Archive for November, 2010


Selasa, 23 November 2010

Yesterday was a disaster. But today, was miraculous.

Pagi ini datang ke sekolah, seperti biasa hanya ada aku dan Pak Hamid. Kami pun memutuskan aku untuk masuk kelas 4 dan kelas 5. Kelas 4 jam pertama, lalu kelas 5 sisanya.

Aku senang sekali masuk kelas 4. The kids are cute. And smart too. Setelah pelajaran selesai aku masuk ruang guru. And I was very surprised to see the teachers are almost complete!! What an achievement! Haha my day is getting better when I entered 5th grade. They were all so quite and cooperative. And even, by the end of the day, they asked me to give them tutorial. They were so excited!! I really couldn’t say no. At first they wanted the tutorial everyday, Monday to Saturday. I said WHAT?! Haha but looking at their spirit, I melted. Then we had a deal to meet 3 times a week. Monday, Wednesday and Friday every 2PM, since on Tuesday and Thursday I’m going to hold English class.

Then here we go. Today was the first day. So many students came. I’m touched. They named themselves Kelompok Belajar Matahari dan Bintang. They are my sun and stars. Wish they could shine, day and night. And after that we played together at the school yard for a while. Nice moment.

My day hasn’t over yet. Eventually, 4th and 6th grader wanted to study together as well. So be it. All of studied together at my house.

Hari ini aku benar-benar terharu melihat semangat anak-anak itu. Semoga ini bukan euphoria.

Advertisements

Senin, 22 November 2010

Another new week. New challenges.

Hari Senin, identik dengan upacara bendera. Begitu juga dengan SDN 39 Manyamba. Setiap Senin pada jam pelajaran pertama adalah upacara bendera. Harusnya.

Aku bergegas takut terlambat upacara bendera. Tapi sesampainya disana ternyata murid-murid masih berkeliaran dan aku adalah guru yang pertama datang. Ketika kutanya pada murid-murid, ternyata tidak ada upacara bendera jika kepala sekolah belum hadir. Sudah dua minggu seperti ini. Agak sedih rasanya. Tapi aku sempat terharu juga. Ketika ada dua siswi kelas 6 bergegas ke ruang guru untuk mengambil bendera merah putih untuk dikibarkan. Nampaknya masih ada sedikit rasa memiliki Indonesia dalam diri mereka.

Hari ini ada empat guru yang datang. Aku, Pak Hamid, Bu Masliah guru PAI dan Pak Anwar guru honorer. Seperti dugaan, guru kelas 5 tidak hadir lagi. Jadi tampaknya aku kembali menggantikan beliau.

Hari ini pelajaran di kelas 5 adalah Matematika, Bahasa Indonesia dan SBK. Mirip dengan hari-hari sebelumnya. Kemajuan pembelajaran berjalan lambat, apalagi untuk Matematika. Murid-murid tidak begitu ingat materi yang telah diajarkan sebelumnya. Mereka masih juga menjawab asal untuk setiap pertanyaan yang kuajukan. Mereka masih juga berlaku anarkis sehingga ada dua anak menangis hari ini. Mereka masih juga masuk keluar kelas seenaknya. Bahkan masih juga ada yang sangat sulit diajak bekerja sama padahal materinya adalah bernyanyi bersama.

Ketika mengobrol dengan guru lain disana, mereka mengaku memang kelas 5 ini adalah biangnya biang ribut. Semua sumber anak nakal ada di sana. Bahkan mereka mengaku malas kalau harus mengajar di kelas 5. Wah, pas sekali ya. Aku akan menjadi wali kelas 5 mulai semester depan. Pasti berat. Pasti menantang. Pelan-pelan, Rum.. Mereka anak baik sebenarnya. Aku yakin. Tugasku untuk mencari metode ajar yang paling sesuai dan pendekatan personal untuk melunakkan sifat mereka yang sangat anarkis itu.

Sedikit menyambung dengan bahasan tidak ada gurunya di sekolah ini. Dari hasil obrolan dengan salah satu guru honorer, beliau mengaku memang beliau tidak mau datang ke sekolah setiap hari. Karena beliau adalah kepala rumah tangga yang memiliki tanggungan. Padahal sebenarnya beliau tidak memiliki pekerjaan tetap selain mengajar, hanya kerja serabutan saja. Well, sungguh aku bukan sengaja ofensif. Hanya ingin mengatakan yang sebenarnya terjadi di realita saja. Karena sampai saat ini, aku rasa ini adalah akar masalah dari permasalahan pendidikan di Indonesia. Pendaftaran CPNS sedang dibuka. Semoga guru-guru honorer dimudahkan jalannya untuk menjadi PNS tahun ini. Amin..

Moment of the day

Siang hari hujan turun. Siswi pengibar bendera tadi pagi berlari menembus hujan untuk segera menurunkan bendera. Terharu.. :’)

Anyway, Ada isu tsunami di Majene. Tepatnya di daerah Pasarangan. Hari Jumat katanya. Wow! Lengkap dengan harinya!! Masyarakat di sana heboh mengungsi ke tempat tinggi.

 

Sabtu, 20 November 2010

Seperti biasa, pukul 07.30 dan guru yang ada hanya aku dan Pak Hamid. Dan seperti biasa, kami berdua bingung sambil tertawa miris memikirkan kelas yang kosong. Beliau adalah guru kelas 6 sehingga beliau pasti masuk ke kelas 6. Kelas 1-5 kosong, karena gurunya belum datang. Akhirnya aku pun masuk kelas 5, dengan niat disambi masuk ke kelas 4. Untunglah sebelum aku masuk pelajaran terlalu banyak, guru kelas 4 Bu Darmawati muncul. Guru kelas 5 juga ternyata datang pukul 8 lewat. Sehingga dia akan kembali masuk kelas setelah pelajaran Matematika yang kupegang selesai.

Aku gemas sekali hari ini. Selain Pak Hamid, guru-guru yang lain tampak lebih senang mengobrol di dalam ruang guru dibanding masuk kelas untuk mengajar. Setelah Matematika kelas 5 selesai, aku masuk ke ruang guru untuk bertukar mengajar dengan guru kelas 5 yang asli. Tapi sampai waktu jam pelajaran hampir habispun beliau masih asyik mengajakku ngobrol. Setelah beberapa sepetan dan  beranjaknya aku dari ruang guru untuk mencari kelas yang kosong, akhinya guru itu mau juga menuju kelas untuk mengajar. Mengutip perkataan seorang kawan PM, kita harus ikhlas dan sabar.

Guru kelas 2 sebenarnya ada dua orang. Tapi keduanya baru melahirkan sehingga tidak masuk sekolah. Padahal sudah lima dan enam bulan yang lalu. Guru kelas 3 mengaku sakit sejak bulan puasa yang lalu. Sakit maag katanya.

Dari hasil obrolan dengan ibu dan bapak, katanya dana BOS sudah lama tidak turun. Dana BOS biasanya turun per triwulan, namun sudah hampir tujuh bulan dana BOS belum juga keluar. Alhasil, dana guru honorer juga tidak ada alokasinya. Jika sudah menyangkut uang, apalagi jika sudah ada tanggunga, aku juga bingung bagaimana solusi terbaik. Berat untuk selalu mengabdi jika urusan perut pun masih terlantarkan. Apakah bisa dengan hanya meminta mereka untuk memikirkan masa depan pendidikan anak-anak cukup untuk membuat mereka mau dengan setia mengajar?

Hari Sabtu adalah hari ibu pergi kuliah di Universitas Terbuka di Pamboang. Jadi aku sendiri siang ini. Ternyata Kak Diana, tetangga belakang rumah ke rumah mencariku. Dia mengajak untuk bantu-bantu Jani membuat kue-kue untuk pernikahannya Senin depan. Jadilah aku sore ini membantuk memasak. Tampaknya memang perempuan di sini senang sekali bekerja di dapur ya. Oh, dan yang aku kagum adalah rasa solidaritas dan tolong-menolong yang masih begitu kental di desa. Bahkan orang mau pindah rumah pun, orang satu desa akan datang membantu mengangkut rumahnya (literally mengangkut).

 

Sore itu kegiatan ku tak berhenti di situ. Beberapa anak mengajakku pergi ke sungai untuk mandi dan mencuci. Wah, menarik sekali! Aku langsung mengiyakan. Aku berjanji untuk mengambil banyak foto mereka di sana. Sungainya terletak di depan rumahku. Agak lebih dalam dibanding dengan sungai di jembatan menuju sekolah. Seru sekali melihat anak-anak berenang, loncat dari batu, mandi di sungai beramai-ramai. Seperti mengasuh 20 anak sekaligus!! Hahaha..

Watchout kids!! Be careful!! I’m the one who were panicked!

 

Malam Minggu, too tired to do anything. Hit the bed soon, I will.. Catch ya later..

Jumat, 19 November 2010

Hari ini masuk sekolah lagi. Kenapa Idu yang sekolah di Tsanawiyah libur sampai Sabtu? Heheh.. Gurunya malas kok berharap muridnya rajin. Pagi-pagi aku sudah mendapat sms dari Pak Usman, guru kelas 5. Katanya beliau tidak dapat masuk sekolah dan minta untuk digantikan. Katanya ada keperluan ke Majene untuk mencari informasi tentang pendaftaran PNS. Well, at least beliau sedang berusaha untuk menjadi PNS. That’s a good thing. Jadilah hari ini aku masuk lagi ke kelas 5.

Pelajaran pertama adalah IPA. Kami belajar tentang fotosintesis dan bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan beserta contohnya. Di akhir pelajaran aku melakukan semaam tes dadakan untuk mereka. Aku penasaran ingin mengetahui seberapa jauh mereka menangkap pelajaran. Hasilnya cukup menyedihkan, sepertinya murid-murid tidak memahami apa yang barusan aku ajarkan di kelas. Hal tersebut dilihat dari jawaban tes yang kebanyakan kosong dan jawaban-jawaban asal. Hanya sangat sedikit sekali yang memberikan jawaban, tapi itupun tidak sempurna. Entah apakah metode ajar ku yang terlalu cepat, atau memang murid-murid memerlukan waktu untuk mengendapkan pengetahuan yang mereka dapat dan membacanya di waktu lain untuk dapat memahami pelajaran. Itu evaluasi pertama yang harus kulakukan hari ini.

Pelajaran kedua adalah Pengembangan Diri. Mata pelajaran itu adalah muatan lokal selain bahasa daerah. Terdengar mengada-ada. Sebenarnya mereka ingin memasukkan Bahasa Inggris ke dalam muatan lokal. Namun hal tersebut tidak dapat dilaksanakan dengan alasan tidak ada guru nya. Semoga deal dengan ETC dapat segera direalisasikan.

Di mata pelajaran Pengembangan Diri ini, aku memutuskan untuk melakukan origami. Aku ingin mengajar anak-anak untuk membuat kubus. Kubus-kubus tersebut rencananya akan kugunakan lagi di mata pelajaran Matematika mengenai volume kubus.

Kekacauan terjadi ketika awal aku membagikan kertas lipat. Ketika aku meminta mereka untuk membuat satu barisan, yang terjadi adalah anarki dimana-mana. Murid laki-laki saling dorong dan saling pukul, semua berlomba untuk ada di barisan paling depan. Murid perempuan yang sering menjadi korban. Lapisan kesabaran tingkat pertama diuji. Aku mulai tegas. Aku minta bagi yang mendorong dan menyerobot untuk pindah ke barisan belakang. Akhirnya aku minta murid perempuan yang berbaris di depan. Dengan maksud untuk mengurangi tingkat anarki anak-anak itu. Hal tersebut hanya berhasil berlangsung sekitar 10 detik. Karena berikutnya murid laki-laki yang di belakang kembali berhamburan ke depan untuk mengambil kertas lipat. Suasana chaos. Banyak anak yang mengambil kertas melebihi yang diminta. Sungguh, jika resource-nya berlimpah, aku ingin memberikan tiap anak satu bungkus kertas lipat. Masalahnya kertas lipat sulit didapat di sini dan persediaan yang kubawa terbatas. Ketika keadaan makin parah, aku mulai hilang sabar . Tapi aku benar-benar kehabisan akal untuk tetap menjadi guru yang ramah dan menyenangkan tetapi tetap mendisiplinkan mereka. Itu evaluasi kedua yang harus benar-benar kupikirkan hari ini.

Well, kedua hal tadi biarlah jadi evaluasi. Must be better next time..

Siang harinya, aku diajak ibu untuk membantu persiapan tetangga yang akan menikah hari Minggu besok. Setibanya di sana, orang-orang tak hentinya menatap seakan aku ini aneh. Memang aneh mungkin ya. Makhluk asing dari kota di tengah masyarakat yang semua adalah keluarga. Aku membantu menggoreng bawang, menumbuk adonan dan memasukkan adonan dalam daun pisang yang dibentuk segitiga. Cukup melelahkan lho ternyata, terutama bagian menumbuk adonan yang perlu dilakukan sekuat tenaga. Tapi sisi positifnya adalah aku mulai mengenal masyarakat di sini secara lebih personal.

Malam hari nya seusai anak-anak mengaji, aku membantu adikku dan teman-teman mengajinya untuk belajar perkalian dengan jarimatika. Senang sekali lho rasanya ketika apa yang kita ajarkan dapat dimengerti dan dapat mereka aplikasikan. Apalagi jika hal tersebut membantuk mereka di sekolah.

Semoga makin banyak lagi hal bermanfaat yang bisa aku ajarkan pada mereka

Kamis, 18 November 2010

Today is holiday!! That’s the 1st yeay.. 2nd yeay is I’m going to meet all of Pengajar Muda in Majene!! Big Yeaaaaayyy!!!

Hari ini kami mendapat undangan untuk silaturahmi dengan Bapak Jamaluddin, orang Dinas Pendidikan. Apa ya jabatannya aku lupa..

Aku dan Atika dijemput oleh Soleh, BK dan Ujan yang mencarter mobil dari Malunda. Padahal belum seminggu kami berpisah, tapi rasanya senaaaaaang sekali melihat mereka. BK yang jadi berantakan karena hidup penuh pendakian di Buttutala. Soleh yang makin lucu, entah kenapa, di Lombang. Dan Mas Agung yang hidup paling menderita di Tatibajo. Bercandaan kami adalah, jika kami merasa sedih dengan keadaan di tempat masing-masing, ingatlah Agung. Di Tatibajo tidak ada listrik, bahkan genset pun tidak ada. Tidak ada air bersih, WC, sinyal, apalagi sinyal GPRS. Rumah-rumahnya paling kecil dan sederhana. Agung, sabar ya Mas…

Setibanya kami rumah Pak Jamal, kami langsung melupakan tujuan utama berkumpul yaitu memenuhi undangan sang tuan rumah. Kami sibuk bercerita tentang kehidupan baru kami masing-masing. Semua ingin bicara karena kehidupan baru kami yang begitu menarik. Semua atribut ke-PM-an ditanggalkan. Kami langsung kembali menjadi anak-anak ribut . Apalagi Kak Eda juga hadir di sana. Lengkap sudah.

Setelah makan dengan super enak di Pak Jamal, kami memutuskan untuk singgah di rumah Kak Eda, yang kebetulan tinggal tak jauh dari sana. Maaf Kak Eda, kamar mu jadi super berantakan karena kami singgahi.

PS : sebenarnya hari ini akan lebih ok kalau aku tidak terserang alergi. Gatal dan bentol sekujur tubuh. I think it’s because the fish. Thanks to Manyamba Puskesmas for giving me a free treatment and meds. Hihihihi I’m fine now..

Rabu, 17 November 2010

Selama Idul Adha semua. Semoga Lebaran ini jadi berkah untuk kita semua. Dan tahun depan bisa kurban. Amin…

Aku berlebaran di rumah Kepala Sekolah, Bapak Muh. Arief. Kami sholat di lapangan di daerah Pelettoang. Tidak ada hal yang luar biasa. Setelah sholat pun ada khotbah dan beredarnya kencleng. Tapi yang unik disini adalah, kencleng dibawa oleh sekitar 9 orang yang berbaris untuk meminta sumbangan. Ternyata mereka berasal dari 9 dusun yang berbeda, sehingga kenclengnya pun berbeda. Hal itu cukup berbeda dengan kebiasaan di Bandung, yang kenclengnya hanya satu dikolektifkan untuk kepentingan masjid.

Setelah sholat Ied, aku dan keluarga Pak Arief mengunjungi keluarga-keluarga beliau yang rumahnya bertetanggaan dengan rumah beliau. Di setiap rumah kami disuguhi makanan-makanan khas lebaran. Ketupat, gogos, dengan lauh-lauk seperti battinjoro (mirip serundeng), baupeapi (ikan dengan cara masak peapi, berkuah), ayam, gulai, ada yang soto, ada yang menyajikan es buah dan tak lupa kande (kue). Kami wajib hukumnya untuk mencoba hidangan di setiap rumah. Sebagai bentuk penghormatan pada sang tuan rumah. Kata Agung dan Fuazan, adat ini dinamakan adat patudu. Tamu wajib mencoba makanan yang disajikan walau hanya sedikit, atau dapat juga minuman dan makanan ditempelkan sedikit ke leher. Bila tamu menolak, katanya akan terjadi hal-hal buruk padanya, mistis..

Aku kembali pulang ke Manyamba. Untuk bersilaturahmi dengan warga di sini. Aku pun berkeliling ke rumah-rumah tetangga untuk bersilaturahmi. Seharian aku berkunjung ke sekitar 10 rumah. Tentu saja berarti aku makan dan minum 10 kali dengan menu yang berbeda-beda. Sigh, need to check my kadar gula darah and cholesterol.. But I’m glad I can meet up with more people this day. In addition, my sister Eki introduce me with some youngsters here. The channel is finally open. The rest is up to me.

Sorenya, aku dan Eki kembali ke rumah Kepala Sekolah di Karema, karena kami akan pergi ke Pelabuhan Palipi. Yeay!!! Yang mengejutkan, di Palipi aku bertemu dengan Atika. Haha, memang jodoh tidak kemana ya.. Tapi sayang, kami datang kepagian, sehingga pemandangan sunset belum muncul. Sebagai gantinya, aku disuguhi pemandangan pegunungan yang tak kalah menariknya.

Senin, 15 November 2010

Minggu baru. Aku mulai bekerja. Hari Senin ini aku berjanji untuk mulai datang ke sekolah. Walaupun belum efektif mengajar, aku merasa tenaga sebagai guru dibutuhkan disana, SDN 39 Manyamba. Sebenarnya aku agak ragu. Sampai saat ini, aku makin merasa bahwa profesi guru adalah berat. Guru adalah ujung tombak yang dapat mengubah murid dari tidak mengerti menjadi mengerti. But well, it’s my obligation anyway. Ready or not here I come.

Pukul 07.00 aku berangkat dari rumah. Sesampainya di sekolah, yang ada hanya Pak Hamid dan Kepala Sekolah. Hari Senin ini tidak ada upacara bendera, karena katanya Kepala Sekolah datang terlambat. Ketika jam pelajaran pertama sudah dimulai, aku bingung. Karena selain kelas 6, semua kelas kosong semua. Waktu itu hatiku tidak tenang. Sedih. Betapa mudahnya para guru meninggalkan kewajibannya di sekolah. Well, memang sebagian besar guru di SD Manyamba adalah guru honorer. Pak Hamid berkata bahwa memang setiap hari keadaannya seperti itu. Guru-guru sering datang pukul 9, atau bahkan tidak datang sama sekali. Pak Hamid adalah satu dari tiga guru PNS yang ada di SD ini disamping guru agama dan Penjas. Berbeda dengan yang lain, sebagai guru, Pak Hamid selalu datang ke sekolah setiap hari tepat waktu. Beliau bertanggung jawab menjadi guru kelas 6.

Akhirnya, diputuskan aku masuk ke kelas 5. Gurunya, Pak Usman, tidak hadir hari itu karena pergi berkebun. Kelas 5 terdiri dari 28 murid. Nanti saat semester 2 aku akan resmi memegang kelas 5. Jadi sepertinya ini adalah latihan yang bagus untuk mulai mengenal karakter-karakter dari murid-murid yang akan kuajar nanti.

Pelajaran hari itu adalah Matematika, Bahasa Indonesia dan Seni Budaya & Keterampilan. Pada pelajaran Matematika, materi sampai pada mencari nilai dari akar pangkat dua. Aku langsung ingat Wildan yang ketika microteaching mengajarkan materi ini. Haha, sungguh aku merasa kualat. Aku tidak terpikir bagaimana cara untuk mengkonstruk pemahaman mengenai materi ini. Dengan berat hati, aku mengikuti metode konvensional yang ada di buku tanpa mengerti benar asal-usul langkah pengerjaan yang aku gunakan.

Pada Bahasa Indonesia, materi hari itu adalah wawancara. Kendala utama yang dihadapi adalah terlalu kentalnya bahasa daerah yang anak-anak itu gunakan. Sehingga penggunaan Bahasa Indonesia tidak selancar anak-anak di kota. Struktur kalimat terkadang masih terbalik-balik. Kata-kata yang digunakan juga terkadang tidak nyambung.

Tapi aku tahu anak-anak itu istimewa. Mereka adalah anak-anak yang sangat aktif, berani dan cerdas. Mereka tidak takut untuk menjawa, tidak takut salah. Cukup berbeda jika dibandingkan dengan anak-anak di kota. Mereka cerdas, karena dengan arahan yang tepat, mereka dapat mengkonstruk pemahaman mereka sendiri. Ini menjadi suatu PR tersendiri untukku agar dapat mengembangkan potensi-potensi tersebut.

Pelajaran terakhir adalah SBK. Anak-anak disini amat sangat gemar bernyanyi. Jadilah aku mengajarkan lagu Terima Kasih Guruku pada mereka. Lagu wajib anak-anak yang biasa Pengajar Muda nyanyikan sewaktu training camp.

Aku tidak keberatan mengajar mereka. Hanya saja aku merasa memang keberadaan Pengajar Muda di sekolah dimanfaatkan oleh guru-guru disana. Mereka seperti mendapat alasan pembenaran bagi mereka untuk tidak masuk sekolah karena ada kami sebagai penggantinya. Hmm, memang untuk tujuan inilah sebenarnya kami dikirim kemari. Tapi entah kenapa rasa miris itu selalu ada..

Minggu, 14 November 2010, 20:35

Hari ini hari Minggu. Saat yang tepat untuk bangun siang dan bermalas-malasan sepagian. Tapi tampaknya mulai saat ini sudah tidak bisa lagi bangun siang. Pagi ini aku bangun jam 6, kesiangan. Namun semangat hari ini membuat rasa ingin bermalas-malasan itu hilang. Hari ini adalah realisasi janji kemarin. Aku akan ke Majene untuk bertemu dengan kelompok guru kursus Bahasa Inggris.

Aku, Atika, Nisa dan Agung yang turun gunung kali ini. Dengan panduan Kak Gusri, kami berangkat ke Majene. Kami menggunakan kendaraan umum yang namanya ptpt (baca : petepete). Ptpt ini sangat eksklusif. Dia hanya muncul sekitar 30 menit sekali. Kata Agung, ptpt ini tidak sampai ke daerah Tatibajo, Ulumanda, tempatnya ditugaskan. Hmm…

Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu sekitar satu jam, tibalah kami di ETC (English Training Centre). Tempatnya sederhana, tapi amat hangat. Semua tutornya ramah dan penuh canda. Kami disambut dengan sangat hangat. Kami dijamu dengan mewah. Sungguh kehormatan. Aku cukup kaget mendengar bahwa mereka mengikuti berita tentang kami. Mereka tahu profil kami. Dan mereka bilang mereka telah menanti kami dan merupakan kehormatan kami berkunjung ke tempat mereka.

Kami merasa sangat tersanjung, karena kami pikir kami bukanlah orang hebat yang harus ditunggu-tunggu seperti itu. Mungkin karena kami satu visi. Ingin memajukan pendidikan daerah setempat. Tapi mereka spesifik untuk Bahasa Inggris.

Mereka adalah sekumpulan anak muda yang memiliki mimpi besar dan tidak takut untuk mewujudkannya. ETC ini adalah realisasi mimpi dari pendirinya, Kak Arhan. Ide mendirikan lembaga kursus Bahasa Inggris bermula ketika beliau mengikuti program Global Exchange pada tahun 2006. Di akhir program, Kak Arhan dan temannya membuat janji. Sepulangnya mereka ke tanah air mereka, mereka harus menjadi guru. Untuk kak Arhan, dia berjanji untuk menjadi guru Bahasa Inggris. Tanpa berbekal latar belakang keguruan ataupun Bahasa Inggris, Kak Arhan mendirikan lembaga Bahasa Inggris ini.

ETC benar-benar dibangun dari nol. Mulai dari meminjam tempat di masjid untuk belajar sampai harus menggunakan biaya sendiri untuk semua pembangunannya. Namun begitu, prestasi tetap mereka ukir dalam keberjalanannya. Mereka telah mengikut berbagai program Bahasa Inggris bertaraf internasional, bahkan menjadi panitianya. Program-program yang mereka buat pun sudah banyak dan tergolong sukses. Di antaranya adalah English Club, yaitu acara kumpul rutin setiap Rabu sore yang diisi siapa saja yang ingin mengobrol dengan Bahasa Inggris, bahkan terkadang menghadirkan native speaker. Selain itu ada METF atau Majene English Teacher Forum, yaitu pertemuan rutin guru-guru Bahasa Inggris untuk mengembangkan dirinya.

Aku melihat adanya kesempatan untuk membuka jalur kerja sama dengan ETC ini. Dan ternyata mereka menyambut dengan sangat antusias. In fact, mereka sangat mengharapkan adanya hubungan kerja sama dengan program Indonesia Mengajar ini.

Setelah kami para Pengajar Muda ditraktir makan siang oleh para tutor ETC (Terima kasiiih…. Sering-sering yaaa), kami kembali ke ETC untuk mulai merundingkan bentuk kerja sama yang dapat kami buat.

Singkatnya, kami menyepakati tiga bentuk program kerja sama. Pertama adalah program English Goes to School. Konsep besarnya adalah mulai mengenalkan Bahasa Inggris ke SD-SD yang kami ajar. Terutama di SD yang belum mengenal Bahasa Inggris seperti SD saya. Bentuk kerja samanya adalah ETC menyediakan bahan ajar berupa modul dan pelatihan mengajar Bahasa Inggris untuk kami. Namun tidak menutup kemungkinan bila dari pihak ETC ingin mengajar juga di SD kami.

Yang kedua adalah program pelatihan guru. Kami menginginkan, program pelatihan guru ini berkesinambungan dalam jangka waktu tertentu. Sehingga guru-guru SD kami (atau mungkin guru-guru sekabupaten) dapat memiliki keterampilan dan pengetahuan tentang mengajar Bahasa Inggris sehingga Bahasa Inggris akan tetap diajarkan biarpun kami pergi nantinya.

Yang ketiga adalah berupa gagasan ide. ETC memiliki acara rutin yaitu English Forum yang diselenggarakan tiga bulan sekali. Dan pada akhir tahun ini mereka akan kembali menyelenggarakan program ini dengan skala seprovinsi. Ide ini akan kami bawa dalam rapat internal Pengajar Muda. Jika kami dapat memberikan kontribusi berarti bagi acara tersebut maka kami akan mempertimbangkan untuk turut terjun.

Yaaah… sekian cerita tentang awal mula kerja sama ETC dengan Indonesia Mengajar.

Kami kembali ke dusun masing-masing. Tapi Agung sepertinya harus bermalam di tempat Gusri. Tidak ada angkutan umum lagi yang naik sampai Ulumanda. Poor him..

Sabtu, 13 November 2010 21:43

My first weekend in Majene. Hari ini aku sudah merencanakan untuk bersantai dirumah sepanjang hari dirumah. Namun, sekitar pukul 08.30 Bapak Kepala Sekolah SD Manyamba datang ke rumah. Beliau menyampaikan undangan untuk pertemuan di kantor camat dengan para Kepala UPTD. Pada undangan tertera acara dimulai pukul 08.30 (duuuh!!). Well, mau tidak mau aku berangkat meninggalkan rumah, dalam keadaan kosong tak terkunci karena seluruh penghuni rumah memang sedang keluar. Ibu menyerahkan tugas kuliah, Bapak di kebun, Faysa dan Ido sekolah. FYI, ibu angkatku ini sedang kuliah mengambil jurusan PGTK. Hebat ya!! Semangatnya belajar tidak surut walau umurnya tak lagi muda. Beliau nampaknya sangat serius menekuni pekerjaannya sebagai guru TK, walaupun itu dia lakukan dengan suka rela.

Di kantor camat, telah hadir stakeholder- stakeholder terkait seperti kepala-kepala UPTD, mulai dari kesehatan sampai pendidikan. Ada juga guru-guru setempat, dari tingkat SD, SMP dan SMA. Hadir pula disana kepala desa dan orang tua angkat dari Pengajar Muda yang bertugas di Kecamatan Tammerodo Sendana. Setelah perkenalan singkat dari kedua pihak, kami melakukan tanya jawab. Seperti telah diingatkan oleh pihak Indonesia Mengajar, ekspektasi dari masyarakat memang sangat tinggi terhadap kami. Dari dua masukan yang dilontarkan oleh pihak stakeholder kecamatan, mereka menanyakan (atau menyatakan) kesediaan kami untuk membantu membangun lingkungan kecamatan Tammerodo sesuai dengan latar belakang pendidikan kami masing-masing. Ada pula yang meminta kami untuk menjadi pengawas pendidikan di sekolah, bukan hanya menjadi guru kelas dan mengajar di kelas. Dengan penuh hati-hati kami pun menanggapi bahwa kami pada dasarnya adalah guru. Walaupun terdapat kegiatan-kegiatan yang harus kami lakukan termasuk juga kegiatan ekstrakurikuler, advokasi pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, namun 60% dari waktu kami akan dialokasikan untuk kepentingan sekolah. Atika memberikan jawaban yang sangat bagus sekali menurutku. “Kami ditugaskan menjadi guru karena guru adalah garda terdepan dari pendidikan. Sehingga yang memegang peranan utama dalam menuntaskan permasalahan pendidikan adalah guru itu sendiri.”

Setelah acara berakhir kami masih tinggal untuk berdiskusi lebih lanjut dengan Bapak Muchlis selaku ketua UPTD Pendidikan untuk Kecamatan Tammerodo. Dari diskusi tersebut kami mendapat masukan yang sangat bagus, yaitu untuk mengadakan pertemuan rutin antara Pengajar Muda dengan beliau. Lets say satu bulan sekali. Disana kami akan mencoba memaparkan permasalahan yang kami temukan di lapangan untuk dapat dicari jalan keluarnya bersama-sama. Terima kasih, Pak!

Selain dengan beliau, aku Atika dan Nisa juga sempat mengobrol dengan salah satu guru dari SD Ulidang, yaitu Kak Gusriawan. Obrolan itu menghasilkan output yang sangat menarik. Ternyata Kak Gusri adalah guru Kursus Bahasa Inggris. Beliau kenal dengan Ketua Majene English Teacher Forum dan ekspat AMINEF yang tengah melakukan program pendidikan di Majene selama satu tahun. Aku dan Atika sangat antusias untuk mengobrol lebih lanjut dengan orang-orang tersebut. Selain karena salah satu misiku adalah untuk mulai mengenalkan Bahasa Inggris ke sekolah, tapi nama AMINEF ini terdengar sangat dekat hubungannya dengan beasiswa S2. Hehehe… Well, akhirnya kami pun mengadakan temu janji esok hari Minggu. Let us see what is going to happen. Hope it will be a good one.

Hari ini ditutup dengan cukup mencengangkan. Setelah pada sore hari aku mengunjungi rumah orang tua nya orang tua angkat ku, malam harinya aku diajak untuk melihat sebuah acara musik yang digelar di depan TK tempat ibu angkatku mengajar. Disana, ternyata yang mengisi panggung sebagian besar adalah anak-anak SD. Paling besar SMP. Dan mereka menyanyi dan bergoyang layaknya penyanyi dangdut dewasa. Lengkap dengan goyangan-goyangan panasnya. Aku benar-benar kaget dan tercengang. Sungguh. Masyarakat disini sangat religious. Bahkan ibuku adalah guru ngaji, tetapi anaknya sendiri naik panggung dan bergoyang dengan hebohnya. Lain daerah memang lain adat dan kebiasaannya, aku sebagai pendatang wajib menghormatinya.

Waktu baru menunjukkan pukul 21.30 aku sudah memutuskan untuk pulang. Meninggalkan keriaan itu di belakang. Untuk menulis. Untuk melihat bintang-bintang. Dalam sunyi.

 


 

 


 

 

 

Selasa, 17 November 2010

Besok idul Adha. Rencana awal kami yang menitikberatkan pada acara persiapan Idul Adha ternyata tidak berjalan seperti yang direncanakan. Karena ternyata di sini Idul Adha tidak dilaksanakan secara istimewa. Dan informasi terakhir kampung ku ini pun tidak ada yang melaksanakan kurban. Jadi setelah solat setiap warga merayakan dengan makan-makan seadanya di rumah lalu dilanjutkan dengan berkunjung ke rumah keluarga untuk silaturahmi.

Anyway, berhubung hari ini adalah hari  Selasa yang berarti hari Pasar, juga bertepatan dengan H-1 Lebaran, sesuai dengan prediksi sedikit sekali murid yang hadir hari ini. Begitu pula dengan gurunya. Dengan penuh keyakinan bahwa murid-murid tidak akan bolos, aku pergi ke sekolah. Sesampainya di sana, aku mendapat aku adalah guru pertama yang tiba di sekolah. Murid pun sedikit.

Tak lama kemudian Pak Hamid datang. Beliau masuk kelas 6 karena memang beliau adalah guru kelasnya. Obrolan kami agak menyedihkan pagi itu.

“Saya masuk kelas mana ya Pak? Guru Cuma berdua ini..”

“Kelas 5 saja lah kalau begitu. Biar kelas kecil saya pulangkan”

Hehehe.. sedih juga ya.. setelah kutengok, ternyata kelas 4 sudah kosong. Mungkin banyak sekali yang bolos, termasuk adik saya Nur Faisya. Well, 5th grade it is.

Di dalam aku disambut oleh sepuluh murid-murid kelas 5. Hari itu ternyata hanya 10 orang yang masuk. Jadilah kami seperti kelompok belajar kecil. Lebih menyenangkan sebenarnya.

Hari ini kami belajar Bahasa Indonesia dan Pengembangan Diri yang kuisi dengan Jarimatika. Hari ini aku mulai menerapkan metode ajar yang pernah diajarkan pak Bobby Hartanto. Beliau mengatakan bahwa semakin banyak jalan ilmu yang masuk (visual, auditori, kinestetik) maka makin mudah ilmu itu diingat oleh murid. Sehingga setiap pelajaran sebisa mungkin aku memanfaatkan ketiga aspek tersebut.

Sehabis istirahat, aku kemudian masuk ke kelas 2 yang digabung dengan kelas 3. Setelah digabung pun jumlah kedua kelas tersebut 14 orang. Haha, yaaah begitulah.. lumayan masih ada yang mau masuk ya. Aku baru pertama kali mengajar kelas kecil sehingga pengalamanku tentang mengajar tematik sangat minim. Well, aku anggap saja ini ajang latihan.

 

Malam ini aku menginap di rumah Kepala Sekolah SD Manyamba, Bapak Muh. Arief. Rumahnya di jalan poros daerah Karema. Sebenarnya aku enggan, karena ingin menghabiskan malam lebaran dan hari H di kampung ku sendiri. It’s a very good opportunity to get to know everyone. Tapi tampaknya tawaran itu bersifat sedikit memaksa. Jadi pergilah aku menginap di rumah Pak Arief.

Beliau punya dua rumah. Dekat kecamatan Tammerodo dan di Karema. Rumah yang di Karema ini adalah rumah panggung. Semua orang di rumahnya sangat sibuk mempersiapkan lebaran esok hari. Terutama para wanita yang sibuk di dapur. Membuat berbagai macam masakan, seperti gogos, ketupat, buras, ayam dan ikan berbagai bumbu.

Pemandangan sunset di pantai luar biasa indah.. I’ll post the pic next time.. Maaf bgtini buru2.. hehe