep MI ini bukan berarti dapat dengan mudahnya diterapkan. Guru tidak dapat hanya duduk di kelas berceramah dan memberikan tugas. Tapi guru dituntut untuk kreatif dalam setiap pertemuannya.

Setelah membaca buku ini, aku semakin tertarik untuk mendalami aplikasi dari MI ini dan ingin sekali menerapkannya di sekolah. Ketika pertama kali masuk ke kelas 5, kelas yang akan aku pegang semester 2 nanti, aku sudah membayangkan tipe kelas macam apakah mereka. Sekumpulan anak hiperaktif yang tidak pernah mau duduk diam. Selalu ingin bicara dan menjawab. Selalu ingin membuat gaduh, berlari-lari dalam kelas dan tidak jarang mengganggu murid yang lain. Satu hal yang terbersit, kinestetis. Setelah beberapa kali aku masuk kelas 5, ternyata mereka juga sangat suka hal-hal berbau seni, terutama menggambar. Oke, mungkin spasial visual dapat menjadi alternatif.

Selain guru, menurutku orang tua juga sebaiknya mengetahui tentang konsep MI. agar para orang tua dapat mengetahui tipa kecerdasan anaknya agar dapat mencapai kondisi terbaiknya sedini mungkin.

Last but not least, if you think your kids, students, niece, nephew or whoever, are stupid. Think again. Maybe it’s us who don’t understand the best way for them to learn.

 

Kita semua, baik secara sadar ataupun tidak, berpegang pada sesuatu yang utopis. Sesuatu yang bahkan sulit untuk dilihat secara nyata. Menurutku ini berlaku untuk hal apapun yang sedang kita hadapi. Tak ada orang yang tak memiliki alasan dalam melakukan sesuatu. If u confuse of what you’re doing now, seek further, because there has got to be something.

Di akhir masa pelatihan Pengajar Muda, aku sempat meragukan apa yang sedang aku kerjakan. What the hell am I doing here? Dan tiba-tiba semua terasa begitu berat dan menakutkan. Entah hanya aku sendiri, atau para Pengajar Muda lain ada yang merasakan hal yang serupa. Dari hasil obrolan dengan beberapa kawan, ternyata banyak dari mereka merasakan hal itu. Tiba-tiba kami merasa, apa yang begitu kami inginkan pada awalnya, mengabdi di pelosok negeri selama satu tahun, terasa terlalu cepat datang. Kami ingin bilang bahwa kami butuh waktu lagi untuk menyiapkan diri.

Tujuh minggu, hanya itu yang kami punya untuk menyiapkan diri sebelum kami diturunkan ke pelosok.

Untuk menguatkan diri, aku ingat-ingat lagi, apa tujuan awal aku ikut Indonesia Mengajar ini. Bukan untuk mencari pekerjaan, karena sebelumnya aku sudah bekerja di tempat yang amat sangat nyaman. Bukan karena aku suka anak-anak, because to be honest, I don’t love kids. I don’t hate them, I just treat them as people, not cute little kids like most of my friends do. (heheh..). Aku pikir, alangkah beruntungnya teman-teman Pengajar Muda yang memiliki ikut Indonesia Mengajar dengan kedua alasan di atas. Jika mereka hanya melihat ini sebagai pekerjaan, well, kerjakan apa yang ada sebaik mungkin. Tidak usah pikirkan yang lain. Jika mereka ikut karena mereka cinta anak-anak, maka sangat beruntunglah mereka. Di pelosok kami akan bertemu dengan murid-murid SD kami, setiap hari. “Pekerjaan” ini akan terasa sangat mudah jika kita pada dasarnya mencintai anak-anak.

Setelah ditelusuri, yang aku dapat adalah jawaban yang utopis. I’m here to serve my nation. Sangat utopis bukan? Akupun tidak puas akan jawaban itu. Namun, dari hasil obrolan dengan salah satu Pengajar Muda, Rahmat Danu Andika, setiap orang pasti punya jawaban utopis akan keberadaan kami di sini. Apapun bentuknya. Dan, secara sadar atau tidak, kami berpegang pada sesuatu yang utopis tadi.

Tepat pada hari yang sama setelah pembicaraan tadi, pihak IM mengundang seorang pembicara yang sangat luar biasa. Iwan Abdurrahman. Salah satu pendiri Wanadri. Anggota GDN (Garis Depan Nusantara) dan 7 Summit (ekspedisi penjelajahan tujuh puncak tertinggi di Indonesia). Dan tak lupa, seorang musisi (pencipta lagu Mentari). Beliau sangat inspirasional. Banyak dari para Pengajar Muda yang sangat mengagumi beliau. Beliau banyak memberikan pencerahan bagi kami sesaat sebelum kami diberangkatkan.

Beliau berkata, segala bentuk perjuangan yang beliau lakukan untuk bumi nusantara, adalah karena beliau kasmaran terhadap Indonesia. Dan yang akan kami lakukan nanti di pelosok adalah bukan pengorbanan, tapi kehormatan.

Semua perasaanku, tergambar dengan sangat baik dalam lagu yang terakhir beliau bawakan untuk kami. Judul lagunya Doa. Ini liriknya :

Tuhan..

Ini kami berkumpul

Merenungkan arti hidup kami yang terisi

Sedikit niat bakti bagi sesama yang dalam kegelapan

Tuhan…

Teguhkan hati kami yang punya niat tulus

Dan juga saudara kami yang dalam kegelapan

Tabahkanlah, dan teguhkan imannya

Tabahkan hatimu, Tuhan selalu dekatmu

Sinar terang kan datang bagi orang yang tabah

Amin.. Ya Rabbalamin..