Archive for September, 2010


Jakarta, 15 September 2010

Dear Readers,

Have  you ever heard about bungee jumping moment? I bet you haven’t. Because it’s a phrase that I created. 😀

Kalau olahraga bungee jumping? Tentu sudah pernah dengar ya?

To remind you, bungee jumping is an activity that involves jumping from a tall structure while connected to a large elastic cord (Wikipedia). Intinya adalah melompat dari ketinggian tertentu dengan bergantung pada tali pengikat yang diikatkan pada kaki kita. Hal yang pasti, bungee jumping adalah  olahraga ekstrim yang dijamin akan memacu adrenalin siapapun yang melakukannya.

Aku belum pernah mencoba bungee jumping, but I would love to, someday.

Banyak kesempatan sebenarnya, tapi entah kenapa aku selalu hesitate. Ada sensasi ngeri yang amat sangat, hanya dengan membayangkan setiap detil dari olahraga itu. Perasaan berdiri di ujung tiang di ketinggian. Perasaan harus melompat terjun bebas ke bawah, menyerahkan diri pada gravitasi bumi. Perasaan tidak aman karena menggantungkan nyawa kita pada seutas tali.

Kalau dalam konteks hidup kita, pernah tidak melakukan sesuatu, yang rasanya kurang lebih sama dengan perasaan saat melakukan bungee jumping tadi? Perasaan takut untuk melakukan sesuatu, karena kita pikir itu terlalu susah, terlalu rumit, terlalu melelahkan, terlalu besar, terlalu berbeda, terlalu ….. (coba diisi sendiri sesuai dengan yang pernah kalian rasakan).

Padahal sebenarnya, seperti bungee jumping, kejadian setelah kita melompat adalah kesenangan, adrenaline rush, kemampuan untuk menjadi lebih berani, pengalaman baru seumur hidup. Dan mungkin banyak hal lainnya. Coba bayangkan bila kita mundur dari tebing itu, kita urungkan niat kita untuk melompat. Kita tidak akan pernah tau apa rasanya terjun kesana. Kita tidak akan pernah bisa menjadi orang yang dengan bangganya berkata, “Aku telah lompat dari tebing tinggi itu kawan. Aku berani mengalahkan takutku”.

Sudah mendapat gambaran apa itu bungee jumping moment sekarang?

Belum? Hehe.. Baiklah. Aku beri contoh ya..

Dalam hidupku sampai saat ini, aku telah mengalami dua kali bungee jumping moment. Yang pertama adalah waktu semester 2 aku duduk di bangku kuliah. Ya, saat itu aku memutuskan untuk memakai jilbab. Ada yang bilang, menggunakan jilbab itu just the matter of appearance. But I know it’s way beyond that, that is why it was my first bungee jumping moment.

Yang kedua, adalah saat aku memberanikan diri untuk mendaftar Indonesia Mengajar. Well, memang aku belum menjalani ini sepenuhnya. Tapi momen loncat dari tebing nya telah aku lewati.  Sekarang tinggal excitement yang menanti di depan mata untuk dijalani.

Aku berpikir, alangkah sayang nya jika hidup kita yang cuma sekali ini dijalani dengan datar-datar saja. Memang ini adalah pilihan setiap orang untuk menentukan arah hidupnya. Tapi, bukankah sayang ya, jika kita selalu mengikuti rasa enggan itu untuk melakukan sesuatu yang kita mau? Apa rasanya ya, di suatu saat di masa depan, yang dapat kita lakukan adalah hanya berkata, “Jika saja..” ?.

Live our life to to the fullest by creating as many excitements as we could handle in our precious life

Advertisements

Share a Lil Bit of Happiness

Jakarta, 13 September 2010

Dear Readers,

Hari ini aku disadarkan kembali bahwa kebahagiaan itu menular. Tidak hanya sakit, menguap dan tertawa. Tapi sesuatu yang bernama kebahagiaan itu benar-benar menular. Dan indahnya, bisa ditularkan.

Hari ini aku mengalami hari yang cukup menyebalkan. Kembali ke rutinitas kantor sementara seluruh keluarga masih dalam rangkaian tur mudik The Sa’doen family 2010. Aku harus naik kereta dari Madiun sendirian untuk langsung masuk ke kantor esok harinya. Oh, kereta yang aku naiki itu delay sampai lebih dari tiga jam, sehingga otomatis aku telat sampai di kantor.

Sepulang dari kantor, seperti biasa aku menunggu bus shuttle yang mengarah langsung ke rumahku di daerah Bintaro, Jakarta Selatan.  Aku sudah hapal sekali dengan tabiat shuttle Trans Bintaro kesayangan ini yang datangnya lamaaaa sekali, sementara shuttle-shuttle lain sudah kerap lewat beberapa kali.

Well, aku pun menunggu.

Aku  menunggu.

1 jam kemudian aku masih menunggu.

Hmm, jangan-jangan shuttle nya ambil cuti ya? driver nya masih mudik sehingga tak ada satu pun yang lewat?

Oke, karena nya aku pun menaikkan standar. Naik taksi sajalah kalau begitu. Yang penting cepat sampai rumah.

Aku menunggu.

Lama kemudian aku masih menunggu taksi yang tak kunjung lewat.

Jikapun ada yang lewat, dengan sombongnya mereka tidak mau berhenti. Setelah menyerah menunggu di halte tersebut, aku pun berpindah masuk ke dalam lobi mal Pondok Indah. Ternyata  disana sudah ada antrian taksi yang cukup panjang.

Aku menunggu.

1 jam kemudian aku masih menunggu.

Oh taksi, wahai shuttle bus, kenapa kalian membuatku amat sangat kesal hari ini??

Rasanya lelaaah sekali. Kaki ini rasanya mau copot. Sungguh rasanya ingin marah-marah saja.

Tapi alih-alih marah, aku tarik napas dalam-dalam, lalu aku ajak mengobrol seorang ibu cantik yang sedang menunggu taksi juga di depan ku. Basa-basi sederhana saja. Sampai ketika taksi datang untuk mengambil penumpang, ibu itu dengan baik hati nya menawarkan untuk berbagi taksi. Wah, benar-benar rejeki ya.

Setelah akhirnya berkenalan, ternyata beliau bekerja di perusahaan yang menjadi klien tempat aku bekerja saat ini. Kami pun mengobrol dengan akrab sampai kerumah beliau.

Even the most simple nice things we do, could actually give impact to other people.

Dengan sapaan sederhana, ibu tersebut mengajak aku untuk berbagi taksi, dan karena aku senang, aku pun mengajak ngobrol bapak supir taksi dan memberinya ekstra tip karena telah berlelah-lelah mengantarku pulang. Aku  berharap aku telah menularkan kebahagiaan pada bapak supir taksi itu, lalu beliau akan meneruskannya pada orang lain lagi. Kebahagiaan ini memiliki butterly effect, dimana suatu tindakan kecil dapat menyebabkan terjadinya serentetan hal-hal lain.

Hal seperti ini bukan baru pertama kali aku alami. Dan semuanya berawal dari hal-hal yang sepele. Senyum.

Jadi teman, bagaimana kalau kita ciptakan butterfly effect kebahagiaan ke sekeliling kita, dengan hal yang paling sederhana yang dapat kita beri, yaitu senyum?

Because the most simple nice things we do, could actually give impact to other people

Letter to a friend

Bimillahirrahmanirrahim..

To my Pal,

After we’ve experienced our more-than-4 years journey together, now the time has come for us to continue our life separately.

But I believe it’s not the end.

I believe it’s a beginning of something bigger.

So let’s grow up together.

Let us be the best that we can be.

Let us live our life to the fullest.

Til we meet again pal, soon! Cheers 🙂

Semua orang punya cara sendiri untuk menjadi besar.

Semua orang punya cara sendiri untuk membangun Indonesia.

Aku bawakan Garuda, lambang negara kita,tempat kita mengabdi sesungguhnya.


Arr

Kalung Garuda

To remind him his true identity walaupun lagi singgah di negeri orang..

Yes.. This letter is dedicated to my best pal, Agung Hikmat, yang akan menjalani petualangannya di Malaysia. Saat ini kami akan menempuh perjalanan yang sangat berbeda. Dan mungkin kami tidak akan bertemu untuk beberapa waktu yang lama.

Oh, dia juga berpesan (dan tolong sekalian publish di blog :D) :

“Rum, write your and your nation’s future”. And so I will. All of us will. Insyaallah. Amin.

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!